Getar Dawai Hati Nuna
07.30
Siswa kelas 10 Keen sudah
berbaris dan bersiap masuk ke kelas. Bu Ati sebagai wali kelas berdiri di depan
barisan dan mulai mengecek kehadiran siswanya satu persatu dalam barisan
tersebut. “Oh ternyata ada yang belum datang rupanya”, gumam Bu Ati dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara seorang
gadis memohon untuk tidak ditutup pintu kelasnya.
“Bu Ati! Tunggu bu, tunggu…!”,
nafasnya tersengal-sengal karena harus berlari menaiki tangga sekolah sebanyak
dua tingkat.
“Maaf bu, saya…aduh sebentar bu,
sesak nafas nih…”, ujar gadis tersebut memelas.
“Nuna?! Tumben kamu datang
terlambat. Kenapa?” tanya Bu Ati
“Anu bu, ban motor ojeg kempes,
jadi saya harus jalan dan mencari ojeg lagi. Maaf bu, boleh masuk ya bu?!”,jelas
Nuna
“Oke, tapi lain kali no way”,
jawab Bos besar kelas 8 Keen tersebut.Nuna mengangguk,
Nuna berjalan masuk dan bernafas
lega karena tidak perlu pergi ke guru piket untuk melapor.
Fuihhh akhirnya…
11.30
Waktu istirahat. Semua bergegas
pergi ke kantin untuk berburu makanan. Namun Nuna tertahan di kelas karena
sebuah pengumuman.
“ Nuna! Juna! Eko! Bisa bicara
sebentar”, panggil seorang cowok di luar pintu.
Nuna bergegas mendatangi cowok
itu dan bertanya,” Prabu? Ada apa nih? Serius amat”.
“Nanti jam 15.00 Pak Mansur
meminta semua pengurus OSIS untuk rapat acara community service bulan depan di
aula. Tolong kasih tau yang lainnya ya”.
“Oh, pengurus inti atau semuanya,
Prab?”, tanya Eko
“Semua tanpa kecuali. Ok,
guys…aku cap cus dulu ya. Eh, Nuna kamu makan siang bareng yuk sama aku?”, ajak
Prabu.
“Aku doang?Juna Eko gimana?”
tanya Nuna
“Mereka biar aja beli sendiri, ya
nggak brow?”, jawab Prabu
Juna dan Eko meringis sambil
mengangguk.
“Traktir nih? Oke”, Nuna
tersenyum riang dan meninggalkan Juna serta Eko.
15.30
Aula mulai dipenuhi pengurus OSIS
sekolah Pelita Bangsa. Pak Mansur sebagai Pembina OSIS pun sudah datang dan
berdiri di depan ruangan. Dalam kamus beliau tidak ada kata terlambat, sehingga
semua siswa harus hadir ON TIME.
“Selamat siang menjelang sore
anak-anak. Rapat kita hari ini membahas acara community service untuk bulan
depan, kemudian membentuk kepanitiaannya…”,Pak Mansur mulai bicara dan semua
siswa serius menyimak kata-demi kata.
“Ok kalau semua sudah paham maka
kita mulai saja pemilihan ketua dan pengurus kegiatan Care and Action to
Others”.
Satu per satu nama peserta yang
hadir mulai disebut dan dinominasikan sesuai posisi yang ada di papan tulis.
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya kepengurusan tersebut telah terbentuk.
Prabu sebagai ketua, Nisna bagian kesekretariatan, Nuna humas dan marketing,
Juna divisi acara, jovita pegang bendahara, Triyan bagian dekorasi dan Eko bidang
logistik serta peralatan. Action plan mulai dibuat oleh tim 13 begitulah nama
kepanitiaan ini.
“Teman-teman semua kita hanya
punya waktu tujuh minggu dari sekarang. Saya berharap semua penanggung jawab
bidang mulai bekerja dan membentuk kepanitiaan kecil untuk mensukseskan Care
and Action bulan depan. Kita akan berkumpul lagi pada hari yang telah
disepakati dalam action plan TIM 13. Selamat bekerja dan rapat saya tutup”,
instruksi Prabu pada TIM 13.
Wuicch…kerja deh!
MINGGU
ke-1
Juna mulai mengonsep acara
bersama timnya. Mereka berencana untuk mengadakan Festival Joy Food and Happiness. Sebuah konsep bazaar makanan
kreasi anak muda yang dibuat dengan bahan dasar buah dan ikan. Acara ini
bersifat umum sehingga para peserta tidak perlu ribet dengan birokrasi sekolah.
Selain itu Juna pun merencanakan untuk memberikan hiburan lagu untuk para tamu
yang datang menikmati festival Joy food and happiness. Tujuah pengisi acara
sudah disusun tinggal menghubungi dan melakukan pendekatan agar mereka mau
menjadi partisipan dalam kegiatan FJFH.
Sementara Nuna dan Nisna sibuk
menyiapkan proposal, mendata para sponsor, membuat undangan untuk tamu
kehormatan sekolah, membuat poster, dan sebagainya. Biasalah dalam sebuah
kegiatan pasti kedua bidang ini yang paling diandalkan untuk mendapatkan dana
dan menghadirkan banyak orang untuk datang.
Bagaimana dengan Prabu?
Oh, ternyata sang ketua acara
gencar mempresentasikan konsep acara kepada kepala sekolah dan jajarannya agar
mendukung dalam pendanaan awal. Maklum keuangan OSIS minim, sehingga
membutuhkan suntikan dana dari sekolah. Bisa dibayangkan kalau kegiatan ini
tidak bisa meyakinkan sang BIG BOS, maka apa kata dunia?
Tampaknyua semua orang sedang
fokus dengan rencana kerja masing-masing.
What a hard week…
MINGGU
ke-2
Aula mulai ramai dengan pengurus
OSIS. Mereka menyampaikan laporan hasil kerja mingguan kepada pak ketua FJFH.
Prabu terlihat antusias dengan penjelasan masing-masing divisi. Wajahnya kadang
mengkerut, tersenyum sesekali, matanya berbinar tanda semangat, tangannya
mengetuk-ngetuk meja, atau menggaruk kepala, memegang dagu sambil menyipitkan
mata. Ah…ekspresinya sangat beragam jadi kalau diabadikan pasti seru.
Setiap divisi memberikan saran
kepada divisi lainnya agar semua berjalan sesuai rencana dan target terpenuhi
100%. Namanya juga target ideal, pasti memerlukan semangat tinggi untuk
mewujudkannya.
Gambate…!
Minggu
ke-3
Nuna berlari kecil di lorong
sekolah. Ia berharap dapat menemukan Prabu dan Pak Mansur untuk meminta tanda
tangan proposal yang akan dibawanya ke beberapa sponsor.
“Pak Rahmat…ada Pak Mansur?”,
tanya Nuna di depan pintu kantor guru.
“Oh, baru saja beliau pergi ke ruang
OSIS
mau bicara dengan
Prabu”, jawab Pak Rahmat cepat.
“Terima kasih pak, saya menyusul
ke sana sekarang”, pamit Nuna bergegas.
Nuna menemukan
ruang OSIS kosong dan tak ada dua orang
yang ia cari di sana.
“Aduh, kemana sih makhluk itu.
Katanya mau ke ruang OSIS tapi…”, gumam Nuna dalam hati.
“Cari siapa Na? celingukan di
sini.” sebuah suara mengagetkan Nuna
“Ehm, Jun kamu lihat Pak Mansur
sama Prabu gak di sini?”, tanya Nuna
“Lihat dua hari yang lalu, emang
kenapa?”,tanyanya iseng
“ih dudul, aku gak tanya kemarin
tau. Bilang aja gak lihat”, jawab Nuna sewot
“Santai aja kali” jawabnya. “Gak
usah pake otot gitu. Cari aja di tempat lain, mereka gak bakalan pergi ke luar
Bandung”, sanggahnya sinis sembari ngeloyor pergi.
Nuna benar-benar
benci dengan anak cowok yang satu ini. Sikap Juna yang cuek,otoriter dan gak punya hati menjadikannya bergelar
Spicy man.
“Puih, nyebelin banget! Bantu
nggak…songong iya. Huek...”, gerutu Nuna sebal.
Tiba-tiba pundak
Nuna ditepuk dari belakang.
“Na, cari aku ya?”, kata Prabu
Nuna menoleh dan
menyodorkan lembar proposal yang harus ditanda tangani oleh Prabu.
“Jelek banget tuh muka, monyong lagi.
Kenapa?”, tanyanya lagi.
“Aku harus segera pergi ke Bank
BNI dan Indosat. Cari kamu dan Pak Mansur untuk tanda tangan proposal ini. Eh,
yang dicarinya susah amat”, ujar Nuna ketus.
“Ehm, kami ada di mushola.
Kebetulan sholat bareng jadi sekalian aja ngobrol di sana”.
“kamu ke kantor aja, beliau dah
balik lagi ke ruangannya. Mau aku antar?”
“Gimana kalo sekalian aja antar aku
ke BNI dan Indosat sekalian?” rajuk Nuna
“oke deh, tapi ijin ke Bu Ati
dulu yah. Kebetulan siang ini beliau kan ngajar Biologi di kelasku.”
“Thank you, Prab!.” Nuna mengurai
senyum riang mendengar Prabu bersedia untuk menemaninya pergi.
Olala…!
Minggu
ke-4
Tidaklah mudah
untuk menggelar acara besar dengan waktu mepet. Keterbatasan waktu dan tenaga
membuat TIM 13 harus pandai mengatur jadwal. Untunglah Big Bos dan para guru
mendukung acara ini sehingga mereka memberikan kompensasi dalam hal pemberian
tugas dan tatap muka saat KBM berlangsung. Minggu ini TIM 13 sudah mendapatkan
hasil kerjanya. Dana dari sekolah sudah cair dari 2 minggu yang lalu dan
digunakan untuk membuat proposal, poster, undangan, dan tiket. Beberapa calon peserta
mulai menghubungi panitia untuk menanyakan informasi FJFH, sementara untuk
sponsor baru masuk dari orang tua siswa yang ingin berpartisipasi mewakili lembaga
masing-masing. Secara nominal tidak besar tapi lumayanlah…
Sedangkan
acara, tampaknya Juna mulai sibuk mendekati beberapa grup band yang cukup
terkenal di kalangan remaja. Wow, it’s long road and stressful.
“Na, ada telepon
tuh dari Pak Hadi. Katanya proposal kamu cair. Ehm, selamat yah”, kata Nisna
“Ah yang bener
Nis?! Terus aku harus balik telpon dia atau gimana?”
“Lima menit lagi
dia telpon kamu. Jadi pastikan HPmu aktif, yah”.
“Pasti! Thanks
ya…”. Nisna menggangguk dan berlalu.
Hati
Nuna berbunga-bunga mendengar proposalnya diterima oleh perusahaan penghasil
bumbu dapur terkenal.
Tidak
perlu menunggu lama hp pun bordering nyaring. Nuna segera menjawab dengan penuh
semangat. Wajahnya berseri-seri dan kata terima kasih berulang kali keluar dari
mulutnya. Tangannya sibuk mencatat tanggal dan jam pertemuan dengan Pak Hadi. Sebuah
pertanda baik…
Nuna
berjingkrak-jingkrak tanpa kendali sembari berteriak kegirangan hingga tanpa
sengaja badannya menubruk punggung seseorang. “Bruk…!”
“Hai pakai mata
dong. Sakit tau!” serunya sengit
Nuna tersadar dan
mencoba mengerem gerakannya. Matanya terbelalak ketika melihat wajah Spicy man
di depannya. Uff, sorry!
“Maaf Jun! gak
sengaja, beneran deh…suer!”, Nuna mencoba minta maaf dengan mimik yang lucu.
Juna
tidak menggubris permintaan maaf Nuna. Ia menatap tajam dan menunjukkan tampang
marah seperti mengisyaratkan tidak ada maaf bagimu.
Jiahhhh….!
Minggu
ke-5
Dua minggu
sebelum hari H. Prabu mencoba mengumpulkan panitia inti untuk menanyakan
kesiapan acara FJFH. Divisi kesekretariatan menjelaskan bahwa peserta yang
sudah daftar sudah 70%, para undangan yang sudah melakukan konfirmasi
kehadirannya dalam acara FJFH 80%, spanduk, tiket, dan buku tamu sudah selesai
dicetak. Bagian acara melaporkan dari 7 pengisi acara 4 udah menyatakan siap
tampil, 2 masih dalam konfirmasi, 1 belum ada jawaban. Bagian humas dan
marketing menyampaikan bahwa dari 25 proposal yang dikirim 15 sudah cair, 5
masih dalam konfirmasi, dan sisanya belum ada berita. Bagian keuangan
melaporkan bahwa dana yang ada di kas bendahara sebesar 23 sekian juta rupiah.
Sementara bidang dekorasi dan peralatan menyatakan sudah selesai dengan
rancangan set up panggung, sound system, lighting, dan property lainnya. Prabu
tersenyum puas. Ia mengatakan kepada TIM 13 untuk tetap semangat dan bekerja
keras sampai hari H.
“Nuna, tiket,
buku tamu dan spanduk sudah bisa diambil
siang ini. Tinggal dibawa aja, kita
udah bayar Nunas
kemarin.” Pesan Nisna sebelum keluar ruangan OSIS.
“Oh ya, Juna kamu
antar Nuna untuk ambil barang ke percetakan ya. Uang bensin minta aja sama
Jovi. Kamu bisa kan?” tanya Nisna lagi.
Juna tidak
berusaha menjawab. Ia hanya mengacungkan jempol tanda setuju.
Entah mengapa
tiba-tiba Jovita tersedak,”huk..huk”. ia mencoba menutupi mulutnya dan melirik
Nuna dengan ekspresi wajah “aduh, Nuna kasian deh loh”.
Ah dunia, kenapa
harus dia?! Nuna tertunduk lesu dengan mulut cemberut.
Uwooohhh…!
Juna mengambil
jaket dan segera pergi ke parkiran motor sekolah. Ia mengingatkan Nuna untuk
segera menemuinya dalam 5 menit kemudian.
“alamat percetakan itu sudah kamu
bawa belum, Na?” tanya juna
“sudah. Nih bawa aja sama kamu”
“ayo cepat naik, jangan lupa pake
helmnya”
Nuna menuruti
perintah Mr. Spicy Man dengan baik. Walaupun hatinya kesal tapi ia coba menahan
sekuat tenaga.
Juna melihat Nuna
dari kaca spion. Ia harus memastikan Nuna mendengarkan instruksinya.
Motor melaju
kencang. Juna ahli mengendarai motor. Beberapa kali Juna manyalip mobil dan itu
membuat Nuna harus menutup mata karena takut. Sampai pada akhirnya Nuna tidak
bisa lagi bertahan dengan ketakutannya maka Nuna pun berteriak,
“Juna! Pelan-pelan dong bawa
motornya!”
Juna tidak
peduli, ia tetap membawa motor dengan kencang. Dalam kepalanya, Juna hanya
ingin cepat sampai dan kembali ke sekolah sebelum hujan. Tapi Nuna benar-benar
sudah tidak kuat sampai perutnya mual dan kepalanya pening menahan rasa takut.
Tanpa sadar Nuna
memukul punggung Juna dan memintanya untuk menghentikan motornya.
Juna kaget dan segera
menepi. Nuna langsung turun dari motor dengan wajah merah padam.
“aku mau turun saja dan pergi ke
percetakan naik angkot!”
“hah?! Kamu gila ya. Ini kan udah
setengah perjalanan. Ngapain naik angkot?”
“aku gak tahan sama cara kamu
bawa motor. Kamu pikir aku kantong beras. Ahhh, aku gak mau mati konyol
gara-gara dibonceng motor sama cowok ugal-ugalan kaya kamu!”
“apa kamu bilang?! Aku
ugal-ugalan? Hei, cewek rese! asal kamu tau aja ya aku belum pernah nabrak
orang atau mobil selama bisa naik motor, tau! Jangan seenaknya ngasih label
orang!” Sahut juna ketus.
“pokoknya aku gak mau ikut sama
kamu, ngerti!” bentak Nuna
“oke! Terus kamu maunya
apa?”,bentak juna pula
“Kita pergi sendiri-sendiri aja!
Atau kamu boleh balik lagi ke sekolah.”
Juna terdiam
sesaat dan menatap Nuna dengan heran. Ia bertanya dalam hati mengapa gadis ini begitu marah hanya karena dia memacu motor
dengan cepat. Belum sempat Juna bertanya, ia melihat butiran air meluncur di pipi
gadis mungil di hadapannya. Juna menjadi panik dengan tangisan Nuna. Sementara
Nuna berusaha untuk menahan agar air matanya tidak tumpah tapi percuma.
Berkali-kali Jemari Nuna menghapus air matanya. Melihat gadis mungil itu
terisak, Juna pun memberanikan diri untuk membujuk Nuna agar menghentikan
tangisannya.
“Na…Nuna,jangan nangis dong. Kamu
kenapa sih? Ayo dong berhenti nangisnya, gak enak kan dilihat orang”.
“Na aku minta maaf deh. Ehm, Kamu
takut ya?”
Nuna diam. Ia
menunduk dan mengangguk pelan. Tangisnya mulai mereda. Uffh, Juna bernafas
lega.
“Aku belum pernah naik motor
sekencang itu. Bahkan sama ayah pun selalu pelan-pelan”, kata Nuna perlahan.
Oh itu toh
masalahnya. Juna akhirnya mengerti. Ia mencoba memahami ketakutan Nuna tadi.
“Oke deh, aku pelan-pelan aja
bawa motornya supaya kamu gak takut. Sekarang kamu naik lagi gih. Buruan, nanti
keburu hujan nih”.
Nuna masih ragu
dan tetap bergeming di tempatnya.
“Ayo, Na! aku janji gak bakalan
ugal-ugalan lagi kaya tadi”.
Nuna menatap Juna
dan mencari kesungguhan dari kalimat yang diucapkannya. Mereka pun melanjutkan
perjalanan.
Cape dehhh!
Setelah memeriksa
barang, maka Juna dan Nuna langsung kembali ke sekolah. Namun karena insiden
tadi maka motor berjalan pelan. Rupanya alam memang sedang tidak bersahabat.
Perlahan tapi pasti langit menurunkan butiran air ke bumi. Mereka pun terjebak
hujan di sepertiga perjalanan pulang.
“Nuna, gerimis nih. Mau berteduh
dulu atau terus aja?” tanya Juna memecahkan keheningan.
“ehm, terus aja lah. Nanggung.
Cuma gerimis doang” jawab Nuna
Motor pun
menembus gerimis hingga akhirnya air tumpah tanpa terkendali. Juna memutuskan
berhenti di sebuah warung kopi pinggir jalan. Mereka masuk dan berteduh sembari
menunggu matahari kembali bersinar. Juna mengibas-ngibaskan air yang menempel
di jaketnya. Sesekali ia mengeringkan muka dengan jemarinya.
Nuna terdiam
memandang hujan yang semakin deras mengguyur bumi. Gadis ini berpikir hujan ini
akan menahan mereka untuk waktu yang cukup lama. Huh benar-benar menyiksa,
pikirnya.
Entah karena
udara dingin yang terlalu menusuk atau memang belum makan, Nuna mendengar
paduan suara dalam perutnya. Badannya sedikit bergetar dan berkali-kali
menggosokkan kedua telapak tangganya agar hangat. Juna memperhatikan semua
kejadian itu dari samping. Ia mencoba cuek dan membiarkan semua berlangsung
begitu saja.Tapi lama kelamaan Juna pun merasakan hal yang sama, dingin dan
lapar…
“Na kamu gak pake jaket yah?
Pasti dingin kan? Gimana kalo pesen mie rebus sama minuman panas?” tanya Juna
berbisik.
Nuna menengok dan menjawab
singkat,”Boleh, aku air teh tawar aja”.
Juna segera memesankan
mie rebus dan air teh sesuai orderan. Mereka berdua mengambil posisi duduk
bersebelahan dan menyantap pesanan yang siap dihidangkan. Nuna menikmati
kehangatan mie rebus sambil mendengarkan perpaduan aNunan lagu dari radio sang
pemilik warung dengan derasnya hujan. Nuna meneguk teh dan terhenti karena ada
yang salah dengan pesanan tehnya.
“Eh tadi aku kan pesen teh tawar,
tapi kok ini manis ya?”
Juna menoleh dan menjawab,” Oh mungkin tertukar dengan teh
pesananku,”
Juna pun segera
menukar gelasnya dengan gelas Nuna.
“tapi itu kan sudah aku minum
lagi. udah gak apa-apa aku yang manis aja”
“ah aku gak suka teh tawar, Na.
kamu gak punya penyakit menular kan?”
“penyakit menular? Oh ada…rabies,
mau?”
“no problem, aku pasien rabies
akut dari dulu”, ujarnya sambil tertawa
Nuna terkesima.
Untuk sesaat ia kehilangan rasa kesal terhadap cowok satu ini. Satu per satu
pertanyaan berseliweran di kepala Nuna tentang sikap Juna yang cukup baik
menurutnya.
“Thanks God, akhirnya…”, Nuna
mengucapkan kalimat itu dengan kesungguhan. Perut kenyang, badan mulai hangat
dan hujan pun reda. Ia mengeluarkan secarik kertas sepuluh ribu dari saku
bajunya. Maksud hati ingin membayar tapi Juna menahan tangannya.
“Sudah, biar aku yang bayar”.
Nuna kembali
terhenyak. Ia merasakan sesuatu yang aneh saat Juna menyentuh tangannya tanpa
sengaja. Juna menoleh dan tersenyum tipis ke arahnya.
“Yuk, cabut. Udah terang. Lagian
ntar kesorean sampai ke sekolah”, katanya lagi
Seperti kerbau
dicucuk hidungnya Nuna hanya menurut saja.
Wooiii…
Minggu
ke-6
Dentingan suara
gitar terdengar dari ruang OSIS. Sayup-sayup lagu Little Things One Direction
menyertainya. Siapa yang sedang bernyanyi di sana?
Juna dan Eko
masuk ke dalam ruang OSIS untuk mengambil beberapa dokumen acara yang akan
mereka rapatkan siang ini. Tampak sepasang remaja berada di ruangan tersebut
tanpa mengindahkan kehadiran mereka. Prabu sedang memetik gitar sementara Nuna
sibuk dengan lapotopnya. Kedua remaja tampak tersebut asik menikmati kebersamaan
mereka. Wuih, kayanya mereka pemilik ruangan ini dan yang lain ngontrak nih,
pikir Juna.
“Prab, nanti kita rapat lagi yah?
Bisa delay 15-20 menit gak? Aku mau pergi dulu sama Triyan dan Juna cari
peralatan”, kata Eko memecah suasana.
Prabu menghentikan
gitarnya dan menatap Nuna seakan meminta second opinion. Nuna terlihat tidak
peduli. Ia sibuk bernyanyi dan mengetik kembali.
“Boleh Ko, tapi gak lebih ya.
Kalau kesorean nanti teman yang lain keberatan.” Sahut Prabu
“Siap komandan. Kita ngebut kok…”
Eko menjawab pasti
Nuna tanpa
sengaja mengangkat kepalanya dan menatap Juna yang berdiri di samping Eko. Ada
sesuatu yang ingin ia katakan kepada cowok itu, tapi tertahan.
Juna balik
menatapnya sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya seakan bilang,”Don’t
worry, I will be careful”.
Kedua cowok itu
pun berlalu dan dentingan gitar kembali mengalun merdu.
“Na, kayanya kamu lagi demam
One-D ya?”, tanya Prabu menghentikan konsentrasi Nuna yang asik mengetik
laporan.
“Ho oh, lagunya asik Prab”,
jawabnya singkat
“Coba lagu apa saja yang bisa
kamu nyanyikan? Ntar aku cari chord-nya”
“things, that what you beautiful,
life while were young…”
Prabu
mendengarkan Nuna menyanyikan lagu life while were young one D sembari mencari
chord yang pas untuk mengiringinya.
Waktu sudah
menunjukkan pukul 14.15. Pak ketu Prabu mengajak Nuna untuk bergegas ke aula.
Rapat akan segera dimulai. Prabu melihat tim 13 mulai memasuki ruangan. Nisna
sang sekretaris mengecek presensi anggota panitia dengan memanggil namanya satu
persatu.
Saat rapat
dimulai, Nuna melihat dua orang cowok berlari memasuki ruangan dan duduk di
barisan belakang. “Oh, mereka datang juga dengan selamat” gumamnya dalam hati.
Seperti biasa
Prabu meminta setiap divisi memberikan laporan kerja masing-masing. Bisa dikatakan
bahwa di minggu ini ada kemajuan dalam bidang pemasukan dana dan peserta FJFH.
Peserta bertambah 5, kemudian 3 proposal kembali cair walaupun nominalnya tidak
spektakuler, dan band yang akan datang menjadi 6. Susunan acara pun sudah
selesai dibuat, denah pintu keluar masuk, lokasi panggung, stand makanan, area
makan serta loket sudah rampung. Semua tampak senang dan tak sabar menunggu
hari besar itu datang. Tiba-tiba pintu diketuk dan beberapa orang masuk ruangan
membawa tiga kardus besar. Salah satu di antaranya berbisik kepada Prabu.
Setelah itu mereka tampak bersalaman dan ketiga orang itupun berlalu.
“Teman-teman, rupanya kita dapat
kejutan. Salah satu sponsor memberikan kaos untuk panitia sebagai bentuk
partisipasi dalam kegiatan FJFH. Nanti teman-teman bisa menghubungi Nisna dan
Triyan untuk mengambil kaosnya. Mari
kita berikan tepuk tangan untuk TIM 13!Terima kasih”, seru Prabu dengan
semangat.
Gemuruh tepuk
tangan dan sorak sorai dari panitia TIM 13 terdengar sampai ke lapangan basket.
“Selamat, Na! kamu keren bisa melobby
sponsor dan hasilnya mantap”, sapa Prabu seraya menjabat tangan Nuna erat.
“Ah, biasa aja Prab! Ini kan
untuk kesuksesan FJFH, jadi aku lakukan yang aku bisa”, jawab Nuna merendah
“Gila kamu, Na! marketingnya
cetar membahana badai, yeuh! Wah, kalo aku jadi kamu pasti minta komisi 10%
dari proposal yang cair. Lumayan kan!”, kata Triyan pula sambil mengedipkan
mata. Nuna hanya tersenyum, merespon ucapan kekaguman yang mengalir kepadanya.
Prabu masih
mengajak Nuna berbicara. Kadang tangannya mengacak-ngacak rambut Nuna atau
memegang pundak gadis itu. Nuna tertawa lepas, memukul tangan Prabu dengan
manja, bahkan sesekali merajuk manis. Juna melihat kedua remaja itu dari bangku
belakang. Ia belum beranjak pergi mengambil kaos. Ah, ada apa dengan mereka.
Mengapa pemandangan itu terasa mengganggu bagi Juna.
Huek…
Minggu
ke-7
Jumat ini semua orang sibuk luar biasa. Mulai
dari lapangan parkir sampai lapangan basket. Aula dan selasar sekolah mulai
berbenah. Siang itu semua panitia dan petugas sekolah mempersiapkan berbagai
hal untuk menyelenggarakan FJFH esok hari.
Bisa dibayangkan
divisi yang paling riweuh adalah acara, dekorasi panggung dan peralatan. Mereka
bolak-balik seperti setrikaan dan wajah serius terlihat jelas.
Nuna dan Nisna
berjalan ke gerbang sekolah sambil membawa spanduk besar sertuliskan selamat
datang. Di belakangnya tampak Idham, Rayhan, dan Yuke mengikuti dari belakang.
“Dham, spanduk ini ada 5. 2
dipasang di gerbang depan dan kampus 1, sementara 1 di panggung, 2 lagi di area
stand makanan.ok?”, instruksi Nisna kepada Idham dkk.
“Ok, Nis. Tolong pinjamkan tangga
ke Pak Jiman dan biar Yuke yang ambil tangganya ke sini”, sahut Idham
“Ya sudah, kami pergi dulu”,
pamit Nisna
Belum jauh mereka melangkah, ada
suara memanggil dari kejauhan.
‘Nuna! Nisna! Tunggu!” serunya
Nuna melihat ke arah sumber
suara. Matanya menyipit saat badan orang itu semakin jelas terlihat. Kenapa nih
orang, lari-lari seperti dikejar polisi.
“Na, ada yang mau ketemu tuh di
aula. Katanya mereka dari perusahaan produk makanan siap saji. Lalu kalau nanti
sudah beres tolong bantu aku ketemu sama manajer bintang tamu, bisa kan?”
pintanya lagi.
“Gimana kalau yang menemui tamu
di aula aku aja, Na. Kamu langsung bantu Juna untuk ketemu sama manager bintang
tamu itu”, kata Nisna
“Ehm, ide bagus tuh.” Seru Juna
senang.
Nuna menghela nafas dan mengikuti
langkah Juna. Sesampainya di ruang OSIS Nuna terlibat pembicaraan dengan para
manajer bintang tamu. Tampaknya mereka membicarakan muatan dan tanda tangan
berkas kerja sama. Saat semuanya telah beres, mereka saling berjabatan tangan
dan pergi.
“Ehm…kamu cukup berbakat jadi
humas, Na”, puji Juna
“Biasa aj. Sekarang aku mau ke
panggung dulu mau bantu dekorasi”
“trims Na!”
Nuna berjalan cepat tanpa menoleh
lagi menuju aula. Di sana ia berencana untuk membantu Triyan cs. Aha, ternyata
Prabu pun sedang melihat tim dekorasi bekerja.
“Prabu!”, seru Nuna semangat
Sang pemilik nama itu pun menoleh
dan tersenyum sumringah mendengar namanya dipanggil. Nuna mendekati dan
menanyakan sejauh mana persiapan dekorasi untuk acara esok. Rupanya kehadiran Nuna dan Prabu memang
sangat diharapkan tim dekorasi untuk segera menyelesaikan set up panggung.
Mungkin karena terlalu lelah hidung Nuna pun mimisan. Ia segera berlari ke
toilet untuk membersihkan darah yang mengalir di antara kedua lubang hidungnya.
Namun Prabu terlanjur melihat tetesan darah itu dan menimbulkan sedikit
kepanikan diantara mereka berdua.
“Na…! kamu mimisan. Ayo isirahat
dulu”, perintah Prabu dengan lembut.
Nuna tampak pucat dan mencoba
menahan pusing yang hadir menyertainya.Prabu segera berlari ke ruang UKS yang
tidak jauh dari aula untuk mencari kapas dan membersihkan darah di hidung Nuna.
Prabu sangat khawatir dengan keadaan tersebut. Ia membelikan Nuna air minum dan
sesekali meraba kening Nuna.
“Udah Prab, aku gak apa-apa kok.
Biasa mimisan gini mah”, kata Nuna santai
“Kamu pulang aja, Na. Biar aku
antar atau mau sama jemputan sekolah?”
Nuna putuskan
untuk pulang diantar Prabu. Tanpa mereka sadari sepasang mata mengawasi dari
kejauhan.
What’s wrong?
BIG
DAY
Pagi
menunjukkan jam 09.00. Panitia bersliweran di pos masing-masing untuk menyambut
tamu FJFH. Stand makanan sudah dipenuhi kesibukan dengan para peserta
menyiapkan makanan. Tepat jam 10.00 acara FJFH dibuka secara resmi oleh kepala
sekolah. Beberapa sambutan dari pihak terkait bersahutan satu-persatu. Nuna
berjaga di pintu masuk untuk melayani pembelian tiket ataupun menerima tamu
undangan. Prabu mengecek ke seluruh area untuk memastikan semua berjalan baik,
sementara Juna bercuap-cucp di atas panggung untuk memberikan hiburan bagi tamu
yang datang. Kemeriahan berlangsung di semua sudut sekolah. Tiba-tiba dering HP
memecahkan konsentrasi Nuna sesaat.
“Na, cepat datang ke belakang panggung”,
kata Triyan
“Ada
apa, Yan?”
“Wah
gawat, pengisi acara musik ke empat tidak datang, Na!”
“Kok
bisa?! Juna gak bilang apa-apa sama saya kalau ada yang gak datang”
“Udah
deh datang dulu ke sini. Bantuin kita
untuk cari solusinya”
Nuna
segera berlari menemui Triyan dan Juna di belakang panggung.
Sesampainya
di sana Nuna melihat tiga orang pria berdiskusi ramai.
“Gimana?
Ada solusi gak?” tanya Nuna
Juna
menggeleng, Triyan angkat tangan dan Prabu mengerutkan dahi tujuh lipatan.
Penampilan
pengisi acara ke tiga sudah dimulai. Ah, semakin paniklah semuanya.
“Na,
udah kamu aja yang naik. Kamu nyanyi dua lagu deh. Terserah lagu apa, yang
penting jangan sampai kosong, gimana?”, perintah Prabu
“Hah,
masksud kamu aku nyanyi, Prab?”
“Iya
gitu deh. Kamu kan punya beberapa lagu andalan sekalian main gitarnya”
“Tapi…aku
kan gak siap untuk…”
Belum
selesai Nuna berbicara, Prabu langsung menarik tangan Nuna ke atas panggung
karena penampilan ke empat harus segera dimulai. Sejenak Nuna tampak seperti
orang linglung sambil memegang gitar yang diberikan oleh stage crew. Prabu
tersenyum menenangkan Nuna dan menanyakan lagu apa yang akan ia bawakan.
Nuna
mencoba menjawab pertanyaan Prabu dengan menyapa penonton dan mengatakan judul
lagu yang akan dibawakannya. Prabu mengiringi dentingan gitar Nuna. Pelan tapi
pasti alunan suara merdu itupun mengisi aula. Beberapa penonton ikut terbawa
suasana dan bernyanyi bersama Nuna. Satu lagu beres, dan Nuna bernapas lega.
Tepuk tangan meriah serta teriakan “lagi!lagi!” bergema seru.
Nuna
akhirnya menyanyikan lagu one thing- One direction bersama Prabu. Beat lagu
yang riang serta energik membuat semua penonton terlena. Mereka mengikuti lagu
dengan berjingkrak di tempat.
Owh…cetar!
Tepat
pukul 14.00 acara selesai dan ditutup dengan pembagian hadiah, door prize.
Sebelum pembubaran panitia Pembina OSIS meminta semua panitia berkumpul di
aula. Mungkin sudah bisa ditebak seperti apa ucapan yang keluar dari sang
Pembina tersebut. Klise tapi memberikan kebanggaan bagi TIM 13. Semua bertepuk
tangan atas keberhasilan acara.
“Thanks Juna!” kata Prabu
memberikan ucapan apresiasi kepada koordinator acara. Juna menjabat tangan
Prabu.
“Selamat juga buat kalian
berdua. Kerja tim yang bagus”, jawab Juna sembari melirik Nuna yang berdiri di
samping Prabu.
“Ha…ha, bisa aja kamu Jun!”,
kata Prabu lagi.
“ Yuk Juna, kami
duluan” pamit Prabu sambil menarik baju Nuna.
“Oke”, jawab Juna
datar. Matanya tak sekejap pun melewatkan pemandangan yang manis tapi membuat
hatinya resah tanpa sebab.
Galau.com
Semenjak
penampilan Nuna di atas penggung minggu lalu, banyak orang yang memuji talenta
gadis mungil yang satu ini. Mulai dari suara merdu, piawai memainkan gitar
hingga tawaran untuk bernyanyi di acara sekolah ataupun kelas mengalir padanya.
Nuna tidak terlalu merespon semua pujian yang datang. Ia hanya tersenyum dan
menganggap semua itu hanya dampak sesaat.
Nuna berjalan pelan
menuju ke kelas. Sesekali terdengar suara lirih menyanyikan beberapa lagu.
Kadang ia menggerakkan tangan atau menjentikkan jemarinya. Tampaknya ia sedang
senang hari ini.
“Nuna! Tunggu
bentar!”, suara dari belakang menghentikan langkahnya.
“Hei lagi happy
nih? Pagi-pagi dah nyanyi-nyanyi.suaranya kedengaran tuh sampai ke lapangan
parkir”, Jovi menyapa.
“Ah kamu Jo. Gak
ada receh, ceu!”, jawab Nuna bercanda.
“Na, tugas dah
beres belum? Dikumpulin hari ini kan?”, tanya Jovi lagi
“He eh katanya
sich, emang kenapa?”
“Biasa, Juna
belum ngumpulin tugas kelompoknya ke aku. Males banget deh kerja bareng dia.
Uuuh”, keluhnya lagi
“Ooh…cerita basi
kalo dia mah. Orang paling cuek sejagat raya kale. Udah ntar tagih aja”.
Jovi tidak
menjawab. Mungkin ia masih kesal dengan cowok bernama Juna. Topik mulai
bergeser menjadi rencana kunjungan ke Desa Cisayong Tasik dan pembubaran
panitia TIM 13. Bahasan menjadi seru dan terdengar suara tawa. Rupanya mereka
tidak sadar sepasang mata sedang memperhatikan dari atas balkon kelas.
Kedua gadis itu
menaiki tangga untuk masuk ke dalam kelas. Tanpa sengaja Jovita melihat Juna
sedang asik berdiri di pinggir balkon.
“Juna! Kamu bawa
gak tugas bahasa Indonesia?” tanyanya
Juna menolehkan kepalanya
dan hanya mengangguk.
“Mana tugasnya?
Aku mau gabungin sama yang lain.”
“Ambil aja di
bawah meja. Udah saya simpan di situ kok” jawabnya santai
“Iiih, ambilin
gih. Malah nyuruh lagi”, seru Jovita ketus
“males ah. Ambil
sendiri Jo! “, jawabnya lagi sambil ngeloyor pergi dengan Eko ke bawah.
Jovita mulai
kesal dan berteriak memanggil Juna. Tapi EGP cowok yang satu ini.
HUAH…!
Pelajaran pagi
ini memang terasa melelahkan. Setelah dua jam belajar rumus FISIKA, masih
diteruskan dengan hitungan MATEMATIKA. Otak yang sudah panas terselamatkan
dengan bunyi bel. Semua siswa berseru YES dan bersiap istirahat.
Seorang cowok
ganteng berdiri di depan pintu kelas Nuna. Ia sedang mencari seseorang rupanya.
Saat menemukan yang ia cari, langsung saja cowok ini bergegas masuk.
“Juna, ntar siang
ketemuan sama Pak Mansur yah. Jam 14 ditunggu rapat”, katanya
“Rapat apaan
Prab? Emang mau ada kegiatan lagi?” tanya Juna
“Mungkin mau
membahas tentang bantuan untuk Desa Cisayong sekalian pembubaran panitia”
“ooh itu. Sip
deh. Nanti saya ke sana. Siapa aja yang rapat?”
“Aku, Nisna sama
kamu”
Juna
manggut-manggut mengerti. Ia pun keluar kelas. Namun Prabu masih tinggal di
kelas Juna. Ia berharap bisa ngobrol atau bahkan mengajak Nuna untuk pergi ke
kantin bareng. Prabu menghampiri bangku gadis itu. Nuna tampak sedang
membereskan buku dan bangku belajarnya. Beberapa gadis yang lain berseloroh
nakal melihat Prabu mendatangi Nuna. Mereka mulai usil dengan kedekatan Prabu
dan Nuna.
“Na, nanti siang
kamu ada acara gak?” tanya Prabu
“Gak ada.
Kenapa?”
“Temenin aku ke
toko buku yuk. Ada yang mau aku beli”. Mendengar toko buku Nuna tampak semangat
dan langsung mengatakan siap. Semua orang tahu kalau Nuna hobi membaca Novel
dan doyan beli buku.
“ah, kenapa gak
bilang dari kemarin Prab. Aku pengen beli buku juga tapi gak bawa uangnya”
“santai aja Na.
Ntar aku bayarin dulu bukunya deh. Ehm…tapi gak lebih dari cepe ya”, kelakarnya
“cepe? Dikit
amat?! Nope kali…”
“he…he”, Mereka
tertawa berdua sambil keluar kelas.
Assik
nih!
Pertemuan dengan
Pak Mansur ternyata menghasilkan kegiatan yang membuat TIM 13 senang. Mereka
akan pergi ke Tasikmalaya dan mampir ke Gunung Galunggung. Nama gunung ini
sangat terkenal dalam sejarah. Ia pernah memuntahkan debunya ke seluruh tanah
parahiyangan di tahun 1988. Wah vacation euy!
Pulang sekolah
Prabu menunggu Nuna di lapangan parkir. Ia tidak sendiri tapi bersama Juna.
Setelah rapat selesai mereka pun bersiap pulang. Prabu berencana untuk
mengajakan Nuna ke toko buku dengan naik motor. Lima belas menit Prabu menanti
kedatangan gadis mungil tersebut. Tiba-tiba pundak Prabu ditepuk seseorang dari
belakang.
“Prab, belum
cabut nih?”
“Eh, kamu Ko. Belum brow. Aku lagi nungguin Nuna. Kami
mau ke toko buku bareng”, jawab Prabu kalem
“Weiss, berdua
aja? Aseek nih, ngedate yah?” tanyanya penasaran
“Bisa aja kamu…”,
Prabu menjawab malu
Juna
yang berdiri di samping Prabu hanya diam mendengarkan percakapan kedua
temannya. Banyak hal berkecamuk di hatinya.
“Juna, cabut yuk.
Aku ikut sampai jalan raya ya”, pinta Eko
“Boleh, naik
deh”, Juna mempersilahkan Eko naik ke motornya
“Kami cao dulu.
Eh… Prab ingat-ingat pesan mama yah, hati-hati!” serunya lagi menggoda
“Sipppp!”
Eko berlalu
bersama Juna.
“Ngedate? Jadi
Prabu sama Nuna itu…? Ehm…kok bisa? “,tanya Juna dalam hati.
Hufffh…
Pagi itu Nuna
datang lebih pagi dari biasanya. Ia membawa gitar karena hari ini ada ekskul
musik. Dentingan dawai gitar yang merdu sayup-sayup mengisi lorong kelas 10.
Memang baru beberapa siswa yang datang, jadi sudah pasti lengang abis. Apalagi
para biang kerok masih belum muncul membuat sekolah kondusif untuk mendengarkan
suara semerdu dentingan dawai gitar Nuna. Gadis mungil ini menyanyikan lagu
westlife terbaru my light house. Ehem…!
Sepasang kaki
tegap berjalan menaiki tangga, namun sempat terhenti sesaat.
“Siapa pagi-pagi
gini udah konser?”, tanyanya dalam hati penuh rasa ingin tahu. Perlahan ia
mengintip sumber suara tersebut. Ah, hatinya berdegup agak cepat melihat
pemandangan tidak biasa di hadapannya. Perlahan ia mengetuk pintu dan sang
gadis mengangkat wajah sambil terus bernyanyi.
“Na…tumben datang
pagi?” tanya suara berat di hadapan Nuna
“Masalah?”,
respon Nuna datar
“Nggak sih”,
katanya lagi
“Lah kamu sendiri
ngapain datang pagi-pagi gini?”
“Aku? Masalah?”,
ia balik bertanya
Nuna tersenyum
tipis sambil menatap cowok di depannya, lalu menggeleng. Cowok itu tak beranjak
dari tempat duduknya. Ia semakin lekat menatap jemari Nuna yang terampil
memetik senar gitar. Sesekali ia memandang wajah gadis mungil yang sempat
membuat hatinya berdegup tak menentu.
“Pinjam gitarnya,
boleh?”, tanyanya lagi
Nuna yang baru
saja menyelesaikan bait terakhir dari lagu westlife mengangguk. Cowok itu pun
langsung memainkan lagu saat Indah Bersamamu milik Pasha Ungu.
Nuna menyimak
lagu itu. Terkadang ia pun menyanyikan beberapa bait lirik bagian ref-nya. Nuna
kagum melihat cowok paling menyebalkan di kelas bisa bermain gitar dengan
piawai. Selain itu suaranya punya karakter. Uffh, kenapa nih?
Tidak terasa
waktu berlalu begitu cepat. Beberapa lagu mengalun, suara tawa kecil,
perbincangan hangat dan senda gurau terdengar menemani pagi yang sunyi di
lorong kelas 10.
Semua berhenti
saat satu persatu siswa datang dan mulai ribut. Terutama saat Eko dan Jovita
masuk secara bersamaan, suasana berubah bising. Kedua anak ini memang terkenal
dengan the gaduh couple.
“Jun! kamu udah
up date berita belum?”, tanya Jovita.
“berita apaan
Jo?” Juna balik bertanya
“Kamu jadi
perwakilan sekolah untuk mengantarkan bantuan dari sekolah kita”
“kata siapa?
Emang kapan Pak Mansur bilangnya?”
“Kemarin sore
waktu bubaran sekolah”, kata Jovita lagi
“mending kamu
tanya sendiri gih!”, saran Eko cepat
Juna tidak banyak
bicara. Ia memberikan gitar kepada Nuna dan beranjak pergi menemui Bos Mansur.
Bel berbunyi
tanda pelajaran dimulai. Semua siswa berbaris di luar kelas, sementara Bu Ati
sudah berdiri di depan pintu. Saat pintu akan ditutup, tampaknya tertahan
karena kedatangan Juna. Tapi semua lancar ketika melihat Bu Ati
mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Juna.
Semangat!
Ruangan
OSIS tampak penuh. Pak Mansur mondar-mandir di depan sekumpulan siswa pengurus
OSIS. Rupanya siang itu beliau sedang menerangkan tentang kegiatan pebubaran
tim 13 dan pemberian bantuan kepada warga desa Cisayong Tasikmalaya. Tangannya
menunjuk Prabu untuk menjadi ketua acara tersebut, sementara Juna, Eko, Triyan
dan Idham bagian logistik dan akomodasi. Jovita, Nisna, Yuke dan Nuna bagian
konsumsi, acara, dan dokumentasi. Pak Mansur menyampaikan bahwa mereka akan
pergi ke Tasikmalaya pada Minggu ke 3 bulan ini. Keberangkatan pada hari Sabtu
pagi jam 05.00.
“Oh iya, Juna dan Eko kalian
berdua pergi ke desa Cisayong untuk mewakili sekolah menyampaikan bantuan hasil
acara FJFH. Nuna tolong dokumentasikan kegiatan tersebut ya”, perintah Pak
Mansur kemudian.
“Engh, Pak! Maksudnya saya ikut
ke sana juga?”, tanya Nuna
“kamu paham bahasa Indonesia
kan? Harus bapak jelaskan lagi?”, jawabnya dingin
Kalau
jawabannya sudah jawab begitu sama dengan “kamu bodo amat, weei!”
Clebbb….
Mobil
melaju dengan santai. Eko duduk di sebelah Juna, sementara Nuna duduk di
belakangnya. Jok belakang penuh dengan bahan bangunan sebagai simbol bantuan
pembangunan ruang kelas di Madrasah Ar-Raffi, Cisayong. Sementara kedua cowok
asik terlibat dengan obrolan seputar hobi otomotifnya, Nuna asik mendengarkan
lagu dari Ipodnya. Posisi duduk bersandar ke jendela, tangan memegang novel
setebal bantal, kacamata nempel di hidung memberikan kesan “jangan ganggu aku!”
Juna
sesekali memperhatikan gadis mungil dari kaca spion dalam mobil.
“ Na, gak pusing baca buku di
mobil?” tanya Eko
Karena
asik membaca dan telinganya budek dengan lagu, Nuna diam saja tanpa merespon.
Eko
kesal dicuekin. Ia melempar jaketnya ke wajah Nuna, dan hupssh!
Nuna
membuka jaket yang menutupi wajahnya. Ia menengok ke arah Eko yang cengengesan
melihat Nuna terganggu dengan bau sengak dari jaket tersebut.
“apaan sih, Ko?! Ganggu aja
deh…”, sungut Nuna
“ kamu gak pusing baca di
mobil?”, tanya EKo
“gak! Puas?...”, kata Nuna ketus
“Woiy, minusnya nambah tuch.
Udah dech simpan aja bukunya. Ntar kalo berhenti boleh kamu terusin” katanya
lagi
“Deuuu…sejak kapan care ama
orang, brow?” kata Nuna
“dari dulu. Kamu aja gak tau.
Kamu pedulinya ama Prabu aja sih. Orang di depan mata dicuekin”, seloroh Eko
ringan
“kok Prabu dibawa-bawa? Udah
ah…bahas yang lain aja”
“Na, kalian lagi PDKT yah?”
tanya Eko lagi
“Hadeuuuh, no comment ah. Kepo
banget sih kamu”, jawab Nuna.
“Jujur aja Na, biar aku nyiapin
hati nih. Ntar aku broken heart loh”
Nuna
merespon permintaan Eko dengan melemparkan balik jaket bau ke arahnya.
Eko
tertawa senang, menggoda Nuna yang mukanya merah padam karena malu. Juna tampak
cuek dan fokus pada jalan di depannya.
Dua setengah jam
perjalanan sudah ditempuh, dan mereka sepata untuk istirahat sejenak. Juna
menepikan mobilnya di depan rumah makan Panineungan 2. Ia mengunci mobil dan
segera masuk ke dalam rumah makan tersebut. Eko dan Nuna sudah terlebih dahulu
memesan makan dan minuman untuk menghentikan music keroncong di perut mereka
masing-masing.
“kalian pesan apa?”, tanya Juna
kepada Eko
“ Ehm, aku sup buntut dan nasi
sama jus jeruk”
“Aku mie baso sama lemon tea
hangat”, jawab Nuna
“ya sudah, aku pesan nasi aja
sama teh manis panas”
Juna
berangkat ke bagian pemesanan dan kembali 5 menit kemudian. Sambil menunggu
pesanan mereka sibuk membahas lokasi, kepala desa, dan berbagai hal yang
bersangkutan dengan kegiatan charity sekolah.
Tak
lama kemudian pesanan pun datang. Pasukan lapar segera melahap dengan semangat.
Nuna menambahkan kecap dan saos sambal ke dalam mangkok bakso. Udara yang panas
ditambah pedasnya bakso membuat wajah Nuna merah seperti kepiting rebus.
Keringat membahasahi pelipis dan hidungnya. Eko memperhatikan hal itu tanpa
sengaja. Segera ia mengambil tisu dari saku baju dan mengeringkan keringat di
wajah gadis mungil tersebut. Reflek Nuna kaget bukan kepalang.
“Thanks Ko! Aduh gak usah
repot-repot deh”, tepis Nuna menghentikan Eko.
“Aku kasihan aja lihat kamu
kepedesan gitu”, jawabnya enteng.
“He eh, gila sambalnya cetar
banget nich”, sahut Nuna sambil menyeruput lemon hangatnya.
Tangan
Nuna berkali-kali mengeringkan keringat yang membasahi wajahnya. Eko tidak
tahan melihat Nuna kepedesan. Ia pun bergegas mengambilkan air putih dingin dan
memberikannya kepada Nuna.
“Wah thanks berat Ko. Kamu
bener-bener perhatian sama cewek. Cocok sama tema kunjungan kita nanti, care
and action”, canda Nuna sambil tertawa
“eh bener juga kamu. Apa aku jadi
Icon aja ya di spanduk care and action. Sayang gak ada yang shot kejadian
barusan”, katanya sambil garuk-garuk kepala
Juna
menggeplak kepala Eko sambil berkata,”Woiy ngarep.com!”
Tiba-tiba suara HP bordering.
Nuna mengambil hpnya dan menjawab sapaan seseorang.
“Ya Prab. Kami baik-baik aja
kok. Lagi makan siang nih. Ada apa,Prab?” tanya Nuna
“Mau tau aja
kabar kamu. Jangan terlalu capek ya. Ingat minum air putih yang banyak”,
instruksi Prabu kepadanya.
“Siap Prab. Don’t
worry. Eko ngejagain aku kok. Eh, kamu lagi di kelas atau kantin? Rame banget…”
“Di kantin. Tadi
mampir ke kelas mau ngajak kamu ke kantin tapi kamu gak ada. Yah sendirian
dech, gak seru”
“Ciee…kangen yah
sama aku. Duh gak ada receh yang bisa ditransfer bos. He…he…thanks ya udah
telpon. Ntar aku telpon balik kalau dah sampai di Cisayong”.
“Ehm, ya…take
care Na!”
“you too”. Klik
putus deh sambungan telponnya.
Nuna
tampak sumringah setelah mendapat telpon dari Prabu.Eko memperhatikan dengan
wajah cemburu. Juna garuk-garuk kepala sambil nunduk.
“Prabu?”,
tanyanya
Nuna mengangguk.
“Patah hati dah
gue”, oloknya lagi
Juna dan Nuna
tertawa bersama…
LEBAY.com
Kini giliran Eko menyetir. Juna dan Nuna
berganti tempat duduk. Juna tampak lelah dan mencoba merapatkan mata untuk
istirahat sejenak. Nuna dan Eko semakin heboh ngobrol ngalor ngidul, ketawa
cekikikan, nyanyi bareng dan ah entahlah apalagi. Juna sudah terbang ke alam
lain…piece ah!
Akhirnya tiba
juga di tempat yang dituju. Kepala desa dan beberapa perangkatnya sudah stand
by di tempat. Mereka bersuka cita menyambut kedatangan Juna, Nuna dan Eko.
Selagi Juna dan Eko berbincang-bincang, Nuna pun sibuk mendokumentasikan semua
aktivitas mereka di kantor lurah. Setelah selesai beramah tamah dengan sang
pemilik desa, maka Eko mempersilahkan para perangkat kelurahan untuk mengambil barang
yang ada di mobil, tak lupa mereka pun menyerahkan amplop berisi sejumlah uang.
“Sampaikan terima
kasih kami kepada Kepala sekolah. Kami juga menunggu kehadiran kalian kembali
ke desa ini sesuai surat yang sudah diajukan. Kami sangat senang sekali
menerima kehadiran kalian di sini”, begitulah kata-kata teriam kasih dari
kepala Desa Cisayong Pak Djuhana.
“sama-sama pak.
Kalau begitu kami pamit dan langsung pulang ke Bandung”, kata Eko kemudian.
Setelah
selesai bersalaman dan pamit kepada semua perangkat desa, mobil meluncur
kembali ke kota asal, Bandung tercinta.
“eh, mampir ke
Gunung Galunggung Ko. Nanti kita kan ke sana, paling nggak survey dulu di sana
ada apa aja”, pinta Nuna
“ehm, harus tanya
dong sama orang sini lokasi galunggungnya dimana?”, jawab Eko.
“Boleh juga ide
kamu, Na. Udah biar aku aja yang turun. Minggir dulu deh di depan ada orang,
siapa tau bisa kasih tau arah jalannya”, kata Juna semangat.
Terlihat
tangan mencatat petunjuk arah dari sang narasumebr. Juna menunjuk ke kanan,
kiri, lurus ke depan, dan kepala manggut-manggut. Juna pun masuk mobil dan
menyerahkan kertas catatan kepada Eko. Insting cowok memang bagus. Sekali tanya
langsung sampai tujuan. Memang agak suit dan jalannya lumayan heboh karena
rusak, tapi mereka tiba dengan selamat.
Arah pertama
setelah masuk gerbang adalah ke Pemandian air panas. Wah…Eko tersenyum puas
karena tempat itu lumayan mengundang hasrat untuk berendam, tiketnya pun murah.
Pandangan nakal Eko dan Juna mulai mengusik ketenangan Nuna.Wah janga-jangan…
“Heh, ayo cap
cus. Kita kan cuma survey ngapain lama-lama di sini?”
Kedua
cowok itu bergeming di tempat. Kedua mata mereka mengisyaratkan untuk mencebur
ke dalam kolam air panas itu.
“Hey! Halo-halo!
Buruan ih…udah siang nih. Ayo balik”, perintah Nuna
Eko
dan Juna memandang Nuna dan mulai bergerak untuk menceburkan diri bersama.
“Woiy, apaan
nih?! Jangan dekat-dekat! Awas kalo berani aku lempar pake sepatu!” seru Nuna
panik.
Juna
tetap mendekat dan tanggannya mulai mencoba menarik jaket Nuna, sementara Eko
diam di tempat.
“Juna! Jun! kamu
yah…rasain sepatuku!” seru Nuna sambil melepaskan sepatu ke arah Juna.
Untung
meleset kalau nggak udah “Plak!” kena muka Juna lumayan malu. He…he…he
Juna
senang bisa membuat Nuna panik dan marah. Eko juga.
“Dasar monyong, kalian semua!”, Sumpah serapah Nuna
dalam hati.
Keluar dari kolam air panas
mereka bermaksud untuk melihat kawah gunung galunggung. Sempat terpikir kawah
Galunggung letaknya tidak jauh seperti Tangkuban Perahu. Landai, mudah
dijangkau dan tidak melelahkan. Tapi kenyataan berkata lain. Mereka harus
menaiki tang 662 anak tangga. Hah! Mulut langsung manyun…sumpeh loh!
Karena sudah
diniatkan maka harus dijalankan. Mereka mencoba naik satu persatu. Sepertiga
perjalanan Eko sudah terengah-engah. Juna tetap maju pantang mundur. Nuna
berjalan santai menghemat tenaga. Tangannya tidak lepas dari handycam yang
dibawanya. Fuich, cape…sumpah!
Sebenarnya Nuna
sudah tidak kuat. Ia duduk lama di dua pertiga perjalanan. Kepalanya pusing dan
perutnya mual. Beberapa kali Nuna meneguk aqua dan menarik nafas panjang. Eko
yang tadi sudah mogok mulai berjalan lagi sampai mendahului Juna 10 anak
tangga. Juna berhenti sesaat dan duduk untuk berisitirahat. Jarak antara dia dan
Nuna terpaut kurang lebih 15 anak tangga.
“Masih kuat nggak
Na? kalo gak kuat udah turun aja”, katanya
“kuat, cuman mau
istirahat bentar, kepalaku pusing Jun”, jawab Nuna
Juna tidak
beranjak. Dia juga lelah, tapi sebenarnya Juna agak khawatir dengan Nuna yang
sangat kelelahan. Cukup lama mereka beristirahat dan Juna melihat Nuna mencoba
untuk melanjutkan perjalanan.
“Jun! buruan!
Gila keren banget pemandangan di sini Brow! HOH…” seru Eko dari atas tangga.
Juna nyengir.
Sempat kepikiran juga untuk menyusul Eko, tapi melihat Nuna kepayahan Juna
bertahan di tempatnya.
“Aduh…Jun. AKu
gak kuat ah. Susul Eko aja gih, aku mau di sini aja”, kata Nuna lemas
“Ayo tinggal
dikit lagi, Na! sini aku pegangin tangan kamu. Kita naik bareng pelan-pelan”,
kata Juna memberi motivasi
Juna turun
menghampiri Nuna dan menggenggam tangannya. Ia mencoba memberikan kekuatan
kepada Nuna untuk bisa sampai di atas. Susah payah Nuna berjalan dalam genggamannya
hingga akhirnya berhasil di pinggir kawah. Untunglah di samping ada warung
minuman yang agak teduh untuk duduk. Nuna pun istirahat di warung tersebut
sambil menarik nafas panjang.
“Ya Tuhan, sungguh Maha Besar Kau ciptakan
gunung sebesar dan seindah ini. walaupun berat tapi sepadan dengan apa yang
kami lihat”, puji syukur Nuna terhadap kebesaran sang pencipta.
Eko tampak
berlari-lari di pinggir kawah. Senang, cape dan kekaguman bercampur jadi satu.
Juna pun demikian. Mereka mengabadikan momen itu dengan menggunakan BB
masing-masing. Nuna hanya senyum melihat ulah kedua temannya. Hingga tanpa
sadar ada cairan hangat mengalir di lubang hidung kirinya. Nuna sudah tahu ia
sedang mimisan. Tanpa banyak bicara ia menuangkan air ke telapak tangannya
untuk membersihkan darah itu tapi rupanya tak juga berhenti.
Juna kembali ke
warung untuk minum. Ia kaget melihat Nuna tangannya penuh darah.
“Na…Nuna, kamu
mimisan?!”, tanyanya panik
Nuna hanya
mengangguk dan mencoba mengambil tisu dari kantung saku jaketnya. Juna dengan
sigap mengambil tisu tersebut dan membantu membersihkan hidung Nuna. Dengan
telaten Juna meminta Nuna untuk merebahkan dirinya di bangku warung. Ia pun
membuka jaketnya untuk dijadikan penyangga kepala Nuna.
“Ko! Eko! Sini
buruan!”, panggil Juna kencang
Eko berlari
mendekati Juna dan wajahnya berubah kaget melihat Nuna yang pingsan dengan
darah di tisu.
“Nuna kenapa Jun?
Dia terluka? Lo apain hah?!”, tanyanya lagi
“Heh, ngga
terluka Cuma Mimisan. Dia sebenarnya udah kecapean tapi aku coba paksa dia
untuk naik sampai ke sini”
“aduh! Terus
gimana nih?”, kata Eko semakin panik
“Udah tenang aja
dulu Ko, darahnya udah berhenti. Kita tunggu aja sampai dia sadar”, kata Juna
lagi
Lumayan lama Nuna
tertidur. Saat matanya terbuka dan mencoba bangun, Juna mencoba untuk
menahannya dan kembali tidur. Nuna menolak dan dan berusaha duduk. Eko
membantunya dan memberikan air minum.
“Gimana Na? udah
baikan?”, tanya Eko penuh rasa khawatir
“santai…aku gak
apa-apa lagi. Tadi cape banget, biasalah…” jawab Nuna menghibur
Eko meraba kening
Nuna dan membereskan rambut Nuna yang berantakan. Sementara Juna seperti patung
memperhatikan gadis mungil di hadapannya.
Ahhh…Nuna!
Dua
jam mereka menikmati pemandangan dan suasana kawah galunggung. Cerita dari
bapak warung tentang Eyang Semplak Waja sebagai leluhur di Galunggung menjadi
bahan cerita untuk teman-teman di sekolah. Tepat jam 15.00 mereka beranjak
turun. Nuna dan Eko berjalan bersisian, sementara Juna di belakang. Ada sebuah
rasa tertinggal di kawah Galunggung. Juna menghela nafas dan merenungkan apa
gerangan yang membuat perasaannya berkecamuk tanpa alasan.
Whatever…
Sepanjang
perjalanan pulang, Nuna lebih banyak istirahat. Hampir saja ia lupa untuk
menelpon Prabu.
“Prab? Halo…ini aku. Kami lagi
balik ke Bandung. Sorry, kelupaan nelpon”
“Gak apa-apa. Udah sampai mana
nih?”
“Ehm…baru keluar
Tasik. Oh iya mau laporan nih, urusan dah beres, kepala desanya bilang terima kasih
untuk sekolah kita”
“oh. Bagus deh. Na, kamu
baik-baik aja kan? Suara kamu agak aneh”
“aku? Baik-baik aja cumin tadi
mimisan bentar”
“kok bisa?! Kamu kecapean tuh”
Nuna hanya ketawa lirih
mendengar Prabu mulai mengomel.
“Prab, udah dulu
yah. Kupingku panas dengerin kamu ngomel melulu. Sampai besok”, ujar Nuna
“Ntar kalo sempet aku mampir deh
ke rumah”
“Hem…ya, bye”
Nuna menutup
telepon dan kembali memejamkan mata.
Take a rest, Nuna…
Hujan
mendera bumi begitu deras. Seharusnya hal ini menyenangkan untuk kumpul
keluarga dan melakukan kegiatan bersama. Tapi hal ini tidak berlaku bagi Juna.
Ayah dan bundanya pergi ke Bali untuk urusan bisnis, sementara Adiknya Tata
sibuk les bahasa Inggris. Uffh…apa yang harus aku lakukan? Tanya Juna dalam
hati. Sudah beberapa kali Juna mondar-mandir dari ruang tamu kembali ke kamar.
Berbagai kegiatan dilakukan mulai menonton acara TV, film, mendengarkan musik,
memainkan piano, membaca majalah, hingga merebahkan diri di kasur. Semua terasa
tidak menyenangkan dan hatinya kembali galau tanpa sebab. Akhirnya ia ambil
kunci mobil dan melesat pergi tanpa tujuan pasti. Selama di perjalanan Juna
menyalakan mp4 player dalam mobilnya. Ia mendengarkan lagu Melewatkanmu milik
ADERA. Suara yang merdu dan syair yang melo sangat cocok dengan suasana hatinya
saat itu. Entah mengapa bayangan Nuna dan kebersamaan mereka beberapa waktu
yang lalu silih berganti menari di kepalanya. Kadang membuat Juna tersenyum,
atau menghela nafas berat.
Ehm
Nuna…
Mobil
berhenti di area parkir toko buku terbesar di Bandung. Juna segera berlari
masuk ke dalam toko karena hujan tak juga reda. Beberapa kali ia mengibaskan
rambut dan jaket dari air hujan. Tak lama kemudian Juna menuju lantai atas
untuk mencari buku. Cukup lama Juna mencari novel yang ingin dibelinya. Saat
sedang asik memilih, seseorang menyenggol tangannya hingga buku terjatuh.
“Maaf,
mas…gak sengaja”, kata seorang perempuan sambil berusaha untuk mengambilkan
buku yang jatuh
Juna
tidak berkata apapun. Ia diam dan terpaku ketika menyadari siapa yang
menyenggolnya barusan.
“Nuna?!”,
tanya Juna
Perempuan
itupun terkejut saat namanya disebut.
“Eh,
Jun. Ehmm, maaf ya aku gak sengaja. Beneran…”, kata Nuna pelan dan sedikit
takut kalau Juna meledak emosinya.
“Oh
gak apa-apa lagi. Ehm, kamu sendirian?”
“He
eh, lagi cari buku novel nih. Kamu sendiri?”
“Idem.
Udah ketemu bukunya?”
“Udah,
sekarang mau ke kasir”
“Oh.
Kalau aku belum ketemu novelnya”
“Memangnya
kamu cari novel apa, Jun? mungkin bisa aku bantu cariin?”
Juna
menyebutkan salah satu judul novel yang dimaksud. Nuna tanpa ragu membantu Juna
mencarikan novel tersebut.
Perlu
45 menit untuk mendapatkan novel Juna. Setelah membayar mereka pun berniat
untuk pulang.
“Nuna,
kamu mau langsung pulang? Masih hujan lagi…”
“Nunggu
dulu kali. Ntar kalau hujan dah berhenti aku pulang naik angot”
Merasa
terbantu dengan kehadiran Nuna, Juna mulai menawarkan opsi kepada gadis ini
untuk mengisi waktu. Ia mengajak Nuna untuk jalan-jalan ke mall di seberang
jalan. Dewi Fortuna rupanya sedang berpihak kepadanya. Nuna dengan senang hati
menerima ajakan tersebut. Juna menyewa payung untuk mereka berdua dan mulai
menyeberangi jalan.
Ringan
sekali kaki melangkah dan hati kedua insan itupun senang melewati beberapa
konter barang yang ada di sekitar mereka. Akhirnya mereka masuk ke dalam konter
kaos distro. Juna mencoba beberapa kaos serta topi. Ia menanyakan pendapat Nuna.
Gadis itu kadang mengangguk, menggeleng, tersenyum atau menggerakkan telapak
tangan tanda tidak cocok. Begitupun sebaliknya saat Nuna mencoba kaos distro
yang dipilihnya, Juna melakukan hal yang sama. Saat sang pramuniaga menanyakan
apakah ada yang akan dibeli, Juna langsung memegang pundak Nuna dan mengajak
keluar. Kedua orang ini tak mempedulikan wajah pramuniaga yang sedikit kesal
karena ulah mereka.
Juna
dan Nuna tertawa menyadari kejadian tersebut. Lelahnya pun datang dan memaksa
mereka untuk duduk sambil menikmati minuman kotak.
“Na,
ternyata seru juga hang out sama kamu ya” puji Juna
“Masa
sih?” tanya Nuna sambil memandang Juna di sebelahnya
Juna
tersenyum dan mengangguk memastikan pujian yang dilontarkannya barusan.
Pembicaraan beralih topik tak menentu. Nuna pandai membuka percakapan yang
seru. Juna tanpa sadar terbawa arus keseruan itu. Hingga saat hujan pun reda…
“Jun…
udah gak hujan tuh. Pulang yuk”
“Oke.
Aku antar kamu pulang aja, gimana?”
“gak
usah, Jun. Ngerepotin aja”
“ih
beneran Na, lumayan kan ngirit ongkos”.
“ciyus?”
“mi
apa?” kata mereka bersamaan
“Ha
ha ha ha”, tawa mereka berdua
Uwohh…
I
love Monday. Itu adalah motto Nuna dalam mengawali hari. Ia berjalan semangat
memasuki lapangan basket. Pak Hardi sudah siap berdiri di tengah lapangan untuk
mengajarkan basket. Olah raga memang pelajaran favoritnya.
“Anak-anak,
ayo baris tiga bershaft…prittttttt!” seru Pak Hardi lantang
Semua
anak mengikuti dan meminta Eko memimpin acara warming up.
Satu
persatu gerakan dilakukan dan berhitung massal terdengar keras sampai ujung
lorong kelas.
“Oke
pemanasan selesai! Sekarang kalian lari keliling lapangan tiga kali”, perintah
Pak Hardi.
Begitulah
awal hari ini dilalui oleh anak kelas 10. Semangat pagi, sehat badan, sehat
pikiran…
Setelah
materi basket selesai diberikan, maka Pak Hardi membagi kelas menjadi 4
kelompok kecil. Setiap kelompok akan bertanding selama 15 menit kemudian
bergantian hingga beres waktu olah raga.
Nuna
kebagian kelompok tiga, sementara Juna kelompok satu. Kelompok Juna berhasil
memenangkan partai awal dengan skor 16-6. Sekarang giliran kelompok Nuna
melawan kelompok Eko. Lumayan ketat persaingan skor di antara kedua tim ini.
susah payah kelompok Nuna mengalahkan Eko cs dengan skor 12-10. Partai final
antara kelompok Juna dan Nuna. Keuntungan ada di pihak Juna, karena sempat
berisitirahat. Pak Hardi memberikan waktu 10 menit untuk kelompok Nuna take a
break.
“Prittttttt!prittttttt!
ayo masuk mulai anak-anak!”, perintah Pak Hardi kepada kedua kelompok terakhir.
Keseruan
sudah terasa dari awal pertandingan. Setiap lawan berusaha menerobos pertahanan
masing-masing untuk mencetak angka. Nuna terlihat antusias memenangkan pertandingan
ini. Ia mencoba mengambil bola dari tangan lawan dan melakukan shot three point
dari luar garis. Berhasil! Skor berubah, kelompok Nuna leading 3 angka. Juna
semakin bersemangat mengalahkan kelompok Nuna. Keringat bercucuran tidak
dihiraukan mereka. Sampai bunyi peluit menghentikan keasikan permainan kedua
kelompok. Sebagian anak mulai bubar untuk istirahat dan berganti pakaian. Juna
dan Nuna masih tetap meneruskan basket bersama Eko,Jovita serta teman lainnya.
“Na!
Nuna!”, panggil seseorang dari pinggir lapangan.
Nuna
menghentikan aktivitasnya sesaat, segera menghampiri sang pemilik suara sambil
bersorak gembira.
“Hai
Prab! Kapan datang?”, sapa Nuna
“Kemarin
sore, nih jus jambunya”, jawabnya sambil menyodorkan minuman tersebut
“wah
traktir nih, thanks yah!”
“Gimana
hasilnya Prab? Cerita dong”,
“Lumayan
deh, aku masih harus ikut beberapa tes lagi. Kalau lolos, mungkin tiga minggu
lagi berangkat ke Australia dan tinggal di sana selama 2-3 tahun”.
“Wuih
keren Prab, selamat ya! Aku doain berhasil deh, tapi jangan lupa kirim-kirim
kabar yah”
“Ehm…tapi
kenapa aku agak sedih juga kalau lolos program ini ya?”
Nuna
menatap Prabu untuk menanyakan alasannya. Prabu hanya tersenyum tipis sambil
menghela nafas berat.
“Aku
bakalan kehilangan kamu, Nun…” jawab Prabu lirih namun jelas terdengar di
telinga Nuna.
“Idih,
apaan sih Prab. Jangan mellow gitu deh, hari gini brow”, gurau Nuna sambil
menepuk pundak Prabu. Tidak ada yang tahu kalau hati Nuna pun hancur berantakan
mendengar Prabu akan meninggalkannya saat lolos program student exchange dari
Pemerintah AUSAID.
Nuna
berusaha mengabaikan perasaan itu. Ia tetap menyuntikkan semangat kepada Prabu.
Kedua remaja ini menghabiskan waktu istirahat dengan cerita Prabu seputar
program yang sedang ditempuhnya. Nuna senang sekali berkomentar jail dan
membuat Prabu tertawa lepas. Beban sesaat lepas, dan hati Prabu terasa ringan
melayang.
Girl…can
I tell you the truth?
Undangan
Pak Mansur untuk rapat pembubaran panitia FJFH Sabtu ini membuat pengurus OSIS
hadir di aula. Prabu mulai menjelaskan tujuan pertemuan tersebut serta meminta
Juna untuk menyampaikan rundown acaranya. Ternyata mereka semua akan berangkat
dari sekolah jam 05.00 dengan menggunakan bis pariwisata. Tujuan lokasi adalah
Gunung Galunggung di desa Cisayong Tasik. Semua bersorak gembira.
“Sabtu…Sabtu!”
Sebelum
bubar rapat, Prabu memanggil Nuna untuk koordinasi tentang hasil survey ke
Cisayong beberapa waktu lalu bersama Juna dan Eko.
Setelah
selesai koordinasi, ruangan aula kembali sepi tertinggal dua remaja yang duduk
di kursi belakang.
“hei,
pulang bareng yuk”, ajak Prabu kepada Nuna
“tapi
aku mau mampir dulu ke toko kue, Prab. Mau beli bahan kue pesanan ibu”
“ok,
aku temenin deh. Hari ini aku mau nganterin kemana pun nona mau”
“ihh,
apaan sih. Bener nih, kamu gak keberatan?”
Prabu
tidak menjawab. Ia memegang tangan Nuna dan mengajaknya berlalu.
Yeah…
“kring…!kring…!”,
suara telpon berdering kencang membahana.
“Halo?
Na..ini Prabu”
“Eh,
Prab. Ada apa nih? Tumben nelpon ke rumah? Biasanya ke Hp?”
“susah
banget nelpon ke Hp. lagi low bat atau mati hpnya?”
“heh
masa sih? Mati kali, belum aku charge sih…he…he…”
“Nuna,
besok aku jemput ya jam 04.00. pergi bareng ke sekolahnya”
“oh…gitu.
Sip…sip, aku tunggu deh. Aku dah siapin kue keju dari Ibu untuk kamu katanya”
“he…he,
thanks ya. Tau aja kue kesukaaanku. Jangan lupa ya besok jam 4”.
“siap
bos! See you tomorrow, Prab”
Telepon
terputus dan Nuna segera bergegas menyiapkan barang untuk pergi ke Galunggung
besok pagi.
Jam
04.00 suara mobil terparkir di halaman rumah Nuna. Prabu turun dan mengetuk
pintu. Kebetulan yang menyambut kedatangannya adalah Pak Rusli, ayah Nuna.
“Eh,
Prabu…apa kabar? Ayo masuk dulu”.
“Pagi
Pak. Kabar baik, terima kasih”
“Duduklah
dulu, Nuna sedang bersiap-siap. Sebentar lagi dia keluar kamar”.
Prabu
segera duduk ditemani Pak Rusli.
“Gimana
kabar ayah ibumu, Prab?”
“Oh,
baik-baik saja Pak. Mereka baru saja pulang dari Papua.”
“Wow,
makin sibuk aja ya. Ehm…salam untuk kedua orang tuamu ya”
“Baik
Pak, Nanti saya sampaikan”
Tiba-tiba
suara Nuna menghentikan obrolan tersebut.
“Ayah,
Nuna berangkat dulu ya”.
Nuna
menghampiri ayahnya untuk berpamitan.
“Hati-hati,
Na! baik-baik ya di sana” kata bunda Maryam
“Prabu,
kami titip Nuna ya. Baik-baik di perjalanan”, pesan Pak Rusli
“Baik
Pak, Bu. Kami pergi dulu”, jawab Prabu sembari mencium tangan kedua orang tua
Nuna.
Tepat
jam 04.30 mobil Prabu tiba di sekolah. Tampak bis besar terparkir di sana.
Beberapa anak sudah duduk dan ngobrol.
“Prab!
Spanduk mau dipasang sekarang?”, tanya Triyan
“Ehm,
boleh. Pasang aja di sisi kiri bis. Oh iya, anak-anak udah datang semua?” tanya
Prabu
“Gak
tau juga. Sepertinya Yuke lagi ngecek tuh”
“Oke
deh, aku masuk dulu ya”
Sementara
Nuna menyiapkan peralatan dokumentasi yang dibawanya dari rumah. Kamera SLR
Nicon selalu menemaninya kemanapun Ia pergi.
“Na!
ciee…nyubuh banget datangnya. Sama siapa?”
“Eh
kamu Jo. Sama Prabu, kamu sendiri?”
“Diantar
sopir. Ih, kamu enak banget sih. Kayanya Prabu siap antar jemput gitu”
“Hi…hi,
mungkin karena rumah kami searah jadi sekalian aja kali. Emang kenapa, Neng?”
“Coba
aku yang dia jemput, yah. Kira-kira dia mau gak, Na?”
“Hei,
ada apa nih? Kok aku jadi curiga. Ada rasa nih sama Prabu? Cieee…Jovita?”
Nuna
mencoba mencari tahu arah pembicaraan Jovita tadi. Rasa penasaran atau cemburu membuat
Nuna agak curiga.
“He…he,
belum lama sih Na. Sejak acara FJFH aja. Aku jadi suka mikirin dan ekstra
perhatian sama segala hal tentang dia”
Cleb…ada
gundah yang Nuna rasakan. Baru kali ini Nuna merasa sesuatu yang tidak nyaman
dan mengganggu hatinya ketika Jovita mengatakan hal tersebut.
“Hah?!
Kamu serius, Jo?”
“He
eh, beneran deh. AKu sebenarnya mau tanya kalau kamu sama Prabu sebenarnya
gimana sih”
Nuna
tercekat dan bingung mencari jawaban yang ia sendiri tidak tahu.
“Ehm,
gimana ya Jo. Kalau aku merasa kami ungh…sahabat. Ya, sahabat dekat gitu deh”
“Ah
aku gak percaya. Kalau teman-teman bilang kalian dekat banget bahkan keliatan
kaya pacaran”
Jovita
semakin gencar menanyakan hubungan Nuna dan Prabu. Bingung dan kesal bercampur
aduk sehingga membuat Nuna berniat untuk menyuruh Jovita berhenti bertanya.
Untunglah sebelum niat tadi dilakukan, Juna datang menyelamatkan suasana.
“Jo,
konsumsi udah beres? Supir jangan lupa dikasih ya…”, pesan Juna singkat
“Oh
iya, Jun. Aku bagiin dulu deh ke anak-anak sama supir”, kata Jovita sambil
berlalu pergi
Uffh,
plong! Nuna menarik nafas dan mencoba menyapa Juna yang masih berdiri di
depannya.
“Hai,
Jun!”
“ehm…kapan
datang? Bareng Prabu ya?”
“iya,
ih kok kamu tau? Ngintip yah?”
“Kalian
kan seperti prangko sama lemnya. Udah rahasia umum lagi”
“Weiss,
kamu orang kedua yang bilang itu. Masa sih?! Aku gak percaya…survey dulu ah”,
kata Nuna sembari jalan menghampiri kerumunan anak-anak OSIS lainnya.
Juna
hanya menggaruk-garuk kepalanya walaupun tidak gatal dan menatap gadis itu
berlalu.
“Teman-teman
dimohon kumpul di lapangan parkir! Kita akan segera berangkat!”, suara Prabu
dengan toanya mengejutkan semua anak yang sedang asik ngobrol.
Tampak
Pak Mansur dan Pak Hardi sudah berdiri di lokasi, bersiap-siap memimpin acara
keberangkatan rombongan TIM 13 ke Cisayong. Setelah berdoa, Pak Mansur
mempersilahkan anak-anak untuk masuk ke dalam bis. Prabu memilih duduk di
belakang bersama Eko dan Triyan. Sementara Jovita duduk bersama Nisna. Ia
memilih tempat yang tepat berada di depan kursi Prabu. Nuna memilih duduk di
belakang supir bersama Yuke. Sebagai petugas dokumentasi, Nuna harus aktif
mengabadikan setiap momen.
Nuna
berusaha untuk mengabaikan ketidaknyamanannya melihat Jovita bersemangat
mendekati Prabu.
Keseruan
dan kegaduhan mulai berlangsung sepanjang perjalanan Bandung-Tasikmalaya. Eko
dan Juna bermain gitar sesuai request anak-anak. Seharusnya itu adalah hari
yang menyenangkan, tapi Nuna merasakan sebaliknya. Ia bimbang, dan mendung
merambati hatinya.
So
bad!
Akhirnya
rombongan TIM 13 tiba di tujuan. Pak Mansur dan Prabu segera turun untuk
bertemu dengan kepala desa Cisayong. Penyambutan yang luar biasa diterima oleh
TIM 13. Musik rebana dan lengser menyambut kedatangan Prabu cs. Para warga
menyiapkan hidangan yang beraneka ragam bagi tamu istimewa dari kota tersebut.
Acara ramah tamah berlangsung cukup lama. Nuna sibuk meliput momen tersebut
dengan menerima orderan foto dari banyak orang.
“Na, ayo gentian
kamu yang difoto. Sini kameranya!”, perintah Juna tiba-tiba
Nuna segera berlari
ke barisan kepala desa dan warga yang akan difoto bersama rombongan TIM 13.
Acara pun usai dan mereka melanjutkan perjalanan ke gunung Galunggung. Nuna
sempat ciut untuk ikut naik tangga 662.
“Wah gila brow,
tinggi banget!” seru beberapa anak terkejut.
“Eh, keren lagi!
Penasaran nih, naik yuk!” kata anak lainnya
Tiba-tiba terdengar
Jovita mengajak Prabu untuk menemaninya naik ke bibir kawah Galunggung.
“Prabu, naik yuk!
Temenin kita. Nanti kalau kita gak kuat, kamu bantuin ya!” rajuknya manja
“Bantuin? Sama
Triyan Eko ajalah. Kalian banyakan gitu aku gak kuat kali”, tolak Prabu halus
Bukan Jovita kalau
mudah putus asa. Ia akan terus merajuk hingga lawannya tidak bisa menolak
permintaannya. Yup berhasil! Prabu, Eko, Triyan dan Idham mulai asik bergabung
dengan Jovita cs.
Nuna hanya diam
terpaku melihat semua kejadian yang tidak ia sangka sebelumnya. Jovita…?
“Hai! Bengong aja!
Kesambet, tau rasa loh!”, suara Yuke mengejutkan Nuna.
“Ngaco aja kamu! Aku
lagi berpikir ulang untuk naik ke atas. Cape, cuy!”, elak Nuna
“Emang sih, tapi
ngapain juga kamu di sini sendirian? Garing lagi…”, katanya pula
“Ehm…gimana kalau
kita pake jalur bawah. Kayanya seru juga kali?”, jawab Nuna
“Bener juga kamu.
Aku juga males naik tangga sebanyak itu mah. Kamu tahu jalannya?”
“kata si Bapak
warung kita tinggal ikutin jalan setapak. Terus nanti kita akan berada tepat di
tengah kawah dan bisa jalan-jalan di kawah itu, cuy”, kata Nuna semangat
“Hei, Juna! Aku sama
Nuna pake jalan alternative yah. Bilangin sama Prabu!” seru Yuke
Juna segera
mendekati Yuke dan menatap heran. Belum sempat ia menjawab permintaan Yuke
tiba-tiba Pak Mansur dan Pak Hardi sudah terlebih dahulu mengajak mereka untuk
melalui jalan alternative yang dimaksud. Tentu saja permintaan itu langsung diterima
oleh Nuna dan Yuke. Juna tampak bingung memilih jalan ke bibir kawah. Namun ia
memilih mengikuti Pak Hardi. Jalan tanah yang basah karena air hujan membuat
mereka harus berhati-hati melangkah agar tidak terpeleset. Di kanan kiri jalan
setapak itu terdapat banyak pohon kayu serta pinus. Pak Hardi dengan semangat
menceritakan masa kecilnya di Tasikmalaya kepada Pak Mansur. Beliau sudah tidak asing lagi dengan
Galunggung ini. Sementara Nuna, Yuke dan Juna asik menikmati perjalanan.
Memang benar ternyata
waktu tempuh jalur alternative lebih cepat. Mereka melambaikan tangan dan
berteriak memanggil anak lain yang berdiri di bibir kawah. Nuna melihat dari
kejauhan Prabu dan Jovita berdiri bersisian. Beberapa kali Jovita meminta
berfoto berdua bersama Prabu. Wah, Nuna merasa ilfeel. Beruntung saja Yuke bisa
mencairkan suasana hatinya dengan mengajak jalan ke dekat kawah dan berfoto
bersama. Juna menjadi fotographernya. Ia sibuk melayani sikap narsis dari Yuke
dan Nuna.
Bad day!
Sebelum kembali ke
Bandung, TIM 13 mampir ke Cipanas untuk berendam air panas. Sudah bisa
dibayangkan betapa serunya kegiatan yang satu ini. Anak perempuan mandi di bak
air panas ruang tertutup, sementara anak laki-laki di kolam luar. Nuna yang
sedang bad mood memutuskan tidak berendam. Ia asik duduk sendiri di bawah
warung tenda mengamati hasil jepretannya.
“Na, kamu gak gabung
sama anak cewek laiinya?”, tanya Prabu heran
NUna menggeleng dan
mengatakan tidak berminat. Prabu meletakkan telapak tangannya di pelipis Nuna
untuk mengecek apakah gadis ini baik-baik saja.
“Kamu gak sakit,
kok. Kenapa sih? Lagi palang merah ya?” tanyanya lagi penasaran
“ihhh, nanya apa
interogasi nih. Kepo deh”, jawab Nuna sedikit kesal
“udah gih, nyebur
aja. Tuh si Eko manggil terus!” perintah NUna lagi
Prabu sempat berdiam
diri sesaat dan menatap Nuna dengan perasaan khawatir. Nuna pun berdiri dan
menarik tanggan Prabu untuk segera bergabung dengan teman-temannya. Awalnya
Prabu menolak namun Nuna dengan gesit mendorong Prabu masuk ke dalam kolam.
“He…he, sorry Prab”,
kata Nuna senang.
Prabu menyiramkan
air hangat ke wajah Nuna sambil mengomel tak menentu.
Kejadian itu hanya
berlangsung sebentar, karena setelah itu Prabu sudah tenggelam dengan
kenikmatan air hangat dan candaan teman-temannya.
Hadooh!
Rupanya Nuna tidak
sendiri. Tiba-tiba Juna datang dan duduk di hadapannya sambil memegang gitar.
“Heh, kok?!” tanya
Nuna terkejut
Juna menggeleng dan
mulai memainkan gitarnya pelan
“Males ah, lagian
lupa gak bawa baju ganti”, jawabnya lagi
Nuna tidak terlalu
merespon jawaban Juna. Ia kembali sibuk dengan kameranya. Juna menyanyikan lagu
Maroon-5 when the day light dengan semangat.
Nuna menoleh dan
mencoba menyanyikan lirik lagu yang sedang ngehits saat ini. Sejenak Nuna
melupakan kebeteannya. Ia dan Juna bergantian memainkan gitar dan menyanyikan
lagu bersamaan. Suasana berubah ceria dan mendung kelabu itupun berubah menjadi
biru. Kabut yang turun tidak mengganggu kehangatan yang dirasakan oleh kedua
remaja tersebut.
Getar dawai
gitar menghiasi kabut Cisayong…uwoooh
Semenjak acara ke
Cisayong, Nuna merasa sedikit salah tingkah berada dekat dengan Prabu. Ia
merasa khawatir dengan Jovita yang sewaktu-waktu melihat kebersamaan ataupun
menanyakan status di antara mereka. Ia mencoba bersikap biasa walaupun Prabu
sering menunjukkan perhatian kepadanya. Kadang Nuna menghindar ketika Prabu
mengajak pulang atau makan bareng di kantin sekolah. Ia lebih suka pergi
sendiri atau bareng sama Yuke, Eko dan Juna. Rupanya hal itu menjadi peluang
bagi Jovita untuk semakin mendekati Prabu. Pepatah Jawa weting tresno jalaran
soko kulino ternyata manjur. Hanya perlu waktu satu bulan berita jadian Jovita
Priscilla dengan Prabu Mahardika menjalar di seluruh jagad raya. Semua
menyambut bahagia, dukungan mengalir kepada pasangan baru tersebut. Tidak ada
yang peduli hati Nuna yang remuk bagai serpihan debu.
Lamunan Nuna
terganggu dengan dering Hpnya. Agak malas untuk menjawab, Nuna pun menyapa
pelan sang penelopon di seberang sana.
“Nuna! Ini Prabu.
Sibuk ga? Hang out yuk”, ajak Prabu semangat
“Hei Prab. Aduh
males ah, aku lagi pw nih”, tolak Nuna datar
“PW? Apaan tuh?”
“ah, katrok! Posisi
wuenak tau…”
“oh, ha…ha…ya udah
aku main deh ke sana”
“terserah kamu aja.
Kalau mau ke sini buruan! Ntar aku keburu tidur”
“sippp lah. Lima
belas menit lagi, ya”
Nuna tidak menjawab
dan langsung menutup hp. Rasa senang dan gelisah campur aduk. Inikah rindu?
Tidak lama kemudian
suara gerbang dibuka. Nuna melihat dari balik kaca jendela kamarnya siapakah
yang datang. Hatinya langsung berbunga-bunga saat sang jejaka berkacamata
keluar dari mobil.
“Prabu!”, jeritnya
dalam hati.
Nuna segera
mematutkan diri di depan kaca rias. Ia menghias pipinya dengan bedak tipis dan
berganti baju yang bermotif bunga-bunga. Tak perlu menunggu lama, Prabu sudah
dapat menemui gadis imut bernama Nuna.
“Tumben nih mampir?”
sapa Nuna
“Kangen juga sama
kamu, Na. Sebulan ini kita kan gak pernah pulang bareng. Setiap kali aku ke
kelas kamu pasti udah kabur sama Eko dan Yuke”
“Wah, gimana yah?
Ntar ada yang ngambek kalau kita jalan bareng?” goda Nuna
“Ih, apaain sih?”,
elak Prabu malu
“apa kabarnya nih
yang baru jadian?”, tanya Nuna lagi
“biasa aja. Jadi
kagok sih, abis kemana-mana harus bareng. Terus…harus sering telpon sebagai
tanda perhatian katanya”, kata Prabu sambil nyengir.
“bagus dong. Kan
cinta?”
“udah ah, malas
bahas tema cinta. Eh, kamu kenapa sih ngilang terus. Udah gak mau temenan lagi
sama aku?”
“bukan gitu, Prab.
Aku jaga perasaan Jovita. Kasihan kan kalau dia jadi salah sangka sama
kedekatan kita”
“tapi Na…aku merasa
lebih nyaman bareng sama kamu deh. Bisa apa adanya, santai terus semuanya jadi
seru”, jawabnya lirih
“belum terbiasa
kali, Prab. Tunggu deh beberapa bulan lagi, pasti kamu klik sama Jo”, kata Nuna
menguatkan hati
Prabu tertunduk dan
memainkan rambut dengan jarinya. Helaan nafas berat keluar dari mulut Prabu.
Suasana hening menciptakan kebekuan di antara mereka. Sampai akhirnya Prabu
membuka suara.
“Na, aku lolos tes
tahap akhir. Mungkin dua minggu lagi aku harus ke Ausy”, kata Prabu sambil
menatap Nuna. “Sepertinya aku gak bisa membawa beban saat pergi nanti. Ehm
maksudku, aku mau putus aja sama Jovita, Na”
Nuna sama sekali
tidak menduga Prabu akan mengeluarkan pernyataan semudah itu. Ia tidak berani
memotong perkataan Prabu. Hatinya berdebar-debar menunggu kalimat apa yang akan
keluar berikutnya.
“Menurut kamu
keputusanku benar gak? Aku tidak mau Jovita terikat hubungan sama aku, Na.
Takdir kan gak ada yang tahu. Mungkin aja suatu hari nanti aku atau Jovita
bertemu dengan orang yang tepat dan itu akan lebih baik dari sekarang, iya
kan?” jelasnya lagi
Prabu berharap
dukungan dari Nuna untuk keputusan yang akan diambilnya.
Nuna
menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata,”Prab, aku ngerti keputusan itu…tapi
Jovita belum tentu bisa menerima”
“Yah…tapi aku mau
coba bilang sