Megan Fox? Eh ▲
Hi My name is Mutiarasyaa! Im going to sixteen and SHS too. This is my project blog, so i put my 'absurd' stuff here.
Im a digi-art-work-er and stud-ent. Secuil of Precious Femind Blogger Community
hey, GUE INI GUE. ▲
social media? ask me by my twitter!
When Song Changed into Love
Friday, March 28, 2014 | 1:44 AM | 0 letters


 

Tak terasa sudah enam bulan aku berada di kelas 10. Bulan depan sudah masuk semester dua, dan kabarnya aka nada pemilihan pengurus osis. Tak biasanya pemilihan pengurus osis dilakukan di akhir semester pertama, tapi ya, ini keputusan terbaru dari Pak Ketos, Kak Reza.
Siang ini aku berlari menuju perpustakaan karena ada barangku yang ketinggalan di meja baca. Kulirik jam tanganku, “sepuluh delapan belas, dua menit lagi masuk!” gumamku dalam hati. Setelah berlari sekuat tenaga melewati lorong sekolah, akhirnya sampai juga di pintu perpustakaan. Segera aku mencatatkan namaku di buku absen dan masuk mengambil tas kecil berisi peralatan praktikum.

“Akhirnya..” Aku menghela napas lega, sampai aku teringat akan barang yang mencantol di tanganku, “JAM SEPULUH LEBIH DUA PULUH!!” Aku langsung berlari ke kelas, saking takutnya dihukum Pak Sonny, guru Fisikaku, aku tidak sengaja menyenggol seorang laki-laki yang sedang membaca artikel di madding. 
Tanpa melihat ke belakang aku berteriak, “Eh maaf ya!” dan akupun langsung berlari menuju kelas.

*

“Tuh kan kena batunya gara-gara telat kaan..” Adin tertawa melihatku menulis tugas tambahan dari Pak Sonny.
“Ah ya, what ever..” Aku kembali focus ke tugas sambil menggerutu sendiri.
“Eh Nya, tau ga Atikah udah jadian lho!” Adin membuat sebuah garis di buku fisikaku.
“Mmm..” Aku tak mau kehilangan focus.
“Ah, kamu marah? Jealous? Atau.. Jangan-jangan kamu juga udah jadian yaa? Sama siapa nih? Kok gak pernah bilang-bilang?” Adin mendekatkan wajahnya ke buku fisikaku sambil menatapku dengan wajah yang penasaran.
“Hmm..” Hanya itu yang aku keluarkan, ya, hemat kata..
“Hayoo.. Udah ya? Sama siapa Nya?”
Aku tidak merespon. Soal yang diberikan Pak Sonny benar-benar bikin kepala berkunang-kunang, hingga aku tidak mendengar suara Adin.
“Nya? Anyaa? Sama siapa? Ayo dong kasih tau..” Tangannya mulai mengguncang-guncang tangan kiriku yang masih nyantai aja di pinggir meja.
Karena kehilangan kesabaran, “SAMA MBAH LO! PUAS?!”
“Wah? Sama Mbah gue? Mbah gue kan udah meninggal, kalian ketemu dimana? Wah kamu tante aku doong!” Adin memancarkan sinar-sinar kebahagiaan dari matanya, dan aku segera menyiapkan payung hitam anti tembus.
“Plis deh ah Din, gue mau belajar..”
Akhirnya Adin mengerti dan berhenti mengintrogasiku mengenai hal yang tadi. Aku kembali focus.

*
Sore itu aku sedang menunggu Adin yang tiba-tiba melesat ke kamar mandi di perjalanan keluar gerbang sekolah. Aku menenteng buku Biologi, Matematika, handphone ajaibku, serta sebuah novel terbaru yang baru kubeli kemarin.

“Ish, Adin lama banget sih? Udah jam setengah lima nih ah..” Aku melirik jam di layar handphoneku. Kumasukkan handphone ke saku jaket, menaruh buku di pinggiran pagar dan mengeluarkan sebuah tas jinjing kecil untuk buku. Sambil menunggu, kutata buku-buku itu ke tas jinjing dan membaca beberapa halaman buku novel di bangku yang tersedia di bawah pohon akasia.

Sesekali aku melirik pintu utama, Adin belom kelihatan. Akhirnya aku melanjutkan membaca, tiba-tiba ada seseorang duduk di sebelahku. Aku tak ingin meliriknya untuk sekarang, bab novel yang aku baca sedang asik-asik-nya. Beberapa detik kemudian sosok itu mendehem, aku tidak melirik, mendehem lagi, dan aku masih melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya,
“Kamu Vanya?”

*
“Kamu Vanya?” Ternyata sosok itu adalah laki-laki.
Aku melirik, “I.. Iya..” Wajah laki-laki itu tampak aku kenal tapi agak samar di ingatanku. “Ada apa ya?”
“Ini, ada titipan dari temanmu, Adin.” Laki-laki itu menyodorkan sepucuk kertas kepadaku, aku mengambilnya dan segera membacanya.
Nya, maaf banget! Tadi aku ternyata dijemput sama mamaku, jadi aku pulang duluan. Tadi aku keluar kamar mandi, terus ternyata mamaku udah ngejemput lewat pintu kantin. Awalnya aku mau ngajak kamu buat pulang bareng, cuma tadi kata mamaku, nenekku di Karawang meninggal. Jadi aku nggak sempet ke gerbang utama. Duh Vanya, maafin aku ya ga bisa nganterin kamu ke toko buku buat beli hadiah papa lo. Maaf ya, ntar deh kalo aku udah balik, ntar kita nonton ya. Nonton apa aja deh, mau transformer 11 juga boleh. Sekali lagi map ya Nyeet. Doain biar nenekku masuk surga, amin.
Oh iya, orang yang aku titipin surat ini, cakep lo! Suka? Mention gue di @Adinahee
Sekali lagi maaf ya Nya.. Kiss Bay, Muah! –Anak Onyoeh Se-Nusantara
Aku membacanya dengan perasaan marah, senang, sedih, dan terharu. “Trus ntar yang nganter gue ke toko buku siapa dong, gue kan takut? Udah sore banget lagi, sendiri, gerimis ngenes deh hidup gue!” Vanya berbisik dalam keheningan sekolah. Tak disangka setetes air mata menuruni pipiku, dan disambut sebuah sapu tangan dari sosok pembawa pesan dari Adin. Aku sejenak menatap laki-laki itu, ia tersenyum seakan menyiratkan agar aku memakai sapu tangannya. Ku ambil sapu tangan itu dan menghapus air mataku yang sudah tumpah ke pipiku.

“Makasih..” Aku langsung berdiri dan pamit pulang.
*
“LHO?!” Aku tak menyangka kalau sapu tangan itu terbawa hingga ke rumah. “Aduh! Gimana ini?!” Aku menggenggam sapu tangan milik cowok misterius tadi. Aku menjatuhkan badan ke kasur, dan memeluk bantalku, sejenak berpikir.. AHA! Segera aku ambil handphoneku, mengaktifkan Wi-Fi dan membuka account twitterku,

Aku sekeluarga turut berduka cita ya Din.. :’(@Adinahee

Tweet! Aku menaruh sapu tangan yang dari tadi aku genggam di atas meja pinggir. Kulirik ‘Mention’ Yes, ada balasan!
@avanya_lins iya makasih nyak :’) Gimana, ganteng ngga?
Ganteng sih ga terlalu, tapi ya lumayanlah~ @Adinahee “@avanya_lins :’) Gimana, ganteng ngga?" tapi ya lumayanlah~ @Adindahee RT ng mempertemukan kalian *eha tterku,
badan ke kasur, dan memeluk bantalku, sejenak berpikir.
@avanya_lins Iya dong siapa dulu, yang mempertemukan kalian *eh

Aku di kamar sudah mencium kemana pembicaraan ini akan berlabuh. Segera aku membalas mention Adin.
Eh @Adinahee SAPUTANGAN DIA KEBAWA GUE DONG! *What I’ve To Do?!*

