Megan Fox? Eh ▲
Hi My name is Mutiarasyaa! Im going to sixteen and SHS too. This is my project blog, so i put my 'absurd' stuff here.
Im a digi-art-work-er and stud-ent. Secuil of Precious Femind Blogger Community
hey, GUE INI GUE. ▲
social media? ask me by my twitter!
Getar Dawai Hati Nuna
Sunday, April 14, 2013 | 7:07 AM | 0 letters

07.30
Siswa kelas 10 Keen sudah berbaris dan bersiap masuk ke kelas. Bu Ati sebagai wali kelas berdiri di depan barisan dan mulai mengecek kehadiran siswanya satu persatu dalam barisan tersebut. “Oh ternyata ada yang belum datang rupanya”, gumam Bu Ati dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis memohon untuk tidak ditutup pintu kelasnya.
“Bu Ati! Tunggu bu, tunggu…!”, nafasnya tersengal-sengal karena harus berlari menaiki tangga sekolah sebanyak dua tingkat.
“Maaf bu, saya…aduh sebentar bu, sesak nafas nih…”, ujar gadis tersebut memelas.
“Nuna?! Tumben kamu datang terlambat. Kenapa?” tanya Bu Ati
“Anu bu, ban motor ojeg kempes, jadi saya harus jalan dan mencari ojeg lagi. Maaf bu, boleh masuk ya bu?!”,jelas Nuna
“Oke, tapi lain kali no way”, jawab Bos besar kelas 8 Keen tersebut.Nuna mengangguk,
Nuna berjalan masuk dan bernafas lega karena tidak perlu pergi ke guru piket untuk melapor.
Fuihhh akhirnya…

11.30
Waktu istirahat. Semua bergegas pergi ke kantin untuk berburu makanan. Namun Nuna tertahan di kelas karena sebuah pengumuman.
“ Nuna! Juna! Eko! Bisa bicara sebentar”, panggil seorang cowok di luar pintu.
Nuna bergegas mendatangi cowok itu dan bertanya,” Prabu? Ada apa nih? Serius amat”.
“Nanti jam 15.00 Pak Mansur meminta semua pengurus OSIS untuk rapat acara community service bulan depan di aula. Tolong kasih tau yang lainnya ya”.
“Oh, pengurus inti atau semuanya, Prab?”, tanya Eko
“Semua tanpa kecuali. Ok, guys…aku cap cus dulu ya. Eh, Nuna kamu makan siang bareng yuk sama aku?”, ajak Prabu.
“Aku doang?Juna Eko gimana?” tanya Nuna
“Mereka biar aja beli sendiri, ya nggak brow?”, jawab Prabu
Juna dan Eko meringis sambil mengangguk.
“Traktir nih? Oke”, Nuna tersenyum riang dan meninggalkan Juna serta Eko.

15.30
Aula mulai dipenuhi pengurus OSIS sekolah Pelita Bangsa. Pak Mansur sebagai Pembina OSIS pun sudah datang dan berdiri di depan ruangan. Dalam kamus beliau tidak ada kata terlambat, sehingga semua siswa harus hadir ON TIME.
“Selamat siang menjelang sore anak-anak. Rapat kita hari ini membahas acara community service untuk bulan depan, kemudian membentuk kepanitiaannya…”,Pak Mansur mulai bicara dan semua siswa serius menyimak kata-demi kata.
“Ok kalau semua sudah paham maka kita mulai saja pemilihan ketua dan pengurus kegiatan Care and Action to Others”.
Satu per satu nama peserta yang hadir mulai disebut dan dinominasikan sesuai posisi yang ada di papan tulis. Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya kepengurusan tersebut telah terbentuk. Prabu sebagai ketua, Nisna bagian kesekretariatan, Nuna humas dan marketing, Juna divisi acara, jovita pegang bendahara, Triyan bagian dekorasi dan Eko bidang logistik serta peralatan. Action plan mulai dibuat oleh tim 13 begitulah nama kepanitiaan ini.
“Teman-teman semua kita hanya punya waktu tujuh minggu dari sekarang. Saya berharap semua penanggung jawab bidang mulai bekerja dan membentuk kepanitiaan kecil untuk mensukseskan Care and Action bulan depan. Kita akan berkumpul lagi pada hari yang telah disepakati dalam action plan TIM 13. Selamat bekerja dan rapat saya tutup”, instruksi Prabu pada TIM 13.
Wuicch…kerja deh!

MINGGU ke-1
Juna mulai mengonsep acara bersama timnya. Mereka berencana untuk mengadakan Festival  Joy Food and Happiness. Sebuah konsep bazaar makanan kreasi anak muda yang dibuat dengan bahan dasar buah dan ikan. Acara ini bersifat umum sehingga para peserta tidak perlu ribet dengan birokrasi sekolah. Selain itu Juna pun merencanakan untuk memberikan hiburan lagu untuk para tamu yang datang menikmati festival Joy food and happiness. Tujuah pengisi acara sudah disusun tinggal menghubungi dan melakukan pendekatan agar mereka mau menjadi partisipan dalam kegiatan FJFH.
Sementara Nuna dan Nisna sibuk menyiapkan proposal, mendata para sponsor, membuat undangan untuk tamu kehormatan sekolah, membuat poster, dan sebagainya. Biasalah dalam sebuah kegiatan pasti kedua bidang ini yang paling diandalkan untuk mendapatkan dana dan menghadirkan banyak orang untuk datang.
Bagaimana dengan Prabu?
Oh, ternyata sang ketua acara gencar mempresentasikan konsep acara kepada kepala sekolah dan jajarannya agar mendukung dalam pendanaan awal. Maklum keuangan OSIS minim, sehingga membutuhkan suntikan dana dari sekolah. Bisa dibayangkan kalau kegiatan ini tidak bisa meyakinkan sang BIG BOS, maka apa kata dunia?
Tampaknyua semua orang sedang fokus dengan rencana kerja masing-masing.
What a hard week…


MINGGU ke-2
Aula mulai ramai dengan pengurus OSIS. Mereka menyampaikan laporan hasil kerja mingguan kepada pak ketua FJFH. Prabu terlihat antusias dengan penjelasan masing-masing divisi. Wajahnya kadang mengkerut, tersenyum sesekali, matanya berbinar tanda semangat, tangannya mengetuk-ngetuk meja, atau menggaruk kepala, memegang dagu sambil menyipitkan mata. Ah…ekspresinya sangat beragam jadi kalau diabadikan pasti seru.
Setiap divisi memberikan saran kepada divisi lainnya agar semua berjalan sesuai rencana dan target terpenuhi 100%. Namanya juga target ideal, pasti memerlukan semangat tinggi untuk mewujudkannya.
                Gambate…!



Minggu ke-3
Nuna berlari kecil di lorong sekolah. Ia berharap dapat menemukan Prabu dan Pak Mansur untuk meminta tanda tangan proposal yang akan dibawanya ke beberapa sponsor.
“Pak Rahmat…ada Pak Mansur?”, tanya Nuna di depan pintu kantor guru.
“Oh, baru saja beliau pergi ke ruang OSIS
mau bicara dengan Prabu”, jawab Pak Rahmat cepat.
“Terima kasih pak, saya menyusul ke sana sekarang”, pamit Nuna bergegas.
Nuna menemukan ruang OSIS kosong dan tak ada  dua orang yang ia cari di sana.
“Aduh, kemana sih makhluk itu. Katanya mau ke ruang OSIS tapi…”, gumam Nuna dalam hati.
“Cari siapa Na? celingukan di sini.” sebuah suara mengagetkan Nuna
“Ehm, Jun kamu lihat Pak Mansur sama Prabu gak di sini?”, tanya Nuna
“Lihat dua hari yang lalu, emang kenapa?”,tanyanya iseng
“ih dudul, aku gak tanya kemarin tau. Bilang aja gak lihat”, jawab Nuna sewot
“Santai aja kali” jawabnya. “Gak usah pake otot gitu. Cari aja di tempat lain, mereka gak bakalan pergi ke luar Bandung”, sanggahnya sinis sembari ngeloyor pergi.
Nuna benar-benar benci dengan anak cowok yang satu ini. Sikap Juna yang cuek,otoriter  dan gak punya hati menjadikannya bergelar Spicy man.
“Puih, nyebelin banget! Bantu nggak…songong iya. Huek...”, gerutu Nuna sebal.
Tiba-tiba pundak Nuna ditepuk dari belakang.
“Na, cari aku ya?”, kata Prabu
Nuna menoleh dan menyodorkan lembar proposal yang harus ditanda tangani oleh Prabu.
“Jelek banget tuh muka, monyong lagi. Kenapa?”, tanyanya lagi.
“Aku harus segera pergi ke Bank BNI dan Indosat. Cari kamu dan Pak Mansur untuk tanda tangan proposal ini. Eh, yang dicarinya susah amat”, ujar Nuna ketus.
“Ehm, kami ada di mushola. Kebetulan sholat bareng jadi sekalian aja ngobrol di sana”.
“kamu ke kantor aja, beliau dah balik lagi ke ruangannya. Mau aku antar?”
“Gimana kalo sekalian aja antar aku ke BNI dan Indosat sekalian?” rajuk Nuna
“oke deh, tapi ijin ke Bu Ati dulu yah. Kebetulan siang ini beliau kan ngajar Biologi di kelasku.”
“Thank you, Prab!.” Nuna mengurai senyum riang mendengar Prabu bersedia untuk menemaninya pergi.
Olala…!

Minggu ke-4
Tidaklah mudah untuk menggelar acara besar dengan waktu mepet. Keterbatasan waktu dan tenaga membuat TIM 13 harus pandai mengatur jadwal. Untunglah Big Bos dan para guru mendukung acara ini sehingga mereka memberikan kompensasi dalam hal pemberian tugas dan tatap muka saat KBM berlangsung. Minggu ini TIM 13 sudah mendapatkan hasil kerjanya. Dana dari sekolah sudah cair dari 2 minggu yang lalu dan digunakan untuk membuat proposal, poster, undangan, dan tiket. Beberapa calon peserta mulai menghubungi panitia untuk menanyakan informasi FJFH, sementara untuk sponsor baru masuk dari orang tua siswa yang ingin berpartisipasi mewakili lembaga masing-masing. Secara nominal tidak besar tapi lumayanlah…
Sedangkan acara, tampaknya Juna mulai sibuk mendekati beberapa grup band yang cukup terkenal di kalangan remaja. Wow, it’s long road and stressful.
“Na, ada telepon tuh dari Pak Hadi. Katanya proposal kamu cair. Ehm, selamat yah”, kata Nisna
“Ah yang bener Nis?! Terus aku harus balik telpon dia atau gimana?”
“Lima menit lagi dia telpon kamu. Jadi pastikan HPmu aktif, yah”.
“Pasti! Thanks ya…”. Nisna menggangguk dan berlalu.
Hati Nuna berbunga-bunga mendengar proposalnya diterima oleh perusahaan penghasil bumbu dapur terkenal.
Tidak perlu menunggu lama hp pun bordering nyaring. Nuna segera menjawab dengan penuh semangat. Wajahnya berseri-seri dan kata terima kasih berulang kali keluar dari mulutnya. Tangannya sibuk mencatat tanggal dan jam pertemuan dengan Pak Hadi. Sebuah pertanda baik…
Nuna berjingkrak-jingkrak tanpa kendali sembari berteriak kegirangan hingga tanpa sengaja badannya menubruk punggung seseorang. “Bruk…!”
“Hai pakai mata dong. Sakit tau!” serunya sengit
Nuna tersadar dan mencoba mengerem gerakannya. Matanya terbelalak ketika melihat wajah Spicy man di depannya. Uff, sorry!
“Maaf Jun! gak sengaja, beneran deh…suer!”, Nuna mencoba minta maaf dengan mimik yang lucu.
Juna tidak menggubris permintaan maaf Nuna. Ia menatap tajam dan menunjukkan tampang marah seperti mengisyaratkan tidak ada maaf bagimu.
Jiahhhh….!

