When Song Changed into Love
Tak terasa sudah enam
bulan aku berada di kelas 10. Bulan depan sudah masuk semester dua, dan
kabarnya aka nada pemilihan pengurus osis. Tak biasanya pemilihan pengurus osis
dilakukan di akhir semester pertama, tapi ya, ini keputusan terbaru dari Pak Ketos,
Kak Reza.
Siang ini aku berlari
menuju perpustakaan karena ada barangku yang ketinggalan di meja baca. Kulirik
jam tanganku, “sepuluh delapan belas, dua menit lagi masuk!” gumamku dalam
hati. Setelah berlari sekuat tenaga melewati lorong sekolah, akhirnya sampai
juga di pintu perpustakaan. Segera aku mencatatkan namaku di buku absen dan
masuk mengambil tas kecil berisi peralatan praktikum.
“Akhirnya..” Aku
menghela napas lega, sampai aku teringat akan barang yang mencantol di
tanganku, “JAM SEPULUH LEBIH DUA PULUH!!” Aku langsung berlari ke kelas, saking
takutnya dihukum Pak Sonny, guru Fisikaku, aku tidak sengaja menyenggol seorang
laki-laki yang sedang membaca artikel di madding.
Tanpa melihat ke
belakang aku berteriak, “Eh maaf ya!” dan akupun langsung berlari menuju kelas.
*
“Tuh kan kena batunya
gara-gara telat kaan..” Adin tertawa melihatku menulis tugas tambahan dari Pak
Sonny.
“Ah ya, what ever..”
Aku kembali focus ke tugas sambil menggerutu sendiri.
“Eh Nya, tau ga Atikah
udah jadian lho!” Adin membuat sebuah garis di buku fisikaku.
“Mmm..” Aku tak mau
kehilangan focus.
“Ah, kamu marah?
Jealous? Atau.. Jangan-jangan kamu juga udah jadian yaa? Sama siapa nih? Kok
gak pernah bilang-bilang?” Adin mendekatkan wajahnya ke buku fisikaku sambil
menatapku dengan wajah yang penasaran.
“Hmm..” Hanya itu yang
aku keluarkan, ya, hemat kata..
“Hayoo.. Udah ya? Sama
siapa Nya?”
Aku tidak merespon.
Soal yang diberikan Pak Sonny benar-benar bikin kepala berkunang-kunang, hingga
aku tidak mendengar suara Adin.
“Nya? Anyaa? Sama
siapa? Ayo dong kasih tau..” Tangannya mulai mengguncang-guncang tangan kiriku
yang masih nyantai aja di pinggir meja.
Karena kehilangan
kesabaran, “SAMA MBAH LO! PUAS?!”
“Wah? Sama Mbah gue?
Mbah gue kan udah meninggal, kalian ketemu dimana? Wah kamu tante aku doong!”
Adin memancarkan sinar-sinar kebahagiaan dari matanya, dan aku segera
menyiapkan payung hitam anti tembus.
“Plis deh ah Din, gue
mau belajar..”
Akhirnya Adin mengerti
dan berhenti mengintrogasiku mengenai hal yang tadi. Aku kembali focus.
*
Sore itu aku sedang
menunggu Adin yang tiba-tiba melesat ke kamar mandi di perjalanan keluar
gerbang sekolah. Aku menenteng buku Biologi, Matematika, handphone ajaibku,
serta sebuah novel terbaru yang baru kubeli kemarin.
“Ish, Adin lama banget
sih? Udah jam setengah lima nih ah..” Aku melirik jam di layar handphoneku.
Kumasukkan handphone ke saku jaket, menaruh buku di pinggiran pagar dan
mengeluarkan sebuah tas jinjing kecil untuk buku. Sambil menunggu, kutata
buku-buku itu ke tas jinjing dan membaca beberapa halaman buku novel di bangku
yang tersedia di bawah pohon akasia.
Sesekali aku melirik
pintu utama, Adin belom kelihatan. Akhirnya aku melanjutkan membaca, tiba-tiba
ada seseorang duduk di sebelahku. Aku tak ingin meliriknya untuk sekarang, bab
novel yang aku baca sedang asik-asik-nya. Beberapa detik kemudian sosok itu
mendehem, aku tidak melirik, mendehem lagi, dan aku masih melakukan hal yang
sama. Hingga akhirnya,
“Kamu Vanya?”