Tak lama Adin membalas mention lebay itu.
@avanya_lins WAH! Kok bisa? Ciee, udah nyatain nih ceritanya? :P
@Adinahee Ngawur! Tadi aku nangis gara2 suratmu ‘n dia nyodorin,terus aku langsung pamit dan cekidot -_-
@avanya_lins CIEE! Kepincut nih say?
@Adinahee Hush! Baru kenal! Besok kamu di Karawang ya? Yah, aku perlu seseorang yang bantuin aku..
@avanya_lins Buat apa? Nembak? CIEE~ XD
@Adinahee *diamkau* buat ngembaliin.. Nama cowok itu siapa sih? Kok gue ga pernah tau,,
@avanya_lins jadi mau nembak? Dia anak Osis, cari aja besok di markas. :D
@Adinahee tinggal ngasih tau nama aja kok susah banget to’ -_-
@avanya_lins kan biar seruu~ XD
@Adinahee Ya deh.. Wish me luck ya! *ini apa*
@avanya_lins cie mau nembak.. :) Ya, I’ll always praying the best for you honey.. :D
@Adinahee Nembak terus pikiranmu! Thanks Darl :3

Aku menutup kolom twitter dari browserku, dan melirik jam, 21.30, Time for sleep!

*
Gema adzan shubuh membangunkanku dari tidur, secara reflex, aku pergi ke kamar mandi mengambil wudhu dan kembali ke kamar untuk shalat shubuh.

Pagi itu aku menyiapkan berbagai perlengkapan untuk pentas seni, di pentas seni nanti aku akan menyanyikan lagu Everything dari Michael Buble dan I Will Reach You dari Westlife. Aku menyiapkan gitar, dan baju panggungku yang dari tadi malam sudah kusertrika dengan rapihnya.

Pagi itu aku disambut mamaku yang sedang asyik nonton infotaiment, ayahku yang asyik cuci mobil, dan kakak laki-lakiku yang sudah nongkrong di dapur bantuin Mbok masak sarapan. Adik kecilku sepertinya masih tidur lelap di box bayi-nya. Aku duduk di kursi ruang tamu, mengeluarkan gitar dan partitur lagu yang akan aku mainkan plus aku nyanyikan nanti sore.

“Youre a falling star, Youre a get away car, youre the line in sand when I go to far, youre a swimming pool on an august day, and youre a perfect thing to say..”

Lagu Everything aku nyanyikan dengan lancar tanpa hambatan yang berarti. Lanjut, salahsatu lagu kesukaanku dari Boyband Westlife.

“Sayin’ I love you, its not the one I want to hear from you. Nothing I want to, not to say but if you only knew. How is that, it would be to show me hpw you feel. ”


Panggilan mama dari ruang makan menghentikanku memetik senar gitar. Aku segera berlari mengejar makan pagiku.

*
Beberapa jam sebelum pementasanku dimulai.

“Hai Nya, gimana sudah hafal lirik dan kunci-kuncinya?” Pak Derry menyapaku dengan senyuman hangat. Ia adalah salahsatu guru yang baikhati di sekolah, ya, dia guru musik di sekolahku.

“Ya Alhamdulillah ya, sudah hafal.. Tinggal menunggu di panggung nanti, bakal grogi atau nggak..” Aku membalas senyuman Pak Derry.

“Ya baguslah kalau begitu, semoga penampilannya lancar ya! Maaf bapak nggak bisa nonton, kebetulan isteri bapak mau melahirkan. Goodluck girl!”

“Makasih pak, semoga kelahiran anak bapak bisa lancar juga ya!” Aku melambaikan tangan kea rah Pak Derry yang mulai menjauh.

Aku duduk kembali di bangku pohon akasia, memetik senar gitarku dengan lemas. Kulihat keadaan sekitar. Hingga aku teringat akan satu hal, saputangan. Kurogoh saku jaket pentasku, tak ada. Aku membuka tas ranselku, tak ada. Akhirnya aku merogoh saku bajuku, “Ah! Ini dia!”

 *
Aku membereskan peralatan pentasku dan menaruhnya di backstage, menitipkannya pada Pricilla, ketua tim acara PENSI. Akupun pergi ke markas OSIS, seperti yang diarahkan oleh Adin.

Tampaknya di markas sedang kosong, namun aku beranikan diri untuk pergi kesana.
“Halo.. Ada orang?” Aku memunculkan wajahku di daun pintu.
Hening..

Aku masuk ke markas dan menemukan beberapa perlengkapan OSIS yang benar-benar keren! Logo OSIS yang dibordir dan dipajang di dinding markas, serta logo sekolah dipampang di setiap sudut markas. “Kantor Idaman..” Ujarku dalam hati.

Sepertinya memang sedang tidak ada kehidupan disini. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dan pergi ke backstage untuk make up. Aku meninggalkan markas, dan sepertinya ada orang yang masuk ketika aku keluar, tapi aku tidak peduli..

 *
Aku melangkah menemui Pricilla. Mencari gadis berkacamata yang dari tadi kalang kabut kesana-kemari.
“Cill, lo liat gitar gue ga?” Aku menanyakan dengan tatapan serius.

Baru beberapa saat Pricilla menanggapi pertanyaanku, “Hah? Yang mana Nya?”
“Yang tadi aku titipin itu lo.. Tadi aku satuin sama tasku, dan tadi pas aku cek, Cuma ada tas aku, GITAR AKU GAK ADA!” Aku menaikkan volume suaraku.
“Waduh! Gimana dong? Dari tadi aku nggak standby disana.. Aku dari tadi bolak-balik depan belakang, ngga sempet ngeliatin barang-barangmu.” Pricilla menunjukkan wajah panik.
“Aah! Harusnya kamu tanggung jawab dong Cill.. Itu kan perlengkapan pentas gue!” Aku mulai berkaca-kaca.
“Aduuh.. Gimana dong?! Kamu bawa partiturnya kan? Nanti aku coba cariin gitar sekolah buat kamu ya? Eh Kak Dito, sini deh!” Pricilla memanggil seorang cowok pendek dan sepertinya anak kelas 11 itu. Sejenak mereka berbincang hingga Kak Dito pergi dari backstage.

Pricilla menyuruhku duduk sejenak sambil menunggu Kak Dito mengambil gitar sekolah.
Sepanjang waktu aku tidak bisa berhenti memikirkan nasib gitarku sera nasih pentas nyanyiku. “Ohh.. Bagaimana ini?” Tak lama Pricilla berlari kearahku “Nya, gimana dong? Gitarnya gak ada..” Wajahnya menyiratkan wajah bersalah yang teramat dalam.
“Ah.. Yasudah lah, gapapa..” Aku menghela napas panjang, “Kapan aku tampil?”
“Habis ini.. Gimana, mau di-cancel atau mau jalan terus aja?” Pricilla menaikkan kacamatanya ke batang hidungnya.
“Mmm…..” Aku berhenti menggumam, “Lanjut!”

 *
Entah bagaimana nasibku bernyanyi ‘saja’ di atas panggung. Ya, penampilanku adalah rangkaian dari acara penutupan Pensi 2012, dan bisa dikatakan, penampilan terakhir..

Ferdi dan Atikah dari atas panggung sudah memanggil namaku, dan Pricilla menyuruhku langsung naik ke panggung.

Jantungku berdegup sangat kencang, ya, ini adalah penampilan pensi pertamaku, tanpa gitar. Aku duduk di kursi tinggi yang sudah disediakan dan menarik mikrofon kedekatku.
Everything, by” Aku teridam melihat sekelilingku, “Michael Buble”

You're a falling star, You're the get away car.
You're the line in the sand when I go too far.
You're the swimming pool, on an August day.
And you're the perfect thing to say.

And you play it cool, but it's kinda cute.
Ah, When you smile at me you know exactly what you do.
Baby don't pretend, that you don't know it's true.
Cause you can see it when I look at you.
And in this crazy life, and through these crazy times
It's you, it's you, You make me sing.
You're every line, you're every word, you're everything.

You're a carousel, you're a wishing well,
And you light me up, when you ring my bell.
You're a mystery, you're from outer space,
You're every minute of my everyday.
. Mmm..”


Sebuah gitar tersodor dari bawah panggung untukku. Ya, laki-laki itu lagi. Aku berbisik, “Makasih..” Kembali aku ke kursi dan memangku gitarku, memetik gitar dan melanjutkan nyanyianku.

And I can't believe, uh that I'm your lady
And I get to kiss you baby just because I can.
Whatever comes our way, ah we'll see it through,
And you know that's what our love can do.

And in this crazy life, and through these crazy times
It's you, it's you, You make me sing
You're every line, you're every word, you're everything.

So, La, La, La, La, La, La, La
So, La, La, La, La, La, La, La


And in this crazy life, and through these crazy times
It's you, it's you, You make me sing.
You're every line, you're every word, you're everything.
You're every song, and I sing along.
'Cause you're my everything.
Yeah, yeah

So, La, La, La, La, La, La, La
So, La, La, La, La, La, La, La, La, La, La, La


Aku memberi pernghormatan kepada penonton. Menatap lurus ke arah laki-laki tadi yang telah mengembalikan gitarku, sepertinya ia sedang asyik dengan partitur dan gitarnya. Seperti rundown yang telah ditentukan, aku duduk menunggu Atikah naik ke panggung dan menutup acara. Tak disangka sebelum Atikah naik, laki-laki itu naik ke panggung, menenteng gitarnya dan duduk di kursi cadangan.

“Ha?” Aku memandang bingung kea rah laki-laki itu yang tiba-tiba naik ke panggung tanpa perjanjian apapun. DI RUNDOWN NGGA GINI LOH! Gerutuku dalam hati.
 Ia tersenyum kepadaku, “Lagu apa?”
Aku terdiam, “Hm.. More Than Words.” Jawabku ragu.
“Okay, let’s duet..” Bisiknya.

Seketika aku membeku, masih memandang wajahnya yang tersenyum tanpa keraguan. Aku mengangguk setuju. Atikah dan Ferdi sudah menutup acara, dan jantungku berdegup semakin kencang. “Kamu tahu kuncinya?”
Laki-laki itu mengangguk, “Saya penggemar Westlife..” Aku tersenyum membalas, “Hmm.. Lets do the performance!”
“More Than Words, Westlife and Extreme.” Aku menoleh ke arah laki-laki yang duduk di dekatku, ia membalasnya dengan senyuman lembut. Kupetik satu buah senar dan memulai menyanyikannya.

Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
'Cause I'd already know

What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you
….”

Lega sudah lagu terakhir aku mainkan. Kami berdua memberi hormat kepada penonton dan turun panggung, banyak penonton yang bersorak bahagia meminta tampil ulang. Di backstage, aku langsung menyambar ranselku, memasukkan partitur dan gitarku, hingga aku teringat!
*
“Saya Reza, Fahreza Aditya. Kamu?” Ia mengulurkan tangan.
Aku jabat tangannya, “Vanya Arestya. Tadi keren banget!” Aku menampilkan senyum tiga jari.
“Yeah! I knew we can!” Ia melepaskan jabatan tangannya. Tak disangka, mamaku dari tadi sudah menunggu di gerbang sekolah. Memang hari ini kegiatan belajar diliburkan seusai UAS kemarin.
“Maaf ya, aku pulang duluan!” Aku menggendong tas gitarku, “Eh, ini sapu tangan kamu. Makasih ya.. Udah aku cuci kok, jadi gak ada bekas air mata aku. Tenang.. Ya udah ya, daa!” Aku melambaikan tangan kepada Reza, laki-laki anak osis yang tampaknya sudah mencuri hatiku.

REZA POV
Aku setengah tidak percaya bisa tampil secara tiba-tiba bersama seorang gadis tidak dikenal itu, dan menyanyikan lagu yang, cukup romantis itu. Seusai tampil aku mengulurkan tangan kepada gadis itu dan ia menerimanya.
“Vanya Arestya.” Nama itu aku ingat selalu di pikiranku. Seperginya ia dengan ibunya, aku duduk di bangku pohon akasia. Keadaan sekolah mulai sepi, aku menunggu kakakku menjemput, namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda kakakku itu telah datang. “Hahh..” Aku menghela napas panjang. "Jika ia tidak peka, mungkin ia tidak tahu kalau lagu itu memang kunyanyikan untuknya."

*
“Za, permainan lo kemaren di pensi keren bangeet! Kalian emang berkolaborasi?” Tanya Gita, teman sebangkuku.
“Hah? Yang mana? Nyanyi? Oh, Cuma kebetulan, ternyata hasilnya bisa bagus..” Aku menyengir kepada Gita. Syahrul yang ada di depanku menatapku curiga.
“Biasa aja kali tatapannyaa!” Aku menutup wajah Syahrul dengan tangan kananku.
“Cie, ada getaran ya?” Syahrul mengerling kepadaku.
“Baru kenal kemaren juga..” Aku menaikkan alis kiriku.
“FIRST SIGHT LOVE nieee!” Gita menyeringai kepadaku.
“Plis deh ah..” Aku berusaha menurupi wajahku dengan buku IPS.
“Jadi bener nih? Aihh..”
“Nggak ada apa-apa kok.. Tenang aja.. Eh Rul, ngomong-ngomong kabarnya Wayan gimana di sekolah barunya?” Aku emngalihkan topic pembicaraan.
“Eum, terakhir aku email sih, yaa… Dia nggak betah.” Syahrul menatapku dengan wajah penuh keyakinan.
“Tuh kan.. Udah gue bilang, sekolah terbaik itu disini bukan disono!” Gita langsung menunjuk kea rah luar dengan penuh amarah yangberkobar-kobar. “Yaa.. Semoga aja dia balik lagi! Hehe..” Gita kembali duduk dan memberikan tatapan penuh arti kepadaku dan Syahrul.
“Cie yang mantan mah beda..” Aku berbisik kepada Syahrul, dan Gita tiba-tiba melemparkan buku komik conan yang sedang ia baca ke wajahku.
“Dasar!” Gita tertawa ketika melihatku kesakitan karena ulah jailnya. Beuh.. Dasar cewek! Gerutuku dalam hati.

*
Vanya POV
Jam menunjukkan jam tiga lebih dua puluh sore. Aku segera membereskan barang-barangku dan melangkah pergi ke luar kelas. Ekskul hari ini cukup menguras tenaga, Basket ditambah Manga Class telah membuat tenagaku terkuras habis.
Rencananya sore ini mama mengajakku pergi ke Mall untuk membeli beberapa peralatan dapur serta ATK ku yang sudah mulai habis. Aku menunggu di gerbang sekolah, sesekali melirik lantai dua yang tampaknya sudah kosong. Entah apa yang membuatku terus melirik lantai itu, sepertinya ada sesuatu yang menarikku untuk pergi kesana. Aku melihat ke jalan, “Mama belum datang.” Aku menitipkan barang-barangku ke pos satpam dan melangkah pergi ke lantai dua.

*
Sekolah sudah mulai sepi. Hanya terdengar suara bola yang ditendang dari kaki-kaki anak ekskul futsal yang masih nongkrong di sekolah. Di depan tangga, aku terdiam. Baru kali ini aku naik ke lantai dua sendirian. Kelasku ada di lantai bawah dan apabila pergi ke lantai dua, pasti selalu ditemani Adin atau temanku yang lainnya.

Angin dingin membuat bulu kudukku berdiri. Aku ingin kembali ke pos satpam, tapi aku tak bisa merubah posisi badanku. Tanpa kusadari aku sudah ada di lantai dua. Lorong lantai dua begitu gelap di sore hari seperti ini. Aku melangkahkan kaki, melewati kelas-kelas yang sudah kosong. Kursi, meja, dan barang-barang di dalamnya sangat rapih. “Tak seperti kelasku..” Gumamku dalam hati.
Semakin lama aku berjalan, angin dingin semakin sering melewati bahuku. Tibalah aku di ujung lorong. Di sebelah kiriku ada sebuah tangga yang menuju lantai tiga, dimana gudang berada. Aku terdiam melihat tangga kayu tua yang masih kokoh itu. Tiba-tiba kilat menyambar dan membatku ketakutan. Aku lantas berbalik dan menemukan seseorang di belakangku.

“Pak Muh? Ngapain kesini?” Aku bertanya kepada Pak Muh, salahsatu penjaga sekolah.
“Itu ada yang jemput.” Jawabnya singkat.
“Oh, ibu-ibu kan?” Aku bertanya lagi.
“Bukan, bapak-bapak Van. Coba aca cek ke bawah.” Sesegera mungkin aku turun ke lantai satu dan berlari ke gerbang sekolah. Disana tampak Papa yang sedang melambai kepadaku. Kuraih tas dan langsung masuk ke mobil. We’re going to MALL! ATK, I’m coming!

*
Hari ini hari Minggu, hari dimana aku akan main ke rumah Adin. Ya, hitung-hitung sudah 4 hari nggak ketemuan. Rencananya kami akan pergi ke salahsatu toko perintilan-perintilan di pusat kota. Ya, Adin akan membuat beberapa hadiah kecil untuk dibagikan ke kakak kelasnya yang sebentar lagi jadi alumni SMA. Niat juga dia, ujarku dalam hati.
           
     Tok tok tok ADIII~N

Pintu dibukakan oleh seorang bocah laki-laki yang mulutnya berlmuran cokelat.
“Haloo Alee! Ada Mbak Adinnya ga?” Aku melepas sepatuku dan masuk ke ruang tamu.
“Kalo gasalah mbak Adinnya masih makan tuh. Tunggu dulu ya Vanya.” Bocah itu pergi melenggang ke ruangan tengah.
“Dasar gak sopan manggil aku Vanya!” gerutuku dalam hati. Setelah beberapa menit menunggu, si Mbok Adin pun datang membawa dua gelas es campur.
“Aloo Nyaa! Maaf lama, tadi gue telat bangun, makanya makanpun jadi telat..” Adin memberikanku gelas berisi berbagai macam agar-agar dan teman-temannya.
“Yah elo, kebiasaan! Iya gapapa.. Ngomong-ngomong lo mau cerita apa? Di telpon ngebet banget nyuruh gue kesini!” Aku membuka catatan kecilku bersiap menjadi seorang wartawan.
“Gak usah jadi wartawan gitu deh.. Gini, gimana ya ceritanya..”
“Apaan sih, jangan banyak titik deh, langsung ke poinnya gitu!” Aku sudah tidak sabaran lagi.
“Guee……..” Adin berhenti, “ Lagi suka sama someone—“
“WHAAATT?!! Kamu beneran? Tak kusangka Adin yang selama ini suka sama ceweek terus akhirnya suka sama cowok juga!”
“HUSH! Lo kira gue lesbi apa?” Adin memasukkan sesendok papaya ke mulutnya.
“Iya deh.. Namanya siapa? Gue tau, pasti kakak kelas kan?!” Aku menebak-nebak.
“KOK ELO TAU SIH?!” Adin terlonjak.
“Kan gue mama loren Din..” aku melemparkan tatapan mistis kea rah Adin.
“Hahaha! Lo pasti ngipnotis gue kan?”
“Tau aja deh eloo. Gue kan peramal professional!”
“Hueeek! Gini, namanyaaa dari huruf A”
Aku terdiam, siapa kakak kelas yang depannya A? Kelas 11 ato 12 ya? “ALDOO YAA?” Jawabku asal.
“SALAAH! Lagipula siapa itu ALDO? ALDO Cuma ada di kelas kita Nya..”
“Oke, pasti si AFRO ya?” Adin menggeleng. Sejenak suasana hening.
Akhirnya Adin membuka mulutnya lagi, “Ya udah deh gue kasih tau aja, gue suka samaaa… ADINAHEE!”
“HEUU! Oya, satu kata dari A buat elo, ASYEEEMM!! Serius ah, siapa namanya!”
“ANDROMEDA..”
“Itu bintang say!”
“Emang itu kok namanya!”
GLEK, aku terdiam tak percaya. Andro? Tak mau membuat Adin curiga aku langsung melanjutkan percakapan. “BENERAN? KAK ANDRO YANG KECE BADAI ITUU?” Adin mengangguk pasti.
“CIEEEH! Ayo di SHOOT Din!” Aku langsung bersemangat. Kalo soal begini, aku memang jagonya mak comblang.
“Ngga ah, malu.”
“Caelaaah! Ntar gue bantuin deh!” Aku masih berkeras. Syyebb perasaan itu dating kembali.
“Eh gue bisa sendiri keles..Tapi, gue gatau caranya Nya..” Adin terduduk lesu.
“Soal itu kita pecahin nanti, sekarang gue pengen tau kenapa lo bisa suka sama cowo badai itu?” Aku membenarkan posisi dudukku, menunggu Adin menceritakan segalanya. Seiring dengan posisi dudukku yang semakin nyaman, hatiku merasakan perasaan itu, perasaan yang sudah terkubur, lama, lama sekali.

to be continued.

Labels: , ,


Older Post | Newer Post