Minggu ke-5
Dua minggu sebelum hari H. Prabu mencoba mengumpulkan panitia inti untuk menanyakan kesiapan acara FJFH. Divisi kesekretariatan menjelaskan bahwa peserta yang sudah daftar sudah 70%, para undangan yang sudah melakukan konfirmasi kehadirannya dalam acara FJFH 80%, spanduk, tiket, dan buku tamu sudah selesai dicetak. Bagian acara melaporkan dari 7 pengisi acara 4 udah menyatakan siap tampil, 2 masih dalam konfirmasi, 1 belum ada jawaban. Bagian humas dan marketing menyampaikan bahwa dari 25 proposal yang dikirim 15 sudah cair, 5 masih dalam konfirmasi, dan sisanya belum ada berita. Bagian keuangan melaporkan bahwa dana yang ada di kas bendahara sebesar 23 sekian juta rupiah. Sementara bidang dekorasi dan peralatan menyatakan sudah selesai dengan rancangan set up panggung, sound system, lighting, dan property lainnya. Prabu tersenyum puas. Ia mengatakan kepada TIM 13 untuk tetap semangat dan bekerja keras sampai hari H.
“Nuna, tiket, buku tamu  dan spanduk sudah bisa diambil siang ini. Tinggal dibawa aja, kita
udah bayar Nunas kemarin.” Pesan Nisna sebelum keluar ruangan OSIS.
“Oh ya, Juna kamu antar Nuna untuk ambil barang ke percetakan ya. Uang bensin minta aja sama Jovi. Kamu bisa kan?” tanya Nisna lagi.
Juna tidak berusaha menjawab. Ia hanya mengacungkan jempol tanda setuju.
Entah mengapa tiba-tiba Jovita tersedak,”huk..huk”. ia mencoba menutupi mulutnya dan melirik Nuna dengan ekspresi wajah “aduh, Nuna kasian deh loh”.
Ah dunia, kenapa harus dia?! Nuna tertunduk lesu dengan mulut cemberut.
Uwooohhh…!

Juna mengambil jaket dan segera pergi ke parkiran motor sekolah. Ia mengingatkan Nuna untuk segera menemuinya dalam 5 menit kemudian.
“alamat percetakan itu sudah kamu bawa belum, Na?” tanya juna
“sudah. Nih bawa aja sama kamu”
“ayo cepat naik, jangan lupa pake helmnya”
Nuna menuruti perintah Mr. Spicy Man dengan baik. Walaupun hatinya kesal tapi ia coba menahan sekuat tenaga.
Juna melihat Nuna dari kaca spion. Ia harus memastikan Nuna mendengarkan instruksinya.
Motor melaju kencang. Juna ahli mengendarai motor. Beberapa kali Juna manyalip mobil dan itu membuat Nuna harus menutup mata karena takut. Sampai pada akhirnya Nuna tidak bisa lagi bertahan dengan ketakutannya maka Nuna pun berteriak,
“Juna! Pelan-pelan dong bawa motornya!”
Juna tidak peduli, ia tetap membawa motor dengan kencang. Dalam kepalanya, Juna hanya ingin cepat sampai dan kembali ke sekolah sebelum hujan. Tapi Nuna benar-benar sudah tidak kuat sampai perutnya mual dan kepalanya pening menahan rasa takut.
Tanpa sadar Nuna memukul punggung Juna dan memintanya untuk menghentikan motornya.
Juna kaget dan segera menepi. Nuna langsung turun dari motor dengan wajah merah padam.
“aku mau turun saja dan pergi ke percetakan naik angkot!”
“hah?! Kamu gila ya. Ini kan udah setengah perjalanan. Ngapain naik angkot?”
“aku gak tahan sama cara kamu bawa motor. Kamu pikir aku kantong beras. Ahhh, aku gak mau mati konyol gara-gara dibonceng motor sama cowok ugal-ugalan kaya kamu!”
“apa kamu bilang?! Aku ugal-ugalan? Hei, cewek rese! asal kamu tau aja ya aku belum pernah nabrak orang atau mobil selama bisa naik motor, tau! Jangan seenaknya ngasih label orang!” Sahut juna ketus.
“pokoknya aku gak mau ikut sama kamu, ngerti!” bentak Nuna
“oke! Terus kamu maunya apa?”,bentak juna pula
“Kita pergi sendiri-sendiri aja! Atau kamu boleh balik lagi ke sekolah.”
Juna terdiam sesaat dan menatap Nuna dengan heran. Ia bertanya dalam hati mengapa gadis ini  begitu marah hanya karena dia memacu motor dengan cepat. Belum sempat Juna bertanya, ia melihat butiran air meluncur di pipi gadis mungil di hadapannya. Juna menjadi panik dengan tangisan Nuna. Sementara Nuna berusaha untuk menahan agar air matanya tidak tumpah tapi percuma. Berkali-kali Jemari Nuna menghapus air matanya. Melihat gadis mungil itu terisak, Juna pun memberanikan diri untuk membujuk Nuna agar menghentikan tangisannya.
“Na…Nuna,jangan nangis dong. Kamu kenapa sih? Ayo dong berhenti nangisnya, gak enak kan dilihat orang”.
“Na aku minta maaf deh. Ehm, Kamu takut ya?”
Nuna diam. Ia menunduk dan mengangguk pelan. Tangisnya mulai mereda. Uffh, Juna bernafas lega.
“Aku belum pernah naik motor sekencang itu. Bahkan sama ayah pun selalu pelan-pelan”, kata Nuna perlahan.
Oh itu toh masalahnya. Juna akhirnya mengerti. Ia mencoba memahami ketakutan Nuna tadi.
“Oke deh, aku pelan-pelan aja bawa motornya supaya kamu gak takut. Sekarang kamu naik lagi gih. Buruan, nanti keburu hujan nih”.
Nuna masih ragu dan tetap bergeming di tempatnya.
“Ayo, Na! aku janji gak bakalan ugal-ugalan lagi kaya tadi”.
Nuna menatap Juna dan mencari kesungguhan dari kalimat yang diucapkannya. Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Cape dehhh!

Setelah memeriksa barang, maka Juna dan Nuna langsung kembali ke sekolah. Namun karena insiden tadi maka motor berjalan pelan. Rupanya alam memang sedang tidak bersahabat. Perlahan tapi pasti langit menurunkan butiran air ke bumi. Mereka pun terjebak hujan di sepertiga perjalanan pulang.
“Nuna, gerimis nih. Mau berteduh dulu atau terus aja?” tanya Juna memecahkan keheningan.
“ehm, terus aja lah. Nanggung. Cuma gerimis doang” jawab Nuna
Motor pun menembus gerimis hingga akhirnya air tumpah tanpa terkendali. Juna memutuskan berhenti di sebuah warung kopi pinggir jalan. Mereka masuk dan berteduh sembari menunggu matahari kembali bersinar. Juna mengibas-ngibaskan air yang menempel di jaketnya. Sesekali ia mengeringkan muka dengan jemarinya.
Nuna terdiam memandang hujan yang semakin deras mengguyur bumi. Gadis ini berpikir hujan ini akan menahan mereka untuk waktu yang cukup lama. Huh benar-benar menyiksa, pikirnya.
Entah karena udara dingin yang terlalu menusuk atau memang belum makan, Nuna mendengar paduan suara dalam perutnya. Badannya sedikit bergetar dan berkali-kali menggosokkan kedua telapak tangganya agar hangat. Juna memperhatikan semua kejadian itu dari samping. Ia mencoba cuek dan membiarkan semua berlangsung begitu saja.Tapi lama kelamaan Juna pun merasakan hal yang sama, dingin dan lapar…
“Na kamu gak pake jaket yah? Pasti dingin kan? Gimana kalo pesen mie rebus sama minuman panas?” tanya Juna berbisik.
Nuna menengok dan menjawab singkat,”Boleh, aku air teh tawar aja”.
Juna segera memesankan mie rebus dan air teh sesuai orderan. Mereka berdua mengambil posisi duduk bersebelahan dan menyantap pesanan yang siap dihidangkan. Nuna menikmati kehangatan mie rebus sambil mendengarkan perpaduan aNunan lagu dari radio sang pemilik warung dengan derasnya hujan. Nuna meneguk teh dan terhenti karena ada yang salah dengan pesanan tehnya.
“Eh tadi aku kan pesen teh tawar, tapi kok ini manis ya?”
Juna menoleh  dan menjawab,” Oh mungkin tertukar dengan teh pesananku,”
Juna pun segera menukar gelasnya dengan gelas Nuna.
“tapi itu kan sudah aku minum lagi. udah gak apa-apa aku yang manis aja”
“ah aku gak suka teh tawar, Na. kamu gak punya penyakit menular kan?”
“penyakit menular? Oh ada…rabies, mau?”
“no problem, aku pasien rabies akut dari dulu”, ujarnya sambil tertawa
Nuna terkesima. Untuk sesaat ia kehilangan rasa kesal terhadap cowok satu ini. Satu per satu pertanyaan berseliweran di kepala Nuna tentang sikap Juna yang cukup baik menurutnya.
“Thanks God, akhirnya…”, Nuna mengucapkan kalimat itu dengan kesungguhan. Perut kenyang, badan mulai hangat dan hujan pun reda. Ia mengeluarkan secarik kertas sepuluh ribu dari saku bajunya. Maksud hati ingin membayar tapi Juna menahan tangannya.
“Sudah, biar aku yang bayar”.
Nuna kembali terhenyak. Ia merasakan sesuatu yang aneh saat Juna menyentuh tangannya tanpa sengaja. Juna menoleh dan tersenyum tipis ke arahnya.
“Yuk, cabut. Udah terang. Lagian ntar kesorean sampai ke sekolah”, katanya lagi
Seperti kerbau dicucuk hidungnya Nuna hanya menurut saja.
Wooiii…

Minggu ke-6
Dentingan suara gitar terdengar dari ruang OSIS. Sayup-sayup lagu Little Things One Direction menyertainya. Siapa yang sedang bernyanyi di sana?
Juna dan Eko masuk ke dalam ruang OSIS untuk mengambil beberapa dokumen acara yang akan mereka rapatkan siang ini. Tampak sepasang remaja berada di ruangan tersebut tanpa mengindahkan kehadiran mereka. Prabu sedang memetik gitar sementara Nuna sibuk dengan lapotopnya. Kedua remaja tampak tersebut asik menikmati kebersamaan mereka. Wuih, kayanya mereka pemilik ruangan ini dan yang lain ngontrak nih, pikir Juna.
“Prab, nanti kita rapat lagi yah? Bisa delay 15-20 menit gak? Aku mau pergi dulu sama Triyan dan Juna cari peralatan”, kata Eko memecah suasana.
Prabu menghentikan gitarnya dan menatap Nuna seakan meminta second opinion. Nuna terlihat tidak peduli. Ia sibuk bernyanyi dan mengetik kembali.
“Boleh Ko, tapi gak lebih ya. Kalau kesorean nanti teman yang lain keberatan.” Sahut Prabu
“Siap komandan. Kita ngebut kok…” Eko menjawab pasti
Nuna tanpa sengaja mengangkat kepalanya dan menatap Juna yang berdiri di samping Eko. Ada sesuatu yang ingin ia katakan kepada cowok itu, tapi tertahan.
Juna balik menatapnya sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya seakan bilang,”Don’t worry, I will be careful”.
Kedua cowok itu pun berlalu dan dentingan gitar kembali mengalun merdu. 
“Na, kayanya kamu lagi demam One-D ya?”, tanya Prabu menghentikan konsentrasi Nuna yang asik mengetik laporan.
“Ho oh, lagunya asik Prab”, jawabnya singkat
“Coba lagu apa saja yang bisa kamu nyanyikan? Ntar aku cari chord-nya”
“things, that what you beautiful, life while were young…”
Prabu mendengarkan Nuna menyanyikan lagu life while were young one D sembari mencari chord yang pas untuk mengiringinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.15. Pak ketu Prabu mengajak Nuna untuk bergegas ke aula. Rapat akan segera dimulai. Prabu melihat tim 13 mulai memasuki ruangan. Nisna sang sekretaris mengecek presensi anggota panitia dengan memanggil namanya satu persatu.
Saat rapat dimulai, Nuna melihat dua orang cowok berlari memasuki ruangan dan duduk di barisan belakang. “Oh, mereka datang juga dengan selamat” gumamnya dalam hati.
Seperti biasa Prabu meminta setiap divisi memberikan laporan kerja masing-masing. Bisa dikatakan bahwa di minggu ini ada kemajuan dalam bidang pemasukan dana dan peserta FJFH. Peserta bertambah 5, kemudian 3 proposal kembali cair walaupun nominalnya tidak spektakuler, dan band yang akan datang menjadi 6. Susunan acara pun sudah selesai dibuat, denah pintu keluar masuk, lokasi panggung, stand makanan, area makan serta loket sudah rampung. Semua tampak senang dan tak sabar menunggu hari besar itu datang. Tiba-tiba pintu diketuk dan beberapa orang masuk ruangan membawa tiga kardus besar. Salah satu di antaranya berbisik kepada Prabu. Setelah itu mereka tampak bersalaman dan ketiga orang itupun berlalu.
“Teman-teman, rupanya kita dapat kejutan. Salah satu sponsor memberikan kaos untuk panitia sebagai bentuk partisipasi dalam kegiatan FJFH. Nanti teman-teman bisa menghubungi Nisna dan Triyan untuk mengambil kaosnya.  Mari kita berikan tepuk tangan untuk TIM 13!Terima kasih”, seru Prabu dengan semangat.
Gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai dari panitia TIM 13 terdengar sampai ke lapangan basket.
“Selamat, Na! kamu keren bisa melobby sponsor dan hasilnya mantap”, sapa Prabu seraya menjabat tangan Nuna erat.
“Ah, biasa aja Prab! Ini kan untuk kesuksesan FJFH, jadi aku lakukan yang aku bisa”, jawab Nuna merendah
“Gila kamu, Na! marketingnya cetar membahana badai, yeuh! Wah, kalo aku jadi kamu pasti minta komisi 10% dari proposal yang cair. Lumayan kan!”, kata Triyan pula sambil mengedipkan mata. Nuna hanya tersenyum, merespon ucapan kekaguman yang mengalir kepadanya.
Prabu masih mengajak Nuna berbicara. Kadang tangannya mengacak-ngacak rambut Nuna atau memegang pundak gadis itu. Nuna tertawa lepas, memukul tangan Prabu dengan manja, bahkan sesekali merajuk manis. Juna melihat kedua remaja itu dari bangku belakang. Ia belum beranjak pergi mengambil kaos. Ah, ada apa dengan mereka. Mengapa pemandangan itu terasa mengganggu bagi Juna.
Huek…

Minggu ke-7
 Jumat ini semua orang sibuk luar biasa. Mulai dari lapangan parkir sampai lapangan basket. Aula dan selasar sekolah mulai berbenah. Siang itu semua panitia dan petugas sekolah mempersiapkan berbagai hal untuk menyelenggarakan FJFH esok hari.
Bisa dibayangkan divisi yang paling riweuh adalah acara, dekorasi panggung dan peralatan. Mereka bolak-balik seperti setrikaan dan wajah serius terlihat jelas.
Nuna dan Nisna berjalan ke gerbang sekolah sambil membawa spanduk besar sertuliskan selamat datang. Di belakangnya tampak Idham, Rayhan, dan Yuke mengikuti dari belakang.
“Dham, spanduk ini ada 5. 2 dipasang di gerbang depan dan kampus 1, sementara 1 di panggung, 2 lagi di area stand makanan.ok?”, instruksi Nisna kepada Idham dkk.
“Ok, Nis. Tolong pinjamkan tangga ke Pak Jiman dan biar Yuke yang ambil tangganya ke sini”, sahut Idham
“Ya sudah, kami pergi dulu”, pamit Nisna
Belum jauh mereka melangkah, ada suara memanggil dari kejauhan.
‘Nuna! Nisna! Tunggu!” serunya
Nuna melihat ke arah sumber suara. Matanya menyipit saat badan orang itu semakin jelas terlihat. Kenapa nih orang, lari-lari seperti dikejar polisi.
“Na, ada yang mau ketemu tuh di aula. Katanya mereka dari perusahaan produk makanan siap saji. Lalu kalau nanti sudah beres tolong bantu aku ketemu sama manajer bintang tamu, bisa kan?” pintanya lagi.
“Gimana kalau yang menemui tamu di aula aku aja, Na. Kamu langsung bantu Juna untuk ketemu sama manager bintang tamu itu”, kata Nisna
“Ehm, ide bagus tuh.” Seru Juna senang.
Nuna menghela nafas dan mengikuti langkah Juna. Sesampainya di ruang OSIS Nuna terlibat pembicaraan dengan para manajer bintang tamu. Tampaknya mereka membicarakan muatan dan tanda tangan berkas kerja sama. Saat semuanya telah beres, mereka saling berjabatan tangan dan pergi.
“Ehm…kamu cukup berbakat jadi humas, Na”, puji Juna
“Biasa aj. Sekarang aku mau ke panggung dulu mau bantu dekorasi”
“trims  Na!”
Nuna berjalan cepat tanpa menoleh lagi menuju aula. Di sana ia berencana untuk membantu Triyan cs. Aha, ternyata Prabu pun sedang melihat tim dekorasi bekerja.
“Prabu!”,  seru Nuna semangat
Sang pemilik nama itu pun menoleh dan tersenyum sumringah mendengar namanya dipanggil. Nuna mendekati dan menanyakan sejauh mana persiapan dekorasi untuk acara esok.  Rupanya kehadiran Nuna dan Prabu memang sangat diharapkan tim dekorasi untuk segera menyelesaikan set up panggung. Mungkin karena terlalu lelah hidung Nuna pun mimisan. Ia segera berlari ke toilet untuk membersihkan darah yang mengalir di antara kedua lubang hidungnya. Namun Prabu terlanjur melihat tetesan darah itu dan menimbulkan sedikit kepanikan diantara mereka berdua.
“Na…! kamu mimisan. Ayo isirahat dulu”, perintah Prabu dengan lembut.
Nuna tampak pucat dan mencoba menahan pusing yang hadir menyertainya.Prabu segera berlari ke ruang UKS yang tidak jauh dari aula untuk mencari kapas dan membersihkan darah di hidung Nuna. Prabu sangat khawatir dengan keadaan tersebut. Ia membelikan Nuna air minum dan sesekali meraba kening Nuna.
“Udah Prab, aku gak apa-apa kok. Biasa mimisan gini mah”, kata Nuna santai
“Kamu pulang aja, Na. Biar aku antar atau mau sama jemputan sekolah?”
Nuna putuskan untuk pulang diantar Prabu. Tanpa mereka sadari sepasang mata mengawasi dari kejauhan.

What’s wrong?

BIG DAY

Pagi menunjukkan jam 09.00. Panitia bersliweran di pos masing-masing untuk menyambut tamu FJFH. Stand makanan sudah dipenuhi kesibukan dengan para peserta menyiapkan makanan. Tepat jam 10.00 acara FJFH dibuka secara resmi oleh kepala sekolah. Beberapa sambutan dari pihak terkait bersahutan satu-persatu. Nuna berjaga di pintu masuk untuk melayani pembelian tiket ataupun menerima tamu undangan. Prabu mengecek ke seluruh area untuk memastikan semua berjalan baik, sementara Juna bercuap-cucp di atas panggung untuk memberikan hiburan bagi tamu yang datang. Kemeriahan berlangsung di semua sudut sekolah. Tiba-tiba dering HP memecahkan konsentrasi Nuna sesaat.
                “Na, cepat datang ke belakang panggung”, kata Triyan
“Ada apa, Yan?”
“Wah gawat, pengisi acara musik ke empat tidak datang, Na!”
“Kok bisa?! Juna gak bilang apa-apa sama saya kalau ada yang gak datang”
“Udah deh datang dulu ke sini.  Bantuin kita untuk cari solusinya”
Nuna segera berlari menemui Triyan dan Juna di belakang panggung.
Sesampainya di sana Nuna melihat tiga orang pria berdiskusi ramai.
“Gimana? Ada solusi gak?” tanya Nuna
Juna menggeleng, Triyan angkat tangan dan Prabu mengerutkan dahi tujuh lipatan.
Penampilan pengisi acara ke tiga sudah dimulai. Ah, semakin paniklah semuanya.
“Na, udah kamu aja yang naik. Kamu nyanyi dua lagu deh. Terserah lagu apa, yang penting jangan sampai kosong, gimana?”, perintah Prabu
“Hah, masksud kamu aku nyanyi, Prab?”
“Iya gitu deh. Kamu kan punya beberapa lagu andalan sekalian main gitarnya”
“Tapi…aku kan gak siap untuk…”
Belum selesai Nuna berbicara, Prabu langsung menarik tangan Nuna ke atas panggung karena penampilan ke empat harus segera dimulai. Sejenak Nuna tampak seperti orang linglung sambil memegang gitar yang diberikan oleh stage crew. Prabu tersenyum menenangkan Nuna dan menanyakan lagu apa yang akan ia bawakan.
Nuna mencoba menjawab pertanyaan Prabu dengan menyapa penonton dan mengatakan judul lagu yang akan dibawakannya. Prabu mengiringi dentingan gitar Nuna. Pelan tapi pasti alunan suara merdu itupun mengisi aula. Beberapa penonton ikut terbawa suasana dan bernyanyi bersama Nuna. Satu lagu beres, dan Nuna bernapas lega. Tepuk tangan meriah serta teriakan “lagi!lagi!” bergema seru.
Nuna akhirnya menyanyikan lagu one thing- One direction bersama Prabu. Beat lagu yang riang serta energik membuat semua penonton terlena. Mereka mengikuti lagu dengan berjingkrak di tempat.
Owh…cetar!

Tepat pukul 14.00 acara selesai dan ditutup dengan pembagian hadiah, door prize. Sebelum pembubaran panitia Pembina OSIS meminta semua panitia berkumpul di aula. Mungkin sudah bisa ditebak seperti apa ucapan yang keluar dari sang Pembina tersebut. Klise tapi memberikan kebanggaan bagi TIM 13. Semua bertepuk tangan atas keberhasilan acara.
                “Thanks Juna!” kata Prabu memberikan ucapan apresiasi kepada koordinator acara. Juna menjabat tangan Prabu.
                “Selamat juga buat kalian berdua. Kerja tim yang bagus”, jawab Juna sembari melirik Nuna yang berdiri di samping Prabu.
                “Ha…ha, bisa aja kamu Jun!”, kata Prabu lagi.
“ Yuk Juna, kami duluan” pamit Prabu sambil menarik baju Nuna.
“Oke”, jawab Juna datar. Matanya tak sekejap pun melewatkan pemandangan yang manis tapi membuat hatinya resah tanpa sebab.
Galau.com

Semenjak penampilan Nuna di atas penggung minggu lalu, banyak orang yang memuji talenta gadis mungil yang satu ini. Mulai dari suara merdu, piawai memainkan gitar hingga tawaran untuk bernyanyi di acara sekolah ataupun kelas mengalir padanya. Nuna tidak terlalu merespon semua pujian yang datang. Ia hanya tersenyum dan menganggap semua itu hanya dampak sesaat.
Nuna berjalan pelan menuju ke kelas. Sesekali terdengar suara lirih menyanyikan beberapa lagu. Kadang ia menggerakkan tangan atau menjentikkan jemarinya. Tampaknya ia sedang senang hari ini.
“Nuna! Tunggu bentar!”, suara dari belakang menghentikan langkahnya.
“Hei lagi happy nih? Pagi-pagi dah nyanyi-nyanyi.suaranya kedengaran tuh sampai ke lapangan parkir”, Jovi menyapa.
“Ah kamu Jo. Gak ada receh, ceu!”, jawab Nuna bercanda.
“Na, tugas dah beres belum? Dikumpulin hari ini kan?”, tanya Jovi lagi
“He eh katanya sich, emang kenapa?”
“Biasa, Juna belum ngumpulin tugas kelompoknya ke aku. Males banget deh kerja bareng dia. Uuuh”, keluhnya lagi
“Ooh…cerita basi kalo dia mah. Orang paling cuek sejagat raya kale. Udah ntar tagih aja”.

Jovi tidak menjawab. Mungkin ia masih kesal dengan cowok bernama Juna. Topik mulai bergeser menjadi rencana kunjungan ke Desa Cisayong Tasik dan pembubaran panitia TIM 13. Bahasan menjadi seru dan terdengar suara tawa. Rupanya mereka tidak sadar sepasang mata sedang memperhatikan dari atas balkon kelas.

Kedua gadis itu menaiki tangga untuk masuk ke dalam kelas. Tanpa sengaja Jovita melihat Juna sedang asik berdiri di pinggir balkon.
“Juna! Kamu bawa gak tugas bahasa Indonesia?” tanyanya
Juna menolehkan kepalanya dan hanya mengangguk.
“Mana tugasnya? Aku mau gabungin sama yang lain.”
“Ambil aja di bawah meja. Udah saya simpan di situ kok” jawabnya santai
“Iiih, ambilin gih. Malah nyuruh lagi”, seru Jovita ketus
“males ah. Ambil sendiri Jo! “, jawabnya lagi sambil ngeloyor pergi dengan Eko ke bawah.
Jovita mulai kesal dan berteriak memanggil Juna. Tapi EGP cowok yang satu ini.
HUAH…!

Pelajaran pagi ini memang terasa melelahkan. Setelah dua jam belajar rumus FISIKA, masih diteruskan dengan hitungan MATEMATIKA. Otak yang sudah panas terselamatkan dengan bunyi bel. Semua siswa berseru YES dan bersiap istirahat. 
Seorang cowok ganteng berdiri di depan pintu kelas Nuna. Ia sedang mencari seseorang rupanya. Saat menemukan yang ia cari, langsung saja cowok ini bergegas masuk.
“Juna, ntar siang ketemuan sama Pak Mansur yah. Jam 14 ditunggu rapat”, katanya
“Rapat apaan Prab? Emang mau ada kegiatan lagi?” tanya Juna
“Mungkin mau membahas tentang bantuan untuk Desa Cisayong sekalian pembubaran panitia”
“ooh itu. Sip deh. Nanti saya ke sana. Siapa aja yang rapat?”
“Aku, Nisna sama kamu”
Juna manggut-manggut mengerti. Ia pun keluar kelas. Namun Prabu masih tinggal di kelas Juna. Ia berharap bisa ngobrol atau bahkan mengajak Nuna untuk pergi ke kantin bareng. Prabu menghampiri bangku gadis itu. Nuna tampak sedang membereskan buku dan bangku belajarnya. Beberapa gadis yang lain berseloroh nakal melihat Prabu mendatangi Nuna. Mereka mulai usil dengan kedekatan Prabu dan Nuna.
“Na, nanti siang kamu ada acara gak?” tanya Prabu
“Gak ada. Kenapa?”
“Temenin aku ke toko buku yuk. Ada yang mau aku beli”. Mendengar toko buku Nuna tampak semangat dan langsung mengatakan siap. Semua orang tahu kalau Nuna hobi membaca Novel dan doyan beli buku.
“ah, kenapa gak bilang dari kemarin Prab. Aku pengen beli buku juga tapi gak bawa uangnya”
“santai aja Na. Ntar aku bayarin dulu bukunya deh. Ehm…tapi gak lebih dari cepe ya”, kelakarnya
“cepe? Dikit amat?! Nope kali…”
“he…he”, Mereka tertawa berdua sambil keluar kelas.
Assik nih!
Pertemuan dengan Pak Mansur ternyata menghasilkan kegiatan yang membuat TIM 13 senang. Mereka akan pergi ke Tasikmalaya dan mampir ke Gunung Galunggung. Nama gunung ini sangat terkenal dalam sejarah. Ia pernah memuntahkan debunya ke seluruh tanah parahiyangan di tahun 1988. Wah vacation euy!
Pulang sekolah Prabu menunggu Nuna di lapangan parkir. Ia tidak sendiri tapi bersama Juna. Setelah rapat selesai mereka pun bersiap pulang. Prabu berencana untuk mengajakan Nuna ke toko buku dengan naik motor. Lima belas menit Prabu menanti kedatangan gadis mungil tersebut. Tiba-tiba pundak Prabu ditepuk seseorang dari belakang.
“Prab, belum cabut  nih?”
“Eh, kamu  Ko. Belum brow. Aku lagi nungguin Nuna. Kami mau ke toko buku bareng”, jawab Prabu kalem
“Weiss, berdua aja? Aseek nih, ngedate yah?” tanyanya penasaran
“Bisa aja kamu…”, Prabu menjawab malu
Juna yang berdiri di samping Prabu hanya diam mendengarkan percakapan kedua temannya. Banyak hal berkecamuk di hatinya.
“Juna, cabut yuk. Aku ikut sampai jalan raya ya”, pinta Eko
“Boleh, naik deh”, Juna mempersilahkan Eko naik ke motornya
“Kami cao dulu. Eh… Prab ingat-ingat pesan mama yah, hati-hati!” serunya lagi menggoda
“Sipppp!”
Eko berlalu bersama Juna.
“Ngedate? Jadi Prabu sama Nuna itu…? Ehm…kok bisa? “,tanya Juna dalam hati.
Hufffh…

Pagi itu Nuna datang lebih pagi dari biasanya. Ia membawa gitar karena hari ini ada ekskul musik. Dentingan dawai gitar yang merdu sayup-sayup mengisi lorong kelas 10. Memang baru beberapa siswa yang datang, jadi sudah pasti lengang abis. Apalagi para biang kerok masih belum muncul membuat sekolah kondusif untuk mendengarkan suara semerdu dentingan dawai gitar Nuna. Gadis mungil ini menyanyikan lagu westlife terbaru  my light house. Ehem…!
Sepasang kaki tegap berjalan menaiki tangga, namun sempat terhenti sesaat.
“Siapa pagi-pagi gini udah konser?”, tanyanya dalam hati penuh rasa ingin tahu. Perlahan ia mengintip sumber suara tersebut. Ah, hatinya berdegup agak cepat melihat pemandangan tidak biasa di hadapannya. Perlahan ia mengetuk pintu dan sang gadis mengangkat wajah sambil terus bernyanyi.
“Na…tumben datang pagi?” tanya suara berat di hadapan Nuna
“Masalah?”, respon Nuna datar
“Nggak sih”, katanya lagi
“Lah kamu sendiri ngapain datang pagi-pagi gini?”
“Aku? Masalah?”, ia balik bertanya
Nuna tersenyum tipis sambil menatap cowok di depannya, lalu menggeleng. Cowok itu tak beranjak dari tempat duduknya. Ia semakin lekat menatap jemari Nuna yang terampil memetik senar gitar. Sesekali ia memandang wajah gadis mungil yang sempat membuat hatinya berdegup tak menentu.
“Pinjam gitarnya, boleh?”, tanyanya lagi
Nuna yang baru saja menyelesaikan bait terakhir dari lagu westlife mengangguk. Cowok itu pun langsung memainkan lagu saat Indah Bersamamu milik Pasha Ungu.
Nuna menyimak lagu itu. Terkadang ia pun menyanyikan beberapa bait lirik bagian ref-nya. Nuna kagum melihat cowok paling menyebalkan di kelas bisa bermain gitar dengan piawai. Selain itu suaranya punya karakter. Uffh, kenapa nih?
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Beberapa lagu mengalun, suara tawa kecil, perbincangan hangat dan senda gurau terdengar menemani pagi yang sunyi di lorong kelas 10.
Semua berhenti saat satu persatu siswa datang dan mulai ribut. Terutama saat Eko dan Jovita masuk secara bersamaan, suasana berubah bising. Kedua anak ini memang terkenal dengan the gaduh couple.
“Jun! kamu udah up date berita belum?”, tanya Jovita.
“berita apaan Jo?” Juna balik bertanya
“Kamu jadi perwakilan sekolah untuk mengantarkan bantuan dari sekolah kita”
“kata siapa? Emang kapan Pak Mansur bilangnya?”
“Kemarin sore waktu bubaran sekolah”, kata Jovita lagi
“mending kamu tanya sendiri gih!”, saran Eko cepat
Juna tidak banyak bicara. Ia memberikan gitar kepada Nuna dan beranjak pergi menemui Bos Mansur.
Bel berbunyi tanda pelajaran dimulai. Semua siswa berbaris di luar kelas, sementara Bu Ati sudah berdiri di depan pintu. Saat pintu akan ditutup, tampaknya tertahan karena kedatangan Juna. Tapi semua lancar ketika melihat Bu Ati mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Juna.
Semangat!

Ruangan OSIS tampak penuh. Pak Mansur mondar-mandir di depan sekumpulan siswa pengurus OSIS. Rupanya siang itu beliau sedang menerangkan tentang kegiatan pebubaran tim 13 dan pemberian bantuan kepada warga desa Cisayong Tasikmalaya. Tangannya menunjuk Prabu untuk menjadi ketua acara tersebut, sementara Juna, Eko, Triyan dan Idham bagian logistik dan akomodasi. Jovita, Nisna, Yuke dan Nuna bagian konsumsi, acara, dan dokumentasi. Pak Mansur menyampaikan bahwa mereka akan pergi ke Tasikmalaya pada Minggu ke 3 bulan ini. Keberangkatan pada hari Sabtu pagi jam 05.00.
                “Oh iya, Juna dan Eko kalian berdua pergi ke desa Cisayong untuk mewakili sekolah menyampaikan bantuan hasil acara FJFH. Nuna tolong dokumentasikan kegiatan tersebut ya”, perintah Pak Mansur kemudian.
                “Engh, Pak! Maksudnya saya ikut ke sana juga?”, tanya Nuna
                “kamu paham bahasa Indonesia kan? Harus bapak jelaskan lagi?”, jawabnya dingin
Kalau jawabannya sudah jawab begitu sama dengan “kamu bodo amat, weei!”
Clebbb….