*
“Kamu Vanya?” Ternyata
sosok itu adalah laki-laki.
Aku melirik, “I..
Iya..” Wajah laki-laki itu tampak aku kenal tapi agak samar di ingatanku. “Ada
apa ya?”
“Ini, ada titipan dari
temanmu, Adin.” Laki-laki itu menyodorkan sepucuk kertas kepadaku, aku
mengambilnya dan segera membacanya.
Nya,
maaf banget! Tadi aku ternyata dijemput sama mamaku, jadi aku pulang duluan.
Tadi aku keluar kamar mandi, terus ternyata mamaku udah ngejemput lewat pintu
kantin. Awalnya aku mau ngajak kamu buat pulang bareng, cuma tadi kata mamaku,
nenekku di Karawang meninggal. Jadi aku nggak sempet ke gerbang utama. Duh
Vanya, maafin aku ya ga bisa nganterin kamu ke toko buku buat beli hadiah papa
lo. Maaf ya, ntar deh kalo aku udah balik, ntar kita nonton ya. Nonton apa aja
deh, mau transformer 11 juga boleh. Sekali lagi map ya Nyeet. Doain biar
nenekku masuk surga, amin.
Oh
iya, orang yang aku titipin surat ini, cakep lo! Suka? Mention gue di @Adinahee
Sekali
lagi maaf ya Nya.. Kiss Bay, Muah! –Anak Onyoeh Se-Nusantara
Aku membacanya dengan perasaan
marah, senang, sedih, dan terharu. “Trus ntar yang nganter gue ke toko buku
siapa dong, gue kan takut? Udah sore banget lagi, sendiri, gerimis ngenes deh
hidup gue!” Vanya berbisik dalam keheningan sekolah. Tak disangka setetes air
mata menuruni pipiku, dan disambut sebuah sapu tangan dari sosok pembawa pesan
dari Adin. Aku sejenak menatap laki-laki itu, ia tersenyum seakan menyiratkan
agar aku memakai sapu tangannya. Ku ambil sapu tangan itu dan menghapus air
mataku yang sudah tumpah ke pipiku.
“Makasih..” Aku
langsung berdiri dan pamit pulang.
*
“LHO?!” Aku tak
menyangka kalau sapu tangan itu terbawa hingga ke rumah. “Aduh! Gimana ini?!”
Aku menggenggam sapu tangan milik cowok misterius tadi. Aku menjatuhkan badan
ke kasur, dan memeluk bantalku, sejenak berpikir.. AHA! Segera aku ambil
handphoneku, mengaktifkan Wi-Fi dan membuka account twitterku,
Aku sekeluarga turut berduka cita ya Din.. :’(@Adinahee
Tweet! Aku menaruh
sapu tangan yang dari tadi aku genggam di atas meja pinggir. Kulirik ‘Mention’
Yes, ada balasan!
@avanya_lins iya
makasih nyak :’) Gimana, ganteng ngga?
Ganteng sih ga terlalu, tapi ya lumayanlah~ @Adinahee “@avanya_lins :’) Gimana, ganteng ngga?" tapi ya lumayanlah~ @Adindahee RT ng
mempertemukan kalian *eha tterku,
badan ke kasur, dan
memeluk bantalku, sejenak berpikir.
@avanya_lins Iya
dong siapa dulu, yang mempertemukan kalian *eh
Aku di kamar sudah
mencium kemana pembicaraan ini akan berlabuh. Segera aku membalas mention Adin.
Eh @Adinahee
SAPUTANGAN DIA KEBAWA GUE DONG! *What I’ve To Do?!*
Tak lama Adin membalas
mention lebay itu.
@avanya_lins WAH!
Kok bisa? Ciee, udah nyatain nih ceritanya? :P
@Adinahee
Ngawur! Tadi aku nangis gara2 suratmu ‘n dia nyodorin,terus aku langsung pamit
dan cekidot -_-
@avanya_lins CIEE!
Kepincut nih say?
@Adinahee Hush!
Baru kenal! Besok kamu di Karawang ya? Yah, aku perlu seseorang yang bantuin
aku..
@avanya_lins Buat
apa? Nembak? CIEE~ XD
@Adinahee *diamkau*
buat ngembaliin.. Nama cowok itu siapa sih? Kok gue ga pernah tau,,
@avanya_lins jadi
mau nembak? Dia anak Osis, cari aja besok di markas. :D
@Adinahee
tinggal ngasih tau nama aja kok susah banget to’ -_-
@avanya_lins kan
biar seruu~ XD
@Adinahee Ya deh..
Wish me luck ya! *ini apa*
@avanya_lins cie
mau nembak.. :) Ya, I’ll always praying the best for you honey.. :D
@Adinahee Nembak
terus pikiranmu! Thanks Darl :3
Aku menutup kolom
twitter dari browserku, dan melirik jam, 21.30, Time for sleep!
*
Gema adzan shubuh
membangunkanku dari tidur, secara reflex, aku pergi ke kamar mandi mengambil
wudhu dan kembali ke kamar untuk shalat shubuh.
Pagi itu aku
menyiapkan berbagai perlengkapan untuk pentas seni, di pentas seni nanti aku
akan menyanyikan lagu Everything dari Michael Buble dan I Will Reach You dari
Westlife. Aku menyiapkan gitar, dan baju panggungku yang dari tadi malam sudah
kusertrika dengan rapihnya.
Pagi itu aku disambut
mamaku yang sedang asyik nonton infotaiment, ayahku yang asyik cuci mobil, dan
kakak laki-lakiku yang sudah nongkrong di dapur bantuin Mbok masak sarapan.
Adik kecilku sepertinya masih tidur lelap di box bayi-nya. Aku duduk di kursi
ruang tamu, mengeluarkan gitar dan partitur lagu yang akan aku mainkan plus aku
nyanyikan nanti sore.
“Youre a falling star,
Youre a get away car, youre the line in sand when I go to far, youre a swimming
pool on an august day, and youre a perfect thing to say..”
Lagu Everything aku
nyanyikan dengan lancar tanpa hambatan yang berarti. Lanjut, salahsatu lagu
kesukaanku dari Boyband Westlife.
“Sayin’ I love you,
its not the one I want to hear from you. Nothing I want to, not to say but if
you only knew. How is that, it would be to show me hpw you feel. ”
Panggilan mama dari
ruang makan menghentikanku memetik senar gitar. Aku segera berlari mengejar
makan pagiku.
*
Beberapa jam sebelum
pementasanku dimulai.
“Hai Nya, gimana sudah
hafal lirik dan kunci-kuncinya?” Pak Derry menyapaku dengan senyuman hangat. Ia
adalah salahsatu guru yang baikhati di sekolah, ya, dia guru musik di
sekolahku.
“Ya Alhamdulillah ya,
sudah hafal.. Tinggal menunggu di panggung nanti, bakal grogi atau nggak..” Aku
membalas senyuman Pak Derry.
“Ya baguslah kalau
begitu, semoga penampilannya lancar ya! Maaf bapak nggak bisa nonton, kebetulan
isteri bapak mau melahirkan. Goodluck girl!”
“Makasih pak, semoga
kelahiran anak bapak bisa lancar juga ya!” Aku melambaikan tangan kea rah Pak
Derry yang mulai menjauh.
Aku duduk kembali di
bangku pohon akasia, memetik senar gitarku dengan lemas. Kulihat keadaan
sekitar. Hingga aku teringat akan satu hal, saputangan. Kurogoh saku jaket
pentasku, tak ada. Aku membuka tas ranselku, tak ada. Akhirnya aku merogoh saku
bajuku, “Ah! Ini dia!”
*
Aku membereskan
peralatan pentasku dan menaruhnya di backstage, menitipkannya pada Pricilla,
ketua tim acara PENSI. Akupun pergi ke markas OSIS, seperti yang diarahkan oleh
Adin.
Tampaknya di markas
sedang kosong, namun aku beranikan diri untuk pergi kesana.
“Halo.. Ada orang?”
Aku memunculkan wajahku di daun pintu.
Hening..
Aku masuk ke markas
dan menemukan beberapa perlengkapan OSIS yang benar-benar keren! Logo OSIS yang
dibordir dan dipajang di dinding markas, serta logo sekolah dipampang di setiap
sudut markas. “Kantor Idaman..” Ujarku dalam hati.