Mobil melaju dengan santai. Eko duduk di sebelah Juna, sementara Nuna duduk di belakangnya. Jok belakang penuh dengan bahan bangunan sebagai simbol bantuan pembangunan ruang kelas di Madrasah Ar-Raffi, Cisayong. Sementara kedua cowok asik terlibat dengan obrolan seputar hobi otomotifnya, Nuna asik mendengarkan lagu dari Ipodnya. Posisi duduk bersandar ke jendela, tangan memegang novel setebal bantal, kacamata nempel di hidung memberikan kesan “jangan ganggu aku!”
Juna sesekali memperhatikan gadis mungil dari kaca spion dalam mobil.
                “ Na, gak pusing baca buku di mobil?” tanya Eko
Karena asik membaca dan telinganya budek dengan lagu, Nuna diam saja tanpa merespon.
Eko kesal dicuekin. Ia melempar jaketnya ke wajah Nuna, dan hupssh!
Nuna membuka jaket yang menutupi wajahnya. Ia menengok ke arah Eko yang cengengesan melihat Nuna terganggu dengan bau sengak dari jaket tersebut.
                “apaan sih, Ko?! Ganggu aja deh…”, sungut Nuna
                “ kamu gak pusing baca di mobil?”, tanya EKo
                “gak! Puas?...”, kata Nuna ketus
                “Woiy, minusnya nambah tuch. Udah dech simpan aja bukunya. Ntar kalo berhenti boleh kamu terusin” katanya lagi
                “Deuuu…sejak kapan care ama orang, brow?” kata Nuna
                “dari dulu. Kamu aja gak tau. Kamu pedulinya ama Prabu aja sih. Orang di depan mata dicuekin”, seloroh Eko ringan
                “kok Prabu dibawa-bawa? Udah ah…bahas yang lain aja”
                “Na, kalian lagi PDKT yah?” tanya Eko lagi
                “Hadeuuuh, no comment ah. Kepo banget sih kamu”, jawab Nuna.
                “Jujur aja Na, biar aku nyiapin hati nih. Ntar aku broken heart loh”
Nuna merespon permintaan Eko dengan melemparkan balik jaket bau ke arahnya.
Eko tertawa senang, menggoda Nuna yang mukanya merah padam karena malu. Juna tampak cuek dan fokus pada jalan di depannya.
Dua setengah jam perjalanan sudah ditempuh, dan mereka sepata untuk istirahat sejenak. Juna menepikan mobilnya di depan rumah makan Panineungan 2. Ia mengunci mobil dan segera masuk ke dalam rumah makan tersebut. Eko dan Nuna sudah terlebih dahulu memesan makan dan minuman untuk menghentikan music keroncong di perut mereka masing-masing.
                “kalian pesan apa?”, tanya Juna kepada Eko
                “ Ehm, aku sup buntut dan nasi sama jus jeruk”
                “Aku mie baso sama lemon tea hangat”, jawab Nuna
                “ya sudah, aku pesan nasi aja sama teh manis panas”
Juna berangkat ke bagian pemesanan dan kembali 5 menit kemudian. Sambil menunggu pesanan mereka sibuk membahas lokasi, kepala desa, dan berbagai hal yang bersangkutan dengan kegiatan charity sekolah.
Tak lama kemudian pesanan pun datang. Pasukan lapar segera melahap dengan semangat. Nuna menambahkan kecap dan saos sambal ke dalam mangkok bakso. Udara yang panas ditambah pedasnya bakso membuat wajah Nuna merah seperti kepiting rebus. Keringat membahasahi pelipis dan hidungnya. Eko memperhatikan hal itu tanpa sengaja. Segera ia mengambil tisu dari saku baju dan mengeringkan keringat di wajah gadis mungil tersebut. Reflek Nuna kaget bukan kepalang.
                “Thanks Ko! Aduh gak usah repot-repot deh”, tepis Nuna menghentikan Eko.
                “Aku kasihan aja lihat kamu kepedesan gitu”, jawabnya enteng.
                “He eh, gila sambalnya cetar banget nich”, sahut Nuna sambil menyeruput lemon hangatnya.
Tangan Nuna berkali-kali mengeringkan keringat yang membasahi wajahnya. Eko tidak tahan melihat Nuna kepedesan. Ia pun bergegas mengambilkan air putih dingin dan memberikannya kepada Nuna.
                “Wah thanks berat Ko. Kamu bener-bener perhatian sama cewek. Cocok sama tema kunjungan kita nanti, care and action”, canda Nuna sambil tertawa
                “eh bener juga kamu. Apa aku jadi Icon aja ya di spanduk care and action. Sayang gak ada yang shot kejadian barusan”, katanya sambil garuk-garuk kepala
Juna menggeplak kepala Eko sambil berkata,”Woiy ngarep.com!”
                Tiba-tiba suara HP bordering. Nuna mengambil hpnya dan menjawab sapaan seseorang.
                “Ya Prab. Kami baik-baik aja kok. Lagi makan siang nih. Ada apa,Prab?” tanya Nuna
“Mau tau aja kabar kamu. Jangan terlalu capek ya. Ingat minum air putih yang banyak”, instruksi Prabu kepadanya.
“Siap Prab. Don’t worry. Eko ngejagain aku kok. Eh, kamu lagi di kelas atau kantin? Rame banget…”
“Di kantin. Tadi mampir ke kelas mau ngajak kamu ke kantin tapi kamu gak ada. Yah sendirian dech, gak seru”
“Ciee…kangen yah sama aku. Duh gak ada receh yang bisa ditransfer bos. He…he…thanks ya udah telpon. Ntar aku telpon balik kalau dah sampai di Cisayong”.
“Ehm, ya…take care Na!”
“you too”. Klik putus deh sambungan telponnya.
Nuna tampak sumringah setelah mendapat telpon dari Prabu.Eko memperhatikan dengan wajah cemburu. Juna garuk-garuk kepala sambil nunduk.
“Prabu?”, tanyanya
Nuna mengangguk.
“Patah hati dah gue”, oloknya lagi
Juna dan Nuna tertawa bersama…
LEBAY.com
 Kini giliran Eko menyetir. Juna dan Nuna berganti tempat duduk. Juna tampak lelah dan mencoba merapatkan mata untuk istirahat sejenak. Nuna dan Eko semakin heboh ngobrol ngalor ngidul, ketawa cekikikan, nyanyi bareng dan ah entahlah apalagi. Juna sudah terbang ke alam lain…piece ah!

Akhirnya tiba juga di tempat yang dituju. Kepala desa dan beberapa perangkatnya sudah stand by di tempat. Mereka bersuka cita menyambut kedatangan Juna, Nuna dan Eko. Selagi Juna dan Eko berbincang-bincang, Nuna pun sibuk mendokumentasikan semua aktivitas mereka di kantor lurah. Setelah selesai beramah tamah dengan sang pemilik desa, maka Eko mempersilahkan para perangkat kelurahan untuk mengambil barang yang ada di mobil, tak lupa mereka pun menyerahkan amplop berisi sejumlah uang.
“Sampaikan terima kasih kami kepada Kepala sekolah. Kami juga menunggu kehadiran kalian kembali ke desa ini sesuai surat yang sudah diajukan. Kami sangat senang sekali menerima kehadiran kalian di sini”, begitulah kata-kata teriam kasih dari kepala Desa Cisayong Pak Djuhana.
“sama-sama pak. Kalau begitu kami pamit dan langsung pulang ke Bandung”, kata Eko kemudian.
Setelah selesai bersalaman dan pamit kepada semua perangkat desa, mobil meluncur kembali ke kota asal, Bandung tercinta.
“eh, mampir ke Gunung Galunggung Ko. Nanti kita kan ke sana, paling nggak survey dulu di sana ada apa aja”, pinta Nuna
“ehm, harus tanya dong sama orang sini lokasi galunggungnya dimana?”, jawab Eko.
“Boleh juga ide kamu, Na. Udah biar aku aja yang turun. Minggir dulu deh di depan ada orang, siapa tau bisa kasih tau arah jalannya”, kata Juna semangat.
Terlihat tangan mencatat petunjuk arah dari sang narasumebr. Juna menunjuk ke kanan, kiri, lurus ke depan, dan kepala manggut-manggut. Juna pun masuk mobil dan menyerahkan kertas catatan kepada Eko. Insting cowok memang bagus. Sekali tanya langsung sampai tujuan. Memang agak suit dan jalannya lumayan heboh karena rusak, tapi mereka tiba dengan selamat.
Arah pertama setelah masuk gerbang adalah ke Pemandian air panas. Wah…Eko tersenyum puas karena tempat itu lumayan mengundang hasrat untuk berendam, tiketnya pun murah. Pandangan nakal Eko dan Juna mulai mengusik ketenangan Nuna.Wah janga-jangan…
“Heh, ayo cap cus. Kita kan cuma survey ngapain lama-lama di sini?”
Kedua cowok itu bergeming di tempat. Kedua mata mereka mengisyaratkan untuk mencebur ke dalam kolam air panas itu.
“Hey! Halo-halo! Buruan ih…udah siang nih. Ayo balik”, perintah Nuna
Eko dan Juna memandang Nuna dan mulai bergerak untuk menceburkan diri bersama.
“Woiy, apaan nih?! Jangan dekat-dekat! Awas kalo berani aku lempar pake sepatu!” seru Nuna panik.
Juna tetap mendekat dan tanggannya mulai mencoba menarik jaket Nuna, sementara Eko diam di tempat.
“Juna! Jun! kamu yah…rasain sepatuku!” seru Nuna sambil melepaskan sepatu ke arah Juna.
Untung meleset kalau nggak udah “Plak!” kena muka Juna lumayan malu. He…he…he
Juna senang bisa membuat Nuna panik dan marah. Eko juga.
“Dasar  monyong, kalian semua!”, Sumpah serapah Nuna dalam hati.
                Keluar dari kolam air panas mereka bermaksud untuk melihat kawah gunung galunggung. Sempat terpikir kawah Galunggung letaknya tidak jauh seperti Tangkuban Perahu. Landai, mudah dijangkau dan tidak melelahkan. Tapi kenyataan berkata lain. Mereka harus menaiki tang 662 anak tangga. Hah! Mulut langsung manyun…sumpeh loh!
Karena sudah diniatkan maka harus dijalankan. Mereka mencoba naik satu persatu. Sepertiga perjalanan Eko sudah terengah-engah. Juna tetap maju pantang mundur. Nuna berjalan santai menghemat tenaga. Tangannya tidak lepas dari handycam yang dibawanya. Fuich, cape…sumpah!
Sebenarnya Nuna sudah tidak kuat. Ia duduk lama di dua pertiga perjalanan. Kepalanya pusing dan perutnya mual. Beberapa kali Nuna meneguk aqua dan menarik nafas panjang. Eko yang tadi sudah mogok mulai berjalan lagi sampai mendahului Juna 10 anak tangga. Juna berhenti sesaat dan duduk untuk berisitirahat. Jarak antara dia dan Nuna terpaut kurang lebih 15 anak tangga.
“Masih kuat nggak Na? kalo gak kuat udah turun aja”, katanya
“kuat, cuman mau istirahat bentar, kepalaku pusing Jun”, jawab Nuna
Juna tidak beranjak. Dia juga lelah, tapi sebenarnya Juna agak khawatir dengan Nuna yang sangat kelelahan. Cukup lama mereka beristirahat dan Juna melihat Nuna mencoba untuk melanjutkan perjalanan.
“Jun! buruan! Gila keren banget pemandangan di sini Brow! HOH…” seru Eko dari atas tangga.
Juna nyengir. Sempat kepikiran juga untuk menyusul Eko, tapi melihat Nuna kepayahan Juna bertahan di tempatnya.
“Aduh…Jun. AKu gak kuat ah. Susul Eko aja gih, aku mau di sini aja”, kata Nuna lemas
“Ayo tinggal dikit lagi, Na! sini aku pegangin tangan kamu. Kita naik bareng pelan-pelan”, kata Juna memberi motivasi
Juna turun menghampiri Nuna dan menggenggam tangannya. Ia mencoba memberikan kekuatan kepada Nuna untuk bisa sampai di atas. Susah payah Nuna berjalan dalam genggamannya hingga akhirnya berhasil di pinggir kawah. Untunglah di samping ada warung minuman yang agak teduh untuk duduk. Nuna pun istirahat di warung tersebut sambil menarik nafas panjang.
 “Ya Tuhan, sungguh Maha Besar Kau ciptakan gunung sebesar dan seindah ini. walaupun berat tapi sepadan dengan apa yang kami lihat”, puji syukur Nuna terhadap kebesaran sang pencipta.
Eko tampak berlari-lari di pinggir kawah. Senang, cape dan kekaguman bercampur jadi satu. Juna pun demikian. Mereka mengabadikan momen itu dengan menggunakan BB masing-masing. Nuna hanya senyum melihat ulah kedua temannya. Hingga tanpa sadar ada cairan hangat mengalir di lubang hidung kirinya. Nuna sudah tahu ia sedang mimisan. Tanpa banyak bicara ia menuangkan air ke telapak tangannya untuk membersihkan darah itu tapi rupanya tak juga berhenti.
Juna kembali ke warung untuk minum. Ia kaget melihat Nuna tangannya penuh darah.
“Na…Nuna, kamu mimisan?!”, tanyanya panik
Nuna hanya mengangguk dan mencoba mengambil tisu dari kantung saku jaketnya. Juna dengan sigap mengambil tisu tersebut dan membantu membersihkan hidung Nuna. Dengan telaten Juna meminta Nuna untuk merebahkan dirinya di bangku warung. Ia pun membuka jaketnya untuk dijadikan penyangga kepala Nuna.
“Ko! Eko! Sini buruan!”, panggil Juna kencang
Eko berlari mendekati Juna dan wajahnya berubah kaget melihat Nuna yang pingsan dengan darah di tisu.
“Nuna kenapa Jun? Dia terluka? Lo apain hah?!”, tanyanya lagi
“Heh, ngga terluka Cuma Mimisan. Dia sebenarnya udah kecapean tapi aku coba paksa dia untuk naik sampai ke sini”
“aduh! Terus gimana nih?”, kata Eko semakin panik
“Udah tenang aja dulu Ko, darahnya udah berhenti. Kita tunggu aja sampai dia sadar”, kata Juna lagi
Lumayan lama Nuna tertidur. Saat matanya terbuka dan mencoba bangun, Juna mencoba untuk menahannya dan kembali tidur. Nuna menolak dan dan berusaha duduk. Eko membantunya dan memberikan air minum.
“Gimana Na? udah baikan?”, tanya Eko penuh rasa khawatir
“santai…aku gak apa-apa lagi. Tadi cape banget, biasalah…” jawab Nuna menghibur
Eko meraba kening Nuna dan membereskan rambut Nuna yang berantakan. Sementara Juna seperti patung memperhatikan gadis mungil di hadapannya.
Ahhh…Nuna!

Dua jam mereka menikmati pemandangan dan suasana kawah galunggung. Cerita dari bapak warung tentang Eyang Semplak Waja sebagai leluhur di Galunggung menjadi bahan cerita untuk teman-teman di sekolah. Tepat jam 15.00 mereka beranjak turun. Nuna dan Eko berjalan bersisian, sementara Juna di belakang. Ada sebuah rasa tertinggal di kawah Galunggung. Juna menghela nafas dan merenungkan apa gerangan yang membuat perasaannya berkecamuk tanpa alasan.
Whatever…

Sepanjang perjalanan pulang, Nuna lebih banyak istirahat. Hampir saja ia lupa untuk menelpon Prabu.
                “Prab? Halo…ini aku. Kami lagi balik ke Bandung. Sorry, kelupaan nelpon”
                “Gak apa-apa. Udah sampai mana nih?”
“Ehm…baru keluar Tasik. Oh iya mau laporan nih, urusan dah beres, kepala desanya bilang terima kasih untuk sekolah kita”
                “oh. Bagus deh. Na, kamu baik-baik aja kan? Suara kamu agak aneh”
                “aku? Baik-baik aja cumin tadi mimisan bentar”
                “kok bisa?! Kamu kecapean tuh”
                Nuna hanya ketawa lirih mendengar Prabu mulai mengomel.
“Prab, udah dulu yah. Kupingku panas dengerin kamu ngomel melulu. Sampai besok”, ujar Nuna
                “Ntar kalo sempet aku mampir deh ke rumah”
                “Hem…ya, bye”
Nuna menutup telepon dan kembali memejamkan mata. 
                Take a rest, Nuna…

Hujan mendera bumi begitu deras. Seharusnya hal ini menyenangkan untuk kumpul keluarga dan melakukan kegiatan bersama. Tapi hal ini tidak berlaku bagi Juna. Ayah dan bundanya pergi ke Bali untuk urusan bisnis, sementara Adiknya Tata sibuk les bahasa Inggris. Uffh…apa yang harus aku lakukan? Tanya Juna dalam hati. Sudah beberapa kali Juna mondar-mandir dari ruang tamu kembali ke kamar. Berbagai kegiatan dilakukan mulai menonton acara TV, film, mendengarkan musik, memainkan piano, membaca majalah, hingga merebahkan diri di kasur. Semua terasa tidak menyenangkan dan hatinya kembali galau tanpa sebab. Akhirnya ia ambil kunci mobil dan melesat pergi tanpa tujuan pasti. Selama di perjalanan Juna menyalakan mp4 player dalam mobilnya. Ia mendengarkan lagu Melewatkanmu milik ADERA. Suara yang merdu dan syair yang melo sangat cocok dengan suasana hatinya saat itu. Entah mengapa bayangan Nuna dan kebersamaan mereka beberapa waktu yang lalu silih berganti menari di kepalanya. Kadang membuat Juna tersenyum, atau menghela nafas berat.
Ehm Nuna…

Mobil berhenti di area parkir toko buku terbesar di Bandung. Juna segera berlari masuk ke dalam toko karena hujan tak juga reda. Beberapa kali ia mengibaskan rambut dan jaket dari air hujan. Tak lama kemudian Juna menuju lantai atas untuk mencari buku. Cukup lama Juna mencari novel yang ingin dibelinya. Saat sedang asik memilih, seseorang menyenggol tangannya hingga buku terjatuh.
“Maaf, mas…gak sengaja”, kata seorang perempuan sambil berusaha untuk mengambilkan buku yang jatuh
Juna tidak berkata apapun. Ia diam dan terpaku ketika menyadari siapa yang menyenggolnya barusan.
“Nuna?!”, tanya Juna
Perempuan itupun terkejut saat namanya disebut.
“Eh, Jun. Ehmm, maaf ya aku gak sengaja. Beneran…”, kata Nuna pelan dan sedikit takut kalau Juna meledak emosinya.
“Oh gak apa-apa lagi. Ehm, kamu sendirian?”
“He eh, lagi cari buku novel nih. Kamu sendiri?”
“Idem. Udah ketemu bukunya?”
“Udah, sekarang mau ke kasir”
“Oh. Kalau aku belum ketemu novelnya”
“Memangnya kamu cari novel apa, Jun? mungkin bisa aku bantu cariin?”
Juna menyebutkan salah satu judul novel yang dimaksud. Nuna tanpa ragu membantu Juna mencarikan novel tersebut.
Perlu 45 menit untuk mendapatkan novel Juna. Setelah membayar mereka pun berniat untuk pulang.
“Nuna, kamu mau langsung pulang? Masih hujan lagi…”
“Nunggu dulu kali. Ntar kalau hujan dah berhenti aku pulang naik angot”
Merasa terbantu dengan kehadiran Nuna, Juna mulai menawarkan opsi kepada gadis ini untuk mengisi waktu. Ia mengajak Nuna untuk jalan-jalan ke mall di seberang jalan. Dewi Fortuna rupanya sedang berpihak kepadanya. Nuna dengan senang hati menerima ajakan tersebut. Juna menyewa payung untuk mereka berdua dan mulai menyeberangi jalan.
Ringan sekali kaki melangkah dan hati kedua insan itupun senang melewati beberapa konter barang yang ada di sekitar mereka. Akhirnya mereka masuk ke dalam konter kaos distro. Juna mencoba beberapa kaos serta topi. Ia menanyakan pendapat Nuna. Gadis itu kadang mengangguk, menggeleng, tersenyum atau menggerakkan telapak tangan tanda tidak cocok. Begitupun sebaliknya saat Nuna mencoba kaos distro yang dipilihnya, Juna melakukan hal yang sama. Saat sang pramuniaga menanyakan apakah ada yang akan dibeli, Juna langsung memegang pundak Nuna dan mengajak keluar. Kedua orang ini tak mempedulikan wajah pramuniaga yang sedikit kesal karena ulah mereka.
Juna dan Nuna tertawa menyadari kejadian tersebut. Lelahnya pun datang dan memaksa mereka untuk duduk sambil menikmati minuman kotak.
“Na, ternyata seru juga hang out sama kamu ya” puji Juna
“Masa sih?” tanya Nuna sambil memandang Juna di sebelahnya
Juna tersenyum dan mengangguk memastikan pujian yang dilontarkannya barusan. Pembicaraan beralih topik tak menentu. Nuna pandai membuka percakapan yang seru. Juna tanpa sadar terbawa arus keseruan itu. Hingga saat hujan pun reda…
“Jun… udah gak hujan tuh. Pulang yuk”
“Oke. Aku antar kamu pulang aja, gimana?”
“gak usah, Jun. Ngerepotin aja”
“ih beneran Na, lumayan kan ngirit ongkos”.
“ciyus?”
“mi apa?” kata mereka bersamaan
“Ha ha ha ha”, tawa mereka berdua
Uwohh…

I love Monday. Itu adalah motto Nuna dalam mengawali hari. Ia berjalan semangat memasuki lapangan basket. Pak Hardi sudah siap berdiri di tengah lapangan untuk mengajarkan basket. Olah raga memang pelajaran favoritnya.
“Anak-anak, ayo baris tiga bershaft…prittttttt!” seru Pak Hardi lantang
Semua anak mengikuti dan meminta Eko memimpin acara warming up.
Satu persatu gerakan dilakukan dan berhitung massal terdengar keras sampai ujung lorong kelas.
“Oke pemanasan selesai! Sekarang kalian lari keliling lapangan tiga kali”, perintah Pak Hardi.
Begitulah awal hari ini dilalui oleh anak kelas 10. Semangat pagi, sehat badan, sehat pikiran…
Setelah materi basket selesai diberikan, maka Pak Hardi membagi kelas menjadi 4 kelompok kecil. Setiap kelompok akan bertanding selama 15 menit kemudian bergantian hingga beres waktu olah raga.
Nuna kebagian kelompok tiga, sementara Juna kelompok satu. Kelompok Juna berhasil memenangkan partai awal dengan skor 16-6. Sekarang giliran kelompok Nuna melawan kelompok Eko. Lumayan ketat persaingan skor di antara kedua tim ini. susah payah kelompok Nuna mengalahkan Eko cs dengan skor 12-10. Partai final antara kelompok Juna dan Nuna. Keuntungan ada di pihak Juna, karena sempat berisitirahat. Pak Hardi memberikan waktu 10 menit untuk kelompok Nuna take a break.
“Prittttttt!prittttttt! ayo masuk mulai anak-anak!”, perintah Pak Hardi kepada kedua kelompok terakhir.
Keseruan sudah terasa dari awal pertandingan. Setiap lawan berusaha menerobos pertahanan masing-masing untuk mencetak angka. Nuna terlihat antusias memenangkan pertandingan ini. Ia mencoba mengambil bola dari tangan lawan dan melakukan shot three point dari luar garis. Berhasil! Skor berubah, kelompok Nuna leading 3 angka. Juna semakin bersemangat mengalahkan kelompok Nuna. Keringat bercucuran tidak dihiraukan mereka. Sampai bunyi peluit menghentikan keasikan permainan kedua kelompok. Sebagian anak mulai bubar untuk istirahat dan berganti pakaian. Juna dan Nuna masih tetap meneruskan basket bersama Eko,Jovita serta teman lainnya.
“Na! Nuna!”, panggil seseorang dari pinggir lapangan.
Nuna menghentikan aktivitasnya sesaat, segera menghampiri sang pemilik suara sambil bersorak gembira.
“Hai Prab! Kapan datang?”, sapa Nuna
“Kemarin sore, nih jus jambunya”, jawabnya sambil menyodorkan minuman tersebut
“wah traktir nih, thanks yah!”
“Gimana hasilnya Prab? Cerita dong”,
“Lumayan deh, aku masih harus ikut beberapa tes lagi. Kalau lolos, mungkin tiga minggu lagi berangkat ke Australia dan tinggal di sana selama 2-3 tahun”.
“Wuih keren Prab, selamat ya! Aku doain berhasil deh, tapi jangan lupa kirim-kirim kabar yah”
“Ehm…tapi kenapa aku agak sedih juga kalau lolos program ini ya?”
Nuna menatap Prabu untuk menanyakan alasannya. Prabu hanya tersenyum tipis sambil menghela nafas berat.
“Aku bakalan kehilangan kamu, Nun…” jawab Prabu lirih namun jelas terdengar di telinga Nuna.
“Idih, apaan sih Prab. Jangan mellow gitu deh, hari gini brow”, gurau Nuna sambil menepuk pundak Prabu. Tidak ada yang tahu kalau hati Nuna pun hancur berantakan mendengar Prabu akan meninggalkannya saat lolos program student exchange dari Pemerintah AUSAID.
Nuna berusaha mengabaikan perasaan itu. Ia tetap menyuntikkan semangat kepada Prabu. Kedua remaja ini menghabiskan waktu istirahat dengan cerita Prabu seputar program yang sedang ditempuhnya. Nuna senang sekali berkomentar jail dan membuat Prabu tertawa lepas. Beban sesaat lepas, dan hati Prabu terasa ringan melayang.
Girl…can I tell you the truth?

Undangan Pak Mansur untuk rapat pembubaran panitia FJFH Sabtu ini membuat pengurus OSIS hadir di aula. Prabu mulai menjelaskan tujuan pertemuan tersebut serta meminta Juna untuk menyampaikan rundown acaranya. Ternyata mereka semua akan berangkat dari sekolah jam 05.00 dengan menggunakan bis pariwisata. Tujuan lokasi adalah Gunung Galunggung di desa Cisayong Tasik. Semua bersorak gembira. “Sabtu…Sabtu!”
Sebelum bubar rapat, Prabu memanggil Nuna untuk koordinasi tentang hasil survey ke Cisayong beberapa waktu lalu bersama Juna dan Eko.
Setelah selesai koordinasi, ruangan aula kembali sepi tertinggal dua remaja yang duduk di kursi belakang.
“hei, pulang bareng yuk”, ajak Prabu kepada Nuna
“tapi aku mau mampir dulu ke toko kue, Prab. Mau beli bahan kue pesanan ibu”
“ok, aku temenin deh. Hari ini aku mau nganterin kemana pun nona mau”
“ihh, apaan sih. Bener nih, kamu gak keberatan?”
Prabu tidak menjawab. Ia memegang tangan Nuna dan mengajaknya berlalu.
Yeah…

“kring…!kring…!”, suara telpon berdering kencang membahana.
“Halo? Na..ini Prabu”
“Eh, Prab. Ada apa nih? Tumben nelpon ke rumah? Biasanya ke Hp?”
“susah banget nelpon ke Hp. lagi low bat atau mati hpnya?”
“heh masa sih? Mati kali, belum aku charge sih…he…he…”
“Nuna, besok aku jemput ya jam 04.00. pergi bareng ke sekolahnya”
“oh…gitu. Sip…sip, aku tunggu deh. Aku dah siapin kue keju dari Ibu untuk kamu katanya”
“he…he, thanks ya. Tau aja kue kesukaaanku. Jangan lupa ya besok jam 4”.
“siap bos! See you tomorrow, Prab”
Telepon terputus dan Nuna segera bergegas menyiapkan barang untuk pergi ke Galunggung besok pagi.
Jam 04.00 suara mobil terparkir di halaman rumah Nuna. Prabu turun dan mengetuk pintu. Kebetulan yang menyambut kedatangannya adalah Pak Rusli, ayah Nuna.
“Eh, Prabu…apa kabar? Ayo masuk dulu”.
“Pagi Pak. Kabar baik, terima kasih”
“Duduklah dulu, Nuna sedang bersiap-siap. Sebentar lagi dia keluar kamar”.
Prabu segera duduk ditemani Pak Rusli.
“Gimana kabar ayah ibumu, Prab?”
“Oh, baik-baik saja Pak. Mereka baru saja pulang dari Papua.”
“Wow, makin sibuk aja ya. Ehm…salam untuk kedua orang tuamu ya”
“Baik Pak, Nanti saya sampaikan”
Tiba-tiba suara Nuna menghentikan obrolan tersebut.
“Ayah, Nuna berangkat dulu ya”.
Nuna menghampiri ayahnya untuk berpamitan.
“Hati-hati, Na! baik-baik ya di sana” kata bunda Maryam
“Prabu, kami titip Nuna ya. Baik-baik di perjalanan”, pesan Pak Rusli
“Baik Pak, Bu. Kami pergi dulu”, jawab Prabu sembari mencium tangan kedua orang tua Nuna.
Tepat jam 04.30 mobil Prabu tiba di sekolah. Tampak bis besar terparkir di sana. Beberapa anak sudah duduk dan ngobrol.
“Prab! Spanduk mau dipasang sekarang?”, tanya Triyan
“Ehm, boleh. Pasang aja di sisi kiri bis. Oh iya, anak-anak udah datang semua?” tanya Prabu
“Gak tau juga. Sepertinya Yuke lagi ngecek tuh”
“Oke deh, aku masuk dulu ya”
Sementara Nuna menyiapkan peralatan dokumentasi yang dibawanya dari rumah. Kamera SLR Nicon selalu menemaninya kemanapun Ia pergi.
“Na! ciee…nyubuh banget datangnya. Sama siapa?”
“Eh kamu Jo. Sama Prabu, kamu sendiri?”
“Diantar sopir. Ih, kamu enak banget sih. Kayanya Prabu siap antar jemput gitu”
“Hi…hi, mungkin karena rumah kami searah jadi sekalian aja kali. Emang kenapa, Neng?”
“Coba aku yang dia jemput, yah. Kira-kira dia mau gak, Na?”
“Hei, ada apa nih? Kok aku jadi curiga. Ada rasa nih sama Prabu? Cieee…Jovita?”
Nuna mencoba mencari tahu arah pembicaraan Jovita tadi. Rasa penasaran atau cemburu membuat Nuna agak curiga.
“He…he, belum lama sih Na. Sejak acara FJFH aja. Aku jadi suka mikirin dan ekstra perhatian sama segala hal tentang dia”
Cleb…ada gundah yang Nuna rasakan. Baru kali ini Nuna merasa sesuatu yang tidak nyaman dan mengganggu hatinya ketika Jovita mengatakan hal tersebut.
“Hah?! Kamu serius, Jo?”
“He eh, beneran deh. AKu sebenarnya mau tanya kalau kamu sama Prabu sebenarnya gimana sih”
Nuna tercekat dan bingung mencari jawaban yang ia sendiri tidak tahu.
“Ehm, gimana ya Jo. Kalau aku merasa kami ungh…sahabat. Ya, sahabat dekat gitu deh”
“Ah aku gak percaya. Kalau teman-teman bilang kalian dekat banget bahkan keliatan kaya pacaran”
Jovita semakin gencar menanyakan hubungan Nuna dan Prabu. Bingung dan kesal bercampur aduk sehingga membuat Nuna berniat untuk menyuruh Jovita berhenti bertanya. Untunglah sebelum niat tadi dilakukan, Juna datang menyelamatkan suasana.
“Jo, konsumsi udah beres? Supir jangan lupa dikasih ya…”, pesan Juna singkat
“Oh iya, Jun. Aku bagiin dulu deh ke anak-anak sama supir”, kata Jovita sambil berlalu pergi
Uffh, plong! Nuna menarik nafas dan mencoba menyapa Juna yang masih berdiri di depannya.
“Hai, Jun!”
“ehm…kapan datang? Bareng Prabu ya?”
“iya, ih kok kamu tau? Ngintip yah?”
“Kalian kan seperti prangko sama lemnya. Udah rahasia umum lagi”
“Weiss, kamu orang kedua yang bilang itu. Masa sih?! Aku gak percaya…survey dulu ah”, kata Nuna sembari jalan menghampiri kerumunan anak-anak OSIS lainnya.
Juna hanya menggaruk-garuk kepalanya walaupun tidak gatal dan menatap gadis itu berlalu.

“Teman-teman dimohon kumpul di lapangan parkir! Kita akan segera berangkat!”, suara Prabu dengan toanya mengejutkan semua anak yang sedang asik ngobrol.
Tampak Pak Mansur dan Pak Hardi sudah berdiri di lokasi, bersiap-siap memimpin acara keberangkatan rombongan TIM 13 ke Cisayong. Setelah berdoa, Pak Mansur mempersilahkan anak-anak untuk masuk ke dalam bis. Prabu memilih duduk di belakang bersama Eko dan Triyan. Sementara Jovita duduk bersama Nisna. Ia memilih tempat yang tepat berada di depan kursi Prabu. Nuna memilih duduk di belakang supir bersama Yuke. Sebagai petugas dokumentasi, Nuna harus aktif mengabadikan setiap momen.
Nuna berusaha untuk mengabaikan ketidaknyamanannya melihat Jovita bersemangat mendekati Prabu.
Keseruan dan kegaduhan mulai berlangsung sepanjang perjalanan Bandung-Tasikmalaya. Eko dan Juna bermain gitar sesuai request anak-anak. Seharusnya itu adalah hari yang menyenangkan, tapi Nuna merasakan sebaliknya. Ia bimbang, dan mendung merambati hatinya.
So bad!
Akhirnya rombongan TIM 13 tiba di tujuan. Pak Mansur dan Prabu segera turun untuk bertemu dengan kepala desa Cisayong. Penyambutan yang luar biasa diterima oleh TIM 13. Musik rebana dan lengser menyambut kedatangan Prabu cs. Para warga menyiapkan hidangan yang beraneka ragam bagi tamu istimewa dari kota tersebut. Acara ramah tamah berlangsung cukup lama. Nuna sibuk meliput momen tersebut dengan menerima orderan foto dari banyak orang.
“Na, ayo gentian kamu yang difoto. Sini kameranya!”, perintah Juna tiba-tiba
Nuna segera berlari ke barisan kepala desa dan warga yang akan difoto bersama rombongan TIM 13. Acara pun usai dan mereka melanjutkan perjalanan ke gunung Galunggung. Nuna sempat ciut untuk ikut naik tangga 662.
“Wah gila brow, tinggi banget!” seru beberapa anak terkejut.
“Eh, keren lagi! Penasaran nih, naik yuk!” kata anak lainnya
Tiba-tiba terdengar Jovita mengajak Prabu untuk menemaninya naik ke bibir kawah Galunggung.
“Prabu, naik yuk! Temenin kita. Nanti kalau kita gak kuat, kamu bantuin ya!” rajuknya manja
“Bantuin? Sama Triyan Eko ajalah. Kalian banyakan gitu aku gak kuat kali”, tolak Prabu halus
Bukan Jovita kalau mudah putus asa. Ia akan terus merajuk hingga lawannya tidak bisa menolak permintaannya. Yup berhasil! Prabu, Eko, Triyan dan Idham mulai asik bergabung dengan Jovita cs.
Nuna hanya diam terpaku melihat semua kejadian yang tidak ia sangka sebelumnya. Jovita…?
“Hai! Bengong aja! Kesambet, tau rasa loh!”, suara Yuke mengejutkan Nuna.
“Ngaco aja kamu! Aku lagi berpikir ulang untuk naik ke atas. Cape, cuy!”, elak Nuna
“Emang sih, tapi ngapain juga kamu di sini sendirian? Garing lagi…”, katanya pula
“Ehm…gimana kalau kita pake jalur bawah. Kayanya seru juga kali?”, jawab Nuna
“Bener juga kamu. Aku juga males naik tangga sebanyak itu mah. Kamu tahu jalannya?”
“kata si Bapak warung kita tinggal ikutin jalan setapak. Terus nanti kita akan berada tepat di tengah kawah dan bisa jalan-jalan di kawah itu, cuy”, kata Nuna semangat
“Hei, Juna! Aku sama Nuna pake jalan alternative yah. Bilangin sama Prabu!” seru Yuke
Juna segera mendekati Yuke dan menatap heran. Belum sempat ia menjawab permintaan Yuke tiba-tiba Pak Mansur dan Pak Hardi sudah terlebih dahulu mengajak mereka untuk melalui jalan alternative yang dimaksud. Tentu saja permintaan itu langsung diterima oleh Nuna dan Yuke. Juna tampak bingung memilih jalan ke bibir kawah. Namun ia memilih mengikuti Pak Hardi. Jalan tanah yang basah karena air hujan membuat mereka harus berhati-hati melangkah agar tidak terpeleset. Di kanan kiri jalan setapak itu terdapat banyak pohon kayu serta pinus. Pak Hardi dengan semangat menceritakan masa kecilnya di Tasikmalaya kepada Pak Mansur.  Beliau sudah tidak asing lagi dengan Galunggung ini. Sementara Nuna, Yuke dan Juna asik menikmati perjalanan.
Memang benar ternyata waktu tempuh jalur alternative lebih cepat. Mereka melambaikan tangan dan berteriak memanggil anak lain yang berdiri di bibir kawah. Nuna melihat dari kejauhan Prabu dan Jovita berdiri bersisian. Beberapa kali Jovita meminta berfoto berdua bersama Prabu. Wah, Nuna merasa ilfeel. Beruntung saja Yuke bisa mencairkan suasana hatinya dengan mengajak jalan ke dekat kawah dan berfoto bersama. Juna menjadi fotographernya. Ia sibuk melayani sikap narsis dari Yuke dan Nuna.
Bad day!

Sebelum kembali ke Bandung, TIM 13 mampir ke Cipanas untuk berendam air panas. Sudah bisa dibayangkan betapa serunya kegiatan yang satu ini. Anak perempuan mandi di bak air panas ruang tertutup, sementara anak laki-laki di kolam luar. Nuna yang sedang bad mood memutuskan tidak berendam. Ia asik duduk sendiri di bawah warung tenda mengamati hasil jepretannya.
“Na, kamu gak gabung sama anak cewek laiinya?”, tanya Prabu heran
NUna menggeleng dan mengatakan tidak berminat. Prabu meletakkan telapak tangannya di pelipis Nuna untuk mengecek apakah gadis ini baik-baik saja.
“Kamu gak sakit, kok. Kenapa sih? Lagi palang merah ya?” tanyanya lagi penasaran
“ihhh, nanya apa interogasi nih. Kepo deh”, jawab Nuna sedikit kesal
“udah gih, nyebur aja. Tuh si Eko manggil terus!” perintah NUna lagi
Prabu sempat berdiam diri sesaat dan menatap Nuna dengan perasaan khawatir. Nuna pun berdiri dan menarik tanggan Prabu untuk segera bergabung dengan teman-temannya. Awalnya Prabu menolak namun Nuna dengan gesit mendorong Prabu masuk ke dalam kolam.
“He…he, sorry Prab”, kata Nuna senang.
Prabu menyiramkan air hangat ke wajah Nuna sambil mengomel tak menentu.
Kejadian itu hanya berlangsung sebentar, karena setelah itu Prabu sudah tenggelam dengan kenikmatan air hangat dan candaan teman-temannya.
Hadooh!

Rupanya Nuna tidak sendiri. Tiba-tiba Juna datang dan duduk di hadapannya sambil memegang gitar.
“Heh, kok?!” tanya Nuna terkejut
Juna menggeleng dan mulai memainkan gitarnya pelan
“Males ah, lagian lupa gak bawa baju ganti”, jawabnya lagi
Nuna tidak terlalu merespon jawaban Juna. Ia kembali sibuk dengan kameranya. Juna menyanyikan lagu Maroon-5 when the day light dengan semangat.
Nuna menoleh dan mencoba menyanyikan lirik lagu yang sedang ngehits saat ini. Sejenak Nuna melupakan kebeteannya. Ia dan Juna bergantian memainkan gitar dan menyanyikan lagu bersamaan. Suasana berubah ceria dan mendung kelabu itupun berubah menjadi biru. Kabut yang turun tidak mengganggu kehangatan yang dirasakan oleh kedua remaja tersebut.
Getar dawai gitar  menghiasi kabut Cisayong…uwoooh

Semenjak acara ke Cisayong, Nuna merasa sedikit salah tingkah berada dekat dengan Prabu. Ia merasa khawatir dengan Jovita yang sewaktu-waktu melihat kebersamaan ataupun menanyakan status di antara mereka. Ia mencoba bersikap biasa walaupun Prabu sering menunjukkan perhatian kepadanya. Kadang Nuna menghindar ketika Prabu mengajak pulang atau makan bareng di kantin sekolah. Ia lebih suka pergi sendiri atau bareng sama Yuke, Eko dan Juna. Rupanya hal itu menjadi peluang bagi Jovita untuk semakin mendekati Prabu. Pepatah Jawa weting tresno jalaran soko kulino ternyata manjur. Hanya perlu waktu satu bulan berita jadian Jovita Priscilla dengan Prabu Mahardika menjalar di seluruh jagad raya. Semua menyambut bahagia, dukungan mengalir kepada pasangan baru tersebut. Tidak ada yang peduli hati Nuna yang remuk bagai serpihan debu.
Lamunan Nuna terganggu dengan dering Hpnya. Agak malas untuk menjawab, Nuna pun menyapa pelan sang penelopon di seberang sana.
“Nuna! Ini Prabu. Sibuk ga? Hang out yuk”, ajak Prabu semangat
“Hei Prab. Aduh males ah, aku lagi pw nih”, tolak Nuna datar
“PW? Apaan tuh?”
“ah, katrok! Posisi wuenak tau…”
“oh, ha…ha…ya udah aku main deh ke sana”
“terserah kamu aja. Kalau mau ke sini buruan! Ntar aku keburu tidur”
“sippp lah. Lima belas menit lagi, ya”
Nuna tidak menjawab dan langsung menutup hp. Rasa senang dan gelisah campur aduk. Inikah rindu?
Tidak lama kemudian suara gerbang dibuka. Nuna melihat dari balik kaca jendela kamarnya siapakah yang datang. Hatinya langsung berbunga-bunga saat sang jejaka berkacamata keluar dari mobil.
“Prabu!”, jeritnya dalam hati.
Nuna segera mematutkan diri di depan kaca rias. Ia menghias pipinya dengan bedak tipis dan berganti baju yang bermotif bunga-bunga. Tak perlu menunggu lama, Prabu sudah dapat menemui gadis imut bernama Nuna.
“Tumben nih mampir?” sapa Nuna
“Kangen juga sama kamu, Na. Sebulan ini kita kan gak pernah pulang bareng. Setiap kali aku ke kelas kamu pasti udah kabur sama Eko dan Yuke”
“Wah, gimana yah? Ntar ada yang ngambek kalau kita jalan bareng?” goda Nuna
“Ih, apaain sih?”, elak Prabu malu
“apa kabarnya nih yang baru jadian?”, tanya Nuna lagi
“biasa aja. Jadi kagok sih, abis kemana-mana harus bareng. Terus…harus sering telpon sebagai tanda perhatian katanya”, kata Prabu sambil nyengir.
“bagus dong. Kan cinta?”
“udah ah, malas bahas tema cinta. Eh, kamu kenapa sih ngilang terus. Udah gak mau temenan lagi sama aku?”
“bukan gitu, Prab. Aku jaga perasaan Jovita. Kasihan kan kalau dia jadi salah sangka sama kedekatan kita”
“tapi Na…aku merasa lebih nyaman bareng sama kamu deh. Bisa apa adanya, santai terus semuanya jadi seru”, jawabnya lirih
“belum terbiasa kali, Prab. Tunggu deh beberapa bulan lagi, pasti kamu klik sama Jo”, kata Nuna menguatkan hati
Prabu tertunduk dan memainkan rambut dengan jarinya. Helaan nafas berat keluar dari mulut Prabu. Suasana hening menciptakan kebekuan di antara mereka. Sampai akhirnya Prabu membuka suara.
“Na, aku lolos tes tahap akhir. Mungkin dua minggu lagi aku harus ke Ausy”, kata Prabu sambil menatap Nuna. “Sepertinya aku gak bisa membawa beban saat pergi nanti. Ehm maksudku, aku mau putus aja sama Jovita, Na”
Nuna sama sekali tidak menduga Prabu akan mengeluarkan pernyataan semudah itu. Ia tidak berani memotong perkataan Prabu. Hatinya berdebar-debar menunggu kalimat apa yang akan keluar berikutnya.
“Menurut kamu keputusanku benar gak? Aku tidak mau Jovita terikat hubungan sama aku, Na. Takdir kan gak ada yang tahu. Mungkin aja suatu hari nanti aku atau Jovita bertemu dengan orang yang tepat dan itu akan lebih baik dari sekarang, iya kan?” jelasnya lagi
Prabu berharap dukungan dari Nuna untuk keputusan yang akan diambilnya.
Nuna menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata,”Prab, aku ngerti keputusan itu…tapi Jovita belum tentu bisa menerima”
“Yah…tapi aku mau coba bilang sama dia. Semoga aja Jo bisa terima. Lagipula perasaanku gak terlalu dalam sama dia”, sahutnya lirih
“Wah, orang stress nih. Gak cinta kok jadian?”, tanya Nuna kesal
“Yah, sebenarnya waktu itu aku iseng. Satu sisi aku senang dapat perhatian lebih dari Jo, sementara sisi lainnya dia bukan tipe gadis yang aku suka. Tiba-tiba dia nembak aku di depan teman-teman kita. Antara senang dan kasihan kalau cintanya aku tolak makanya kami jadian aja”
Kalimat terakhir benar-benar membuat Nuna sesak nafas. Ya, Tuhan ternyata Prabu bisa bersandiwara juga.
OMG!
Siang itu Nuna melihat Jovita menangis tersedu-sedu di toilet perempuan. Matanya sembab dan tisu bertebaran dimana-mana.
“Jo…kamu kenapa?”, tanya Nuna pelan
“Na! aku putus sama Prabu!”, katanya dengan suara parau
“Putus? Emang kapan mutusinnya?”
“tadi waktu istirahat. Jo gak bisa terima alasan Prabu mutusin dia”, jelas Nisna sambil menepuk pundak Jovita
“Na, bantu aku untuk balikan lagi sama dia dong. Aku gak keberatan kalau dia mau ke Ausy. Aku juga gak keberatan hubungan jarak jauh. Aku gak mau putus sama dia. Tolongin aku, Na”, pintanya
Nuna terdiam dan bingung harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk dan mengusap punggung tangan Jovita pelan.
Waduh?!

Waktu berlalu begitu cepat. Nuna tidak berhasil membuat Prabu mengubah keputusannya. Tampaknya Jovita pun terpaksa menerima PHK akan cintanya. Tepat hari Sabtu Prabu meminta Nuna dan beberapa temannya untuk mengantar ke bandara. Hari itu Prabu akan terbang ke Ausy dan menetap di sana selama beberapa tahun. Sebelum masuk boarding pass Peabu menitipkan surat untuknya dan meminta Nuna membacanya setelah pesawat lepas landas. Ah sinetron banget!
Satu persatu Prabu menjabat tangan dan berpelukan dengan Eko, Triyan, Idham, Juna dan Yuke. Saat dengan Nuna, Prabu hanya mengusap rambut dan memegang tangan gadis itu erat seakan enggan untuk dilepas.
“Aku pergi dulu, Na. Baik-baik ya selama aku gak ada. Ehm, balas emailku gak pake lama!” katanya sebelum berlalu.
Nuna tersenyum dan sekuat tenaga menahan butiran air yang menggenang di matanya.
“Selamat  jalan, teman! Hati-hati di negeri orang. Semoga kamu selalu sehat dan sukses selalu”
“Thanks Na!”
Hah…kenapa jadi mellow gini yah suasananya.
Prabu masuk boarding pass dan melambaikan tangan.

Nuna membaca surat Prabu setibanya di rumah. Isi surat yang tidak terlalu panjang namun membekas dalam hati.
Dear Nuna,
Aku berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu dalam suasana yang lain.
Aku bermimpi kita bisa lebih dari sekedar teman dekat.
Karena kamu selalu membuat hari-hariku biru
Namun aku takut untuk memulainya.
Aku takut kehilangan kamu saat ada kerikil atau ombak menghadang
Aku takut kebersamaan kita menjadi dingin dan beku seperti es jika itu terjadi
Aku hanya mau melihat kamu bahagia saat kita bersama
Jika boleh berharap aku mau kamu mengisi semua hari dalam hidupku
Tapi aku juga tidak mau membuat harapan semu
Tetaplah menjadi Nuna yang kukenal
Semoga kamu selalu bahagia dan jangan lupakan aku, ya!  Awas!
Temanmu,
Prabu
Hua…hua…

Dua bulan berlalu tanpa Prabu. Nuna mengatur irama hidupnya agar tetap semangat dan ceria seperti dulu. Ada kebiasaan baru yang Nuna lakukan saat ini, yaitu menciptakan lagu romantis.
Tidak ada yang tahu lagu itu ditujukan untuk siapa atau alasan tertentu. Misterius…
Tiada waktu berlalu tanpa gitar di pangkuan Nuna.
“Na, pinjam gitarnya lah”, kata Eko tiba-tiba
“Wuidih, sejak kapan kamu bisa main gitar Ko?”, tanya Nuna heran
“semenjak gadisku ditinggal pujaan hatinya”, jawab Eko santai
“gadisku? Gadis yang mana?”
“gadis yang ada di depanku, masa kamu gak kenal?”
“hah, Nuna maksudnya?” teriak Juna dari luar kelas
Eko tersenyum tipis sambil terus memainkan gitar
“Hei brow, jangan makan tulang kawan dong. kamu harus tanding main gitar dulu sama aku. Siapa yang terbaik dan dipilih Nuna barulah menjadi cowoknya, iya gak Na?”, kata Juna lagi
“Wah, kalian udah takabur nih. Gile brow, kamu gak takut Nisna cemburu?”, kata Nuna bercanda
Eko manyun dan menggelengkan kepala.
“Ha…ha…dasar playboy cap kadal! Ayo ah cabut ke kantin”, ajak Juna lagi
Nuna mulai terbiasa dengan candaan Juna dan Eko yang sering menggodanya. Menurut isu yang beredar salah satu dari mereka menaruh hati padanya. Tapi untuk saat ini Nuna hanya berkata whatever!
Sembari menuruni tangga Nuna menyanyikan lagu  I am single and very happy J

THE END

tes, ini bukan buatan admin muti ya :D

Labels: , , , , ,


Older Post | Newer Post