Sepertinya memang sedang
tidak ada kehidupan disini. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dan pergi ke
backstage untuk make up. Aku meninggalkan markas, dan sepertinya ada orang yang
masuk ketika aku keluar, tapi aku tidak peduli..
*
Aku melangkah menemui
Pricilla. Mencari gadis berkacamata yang dari tadi kalang kabut kesana-kemari.
“Cill, lo liat gitar
gue ga?” Aku menanyakan dengan tatapan serius.
Baru beberapa saat
Pricilla menanggapi pertanyaanku, “Hah? Yang mana Nya?”
“Yang tadi aku titipin
itu lo.. Tadi aku satuin sama tasku, dan tadi pas aku cek, Cuma ada tas aku,
GITAR AKU GAK ADA!” Aku menaikkan volume suaraku.
“Waduh! Gimana dong?
Dari tadi aku nggak standby disana.. Aku dari tadi bolak-balik depan belakang,
ngga sempet ngeliatin barang-barangmu.” Pricilla menunjukkan wajah panik.
“Aah! Harusnya kamu
tanggung jawab dong Cill.. Itu kan perlengkapan pentas gue!” Aku mulai
berkaca-kaca.
“Aduuh.. Gimana dong?!
Kamu bawa partiturnya kan? Nanti aku coba cariin gitar sekolah buat kamu ya? Eh
Kak Dito, sini deh!” Pricilla memanggil seorang cowok pendek dan sepertinya
anak kelas 11 itu. Sejenak mereka berbincang hingga Kak Dito pergi dari
backstage.
Pricilla menyuruhku
duduk sejenak sambil menunggu Kak Dito mengambil gitar sekolah.
Sepanjang waktu aku
tidak bisa berhenti memikirkan nasib gitarku sera nasih pentas nyanyiku. “Ohh..
Bagaimana ini?” Tak lama Pricilla berlari kearahku “Nya, gimana dong? Gitarnya
gak ada..” Wajahnya menyiratkan wajah bersalah yang teramat dalam.
“Ah.. Yasudah lah,
gapapa..” Aku menghela napas panjang, “Kapan aku tampil?”
“Habis ini.. Gimana,
mau di-cancel atau mau jalan terus aja?” Pricilla menaikkan kacamatanya ke
batang hidungnya.
“Mmm…..” Aku berhenti
menggumam, “Lanjut!”
*
Entah bagaimana
nasibku bernyanyi ‘saja’ di atas panggung. Ya, penampilanku adalah rangkaian
dari acara penutupan Pensi 2012, dan bisa dikatakan, penampilan terakhir..
Ferdi dan Atikah dari
atas panggung sudah memanggil namaku, dan Pricilla menyuruhku langsung naik ke
panggung.
Jantungku berdegup
sangat kencang, ya, ini adalah penampilan pensi pertamaku, tanpa gitar. Aku
duduk di kursi tinggi yang sudah disediakan dan menarik mikrofon kedekatku.
“Everything, by” Aku teridam melihat sekelilingku, “Michael Buble”
“You're a falling star, You're
the get away car.
You're the line in the sand when I go too far.
You're the swimming pool, on an August day.
And you're the perfect thing to say.
And you play it cool, but it's kinda cute.
Ah, When you smile at me you know exactly what you do.
Baby don't pretend, that you don't know it's true.
Cause you can see it when I look at you.
And in this crazy life, and through these crazy times
It's you, it's you, You make me sing.
You're every line, you're every word, you're everything.
You're a carousel, you're a wishing well,
And you light me up, when you ring my bell.
You're a mystery, you're from outer space,
You're every minute of my everyday.. Mmm..”
Sebuah gitar tersodor
dari bawah panggung untukku. Ya, laki-laki itu lagi. Aku berbisik, “Makasih..”
Kembali aku ke kursi dan memangku gitarku, memetik gitar dan melanjutkan
nyanyianku.
“And I can't believe, uh that
I'm your lady
And I get to kiss you baby just because I can.
Whatever comes our way, ah we'll see it through,
And you know that's what our love can do.
And in this crazy life, and through these crazy times
It's you, it's you, You make me sing
You're every line, you're every word, you're everything.
So, La, La, La, La, La, La, La
So, La, La, La, La, La, La, La
And in
this crazy life, and through these crazy times
It's you, it's you, You make me sing.
You're every line, you're every word, you're everything.
You're every song, and I sing along.
'Cause you're my everything.
Yeah, yeah
So, La, La, La, La, La, La, La
So, La, La, La, La, La, La, La, La, La, La, La”
Aku memberi
pernghormatan kepada penonton. Menatap lurus ke arah laki-laki tadi yang telah
mengembalikan gitarku, sepertinya ia sedang asyik dengan partitur dan gitarnya.
Seperti rundown yang telah ditentukan, aku duduk menunggu Atikah naik ke
panggung dan menutup acara. Tak disangka sebelum Atikah naik, laki-laki itu
naik ke panggung, menenteng gitarnya dan duduk di kursi cadangan.
“Ha?” Aku memandang
bingung kea rah laki-laki itu yang tiba-tiba naik ke panggung tanpa perjanjian
apapun. DI RUNDOWN NGGA GINI LOH! Gerutuku dalam hati.
Ia tersenyum kepadaku,
“Lagu apa?”
Aku terdiam, “Hm..
More Than Words.” Jawabku ragu.
“Okay, let’s duet..”
Bisiknya.
Seketika aku membeku,
masih memandang wajahnya yang tersenyum tanpa keraguan. Aku mengangguk setuju.
Atikah dan Ferdi sudah menutup acara, dan jantungku berdegup semakin kencang.
“Kamu tahu kuncinya?”
Laki-laki itu
mengangguk, “Saya penggemar Westlife..” Aku tersenyum membalas, “Hmm.. Lets do
the performance!”
“More Than Words,
Westlife and Extreme.” Aku menoleh ke arah laki-laki yang duduk di dekatku, ia
membalasnya dengan senyuman lembut. Kupetik satu buah senar dan memulai
menyanyikannya.
“Saying
I love you
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
'Cause I'd already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you ….”
Lega sudah lagu
terakhir aku mainkan. Kami berdua memberi hormat kepada penonton dan turun
panggung, banyak penonton yang bersorak bahagia meminta tampil ulang. Di
backstage, aku langsung menyambar ranselku, memasukkan partitur dan gitarku,
hingga aku teringat!
*
“Saya Reza, Fahreza
Aditya. Kamu?” Ia mengulurkan tangan.
Aku jabat tangannya,
“Vanya Arestya. Tadi keren banget!” Aku menampilkan senyum tiga jari.
“Yeah! I knew we can!”
Ia melepaskan jabatan tangannya. Tak disangka, mamaku dari tadi sudah menunggu
di gerbang sekolah. Memang hari ini kegiatan belajar diliburkan seusai UAS
kemarin.
“Maaf ya, aku pulang
duluan!” Aku menggendong tas gitarku, “Eh, ini sapu tangan kamu. Makasih ya..
Udah aku cuci kok, jadi gak ada bekas air mata aku. Tenang.. Ya udah ya, daa!”
Aku melambaikan tangan kepada Reza, laki-laki anak osis yang tampaknya sudah
mencuri hatiku.
REZA POV
Aku setengah tidak
percaya bisa tampil secara tiba-tiba bersama seorang gadis tidak dikenal itu,
dan menyanyikan lagu yang, cukup romantis itu. Seusai tampil aku mengulurkan
tangan kepada gadis itu dan ia menerimanya.
“Vanya Arestya.” Nama
itu aku ingat selalu di pikiranku. Seperginya ia dengan ibunya, aku duduk di
bangku pohon akasia. Keadaan sekolah mulai sepi, aku menunggu kakakku
menjemput, namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda kakakku itu telah
datang. “Hahh..” Aku menghela napas panjang. "Jika ia tidak peka, mungkin ia tidak tahu kalau lagu itu memang kunyanyikan untuknya."
*
“Za, permainan lo
kemaren di pensi keren bangeet! Kalian emang berkolaborasi?” Tanya Gita, teman
sebangkuku.
“Hah? Yang mana?
Nyanyi? Oh, Cuma kebetulan, ternyata hasilnya bisa bagus..” Aku menyengir
kepada Gita. Syahrul yang ada di depanku menatapku curiga.
“Biasa aja kali
tatapannyaa!” Aku menutup wajah Syahrul dengan tangan kananku.
“Cie, ada getaran ya?”
Syahrul mengerling kepadaku.
“Baru kenal kemaren
juga..” Aku menaikkan alis kiriku.
“FIRST SIGHT LOVE
nieee!” Gita menyeringai kepadaku.
“Plis deh ah..” Aku berusaha
menurupi wajahku dengan buku IPS.
“Jadi bener nih?
Aihh..”
“Nggak ada apa-apa
kok.. Tenang aja.. Eh Rul, ngomong-ngomong kabarnya Wayan gimana di sekolah
barunya?” Aku emngalihkan topic pembicaraan.
“Eum, terakhir aku
email sih, yaa… Dia nggak betah.” Syahrul menatapku dengan wajah penuh
keyakinan.
“Tuh kan.. Udah gue
bilang, sekolah terbaik itu disini bukan disono!” Gita langsung menunjuk kea
rah luar dengan penuh amarah yangberkobar-kobar. “Yaa.. Semoga aja dia balik
lagi! Hehe..” Gita kembali duduk dan memberikan tatapan penuh arti kepadaku dan
Syahrul.
“Cie yang mantan mah
beda..” Aku berbisik kepada Syahrul, dan Gita tiba-tiba melemparkan buku komik
conan yang sedang ia baca ke wajahku.
“Dasar!” Gita tertawa
ketika melihatku kesakitan karena ulah jailnya. Beuh.. Dasar cewek! Gerutuku dalam hati.
*
Vanya POV
Jam menunjukkan jam
tiga lebih dua puluh sore. Aku segera membereskan barang-barangku dan melangkah
pergi ke luar kelas. Ekskul hari ini cukup menguras tenaga, Basket ditambah
Manga Class telah membuat tenagaku terkuras habis.
Rencananya sore ini
mama mengajakku pergi ke Mall untuk membeli beberapa peralatan dapur serta ATK
ku yang sudah mulai habis. Aku menunggu di gerbang sekolah, sesekali melirik
lantai dua yang tampaknya sudah kosong. Entah apa yang membuatku terus melirik
lantai itu, sepertinya ada sesuatu yang menarikku untuk pergi kesana. Aku
melihat ke jalan, “Mama belum datang.” Aku menitipkan barang-barangku ke pos
satpam dan melangkah pergi ke lantai dua.
*
Sekolah sudah mulai
sepi. Hanya terdengar suara bola yang ditendang dari kaki-kaki anak ekskul
futsal yang masih nongkrong di sekolah. Di depan tangga, aku terdiam. Baru kali
ini aku naik ke lantai dua sendirian. Kelasku ada di lantai bawah dan apabila
pergi ke lantai dua, pasti selalu ditemani Adin atau temanku yang lainnya.
Angin dingin membuat
bulu kudukku berdiri. Aku ingin kembali ke pos satpam, tapi aku tak bisa
merubah posisi badanku. Tanpa kusadari aku sudah ada di lantai dua. Lorong
lantai dua begitu gelap di sore hari seperti ini. Aku melangkahkan kaki,
melewati kelas-kelas yang sudah kosong. Kursi, meja, dan barang-barang di
dalamnya sangat rapih. “Tak seperti kelasku..” Gumamku dalam hati.
Semakin lama aku
berjalan, angin dingin semakin sering melewati bahuku. Tibalah aku di ujung
lorong. Di sebelah kiriku ada sebuah tangga yang menuju lantai tiga, dimana
gudang berada. Aku terdiam melihat tangga kayu tua yang masih kokoh itu. Tiba-tiba
kilat menyambar dan membatku ketakutan. Aku lantas berbalik dan menemukan
seseorang di belakangku.
“Pak Muh? Ngapain
kesini?” Aku bertanya kepada Pak Muh, salahsatu penjaga sekolah.
“Itu ada yang jemput.”
Jawabnya singkat.
“Oh, ibu-ibu kan?” Aku
bertanya lagi.
“Bukan, bapak-bapak
Van. Coba aca cek ke bawah.” Sesegera mungkin aku turun ke lantai satu dan
berlari ke gerbang sekolah. Disana tampak Papa yang sedang melambai kepadaku.
Kuraih tas dan langsung masuk ke mobil. We’re going to MALL! ATK, I’m coming!
*
Hari ini hari Minggu, hari
dimana aku akan main ke rumah Adin. Ya, hitung-hitung sudah 4 hari nggak
ketemuan. Rencananya kami akan pergi ke salahsatu toko perintilan-perintilan di
pusat kota. Ya, Adin akan membuat beberapa hadiah kecil untuk dibagikan ke
kakak kelasnya yang sebentar lagi jadi alumni SMA. Niat juga dia, ujarku dalam
hati.
Tok tok tok ADIII~N
Pintu dibukakan oleh seorang bocah laki-laki yang mulutnya berlmuran
cokelat.
“Haloo Alee! Ada Mbak
Adinnya ga?” Aku melepas sepatuku dan masuk ke ruang tamu.
“Kalo gasalah mbak
Adinnya masih makan tuh. Tunggu dulu ya Vanya.” Bocah itu pergi melenggang ke
ruangan tengah.
“Dasar gak sopan
manggil aku Vanya!” gerutuku dalam hati. Setelah beberapa menit menunggu, si
Mbok Adin pun datang membawa dua gelas es campur.
“Aloo Nyaa! Maaf lama,
tadi gue telat bangun, makanya makanpun jadi telat..” Adin memberikanku gelas
berisi berbagai macam agar-agar dan teman-temannya.
“Yah elo, kebiasaan!
Iya gapapa.. Ngomong-ngomong lo mau cerita apa? Di telpon ngebet banget nyuruh
gue kesini!” Aku membuka catatan kecilku bersiap menjadi seorang wartawan.
“Gak usah jadi
wartawan gitu deh.. Gini, gimana ya ceritanya..”
“Apaan sih, jangan
banyak titik deh, langsung ke poinnya gitu!” Aku sudah tidak sabaran lagi.
“Guee……..” Adin
berhenti, “ Lagi suka sama someone—“
“WHAAATT?!! Kamu
beneran? Tak kusangka Adin yang selama ini suka sama ceweek terus akhirnya suka
sama cowok juga!”
“HUSH! Lo kira gue
lesbi apa?” Adin memasukkan sesendok papaya ke mulutnya.
“Iya deh.. Namanya
siapa? Gue tau, pasti kakak kelas kan?!” Aku menebak-nebak.
“KOK ELO TAU SIH?!”
Adin terlonjak.
“Kan gue mama loren
Din..” aku melemparkan tatapan mistis kea rah Adin.
“Hahaha! Lo pasti
ngipnotis gue kan?”
“Tau aja deh eloo. Gue
kan peramal professional!”
“Hueeek! Gini,
namanyaaa dari huruf A”
Aku terdiam, siapa
kakak kelas yang depannya A? Kelas 11 ato 12 ya? “ALDOO YAA?” Jawabku asal.
“SALAAH! Lagipula
siapa itu ALDO? ALDO Cuma ada di kelas kita Nya..”
“Oke, pasti si AFRO
ya?” Adin menggeleng. Sejenak suasana hening.
Akhirnya Adin membuka
mulutnya lagi, “Ya udah deh gue kasih tau aja, gue suka samaaa… ADINAHEE!”
“HEUU! Oya, satu kata
dari A buat elo, ASYEEEMM!! Serius ah, siapa namanya!”
“ANDROMEDA..”
“Itu bintang say!”
“Emang itu kok
namanya!”
GLEK, aku terdiam tak
percaya. Andro? Tak mau membuat Adin curiga aku langsung melanjutkan
percakapan. “BENERAN? KAK ANDRO YANG KECE BADAI ITUU?” Adin mengangguk pasti.
“CIEEEH! Ayo di SHOOT
Din!” Aku langsung bersemangat. Kalo soal begini, aku memang jagonya mak
comblang.
“Ngga ah, malu.”
“Caelaaah! Ntar gue
bantuin deh!” Aku masih berkeras. Syyebb perasaan itu dating kembali.
“Eh gue bisa sendiri
keles..Tapi, gue gatau caranya Nya..” Adin terduduk lesu.
“Soal itu kita pecahin
nanti, sekarang gue pengen tau kenapa lo bisa suka sama cowo badai itu?” Aku
membenarkan posisi dudukku, menunggu Adin menceritakan segalanya. Seiring
dengan posisi dudukku yang semakin nyaman, hatiku merasakan perasaan itu,
perasaan yang sudah terkubur, lama, lama sekali.
to be continued.
Labels: love, stories, teen-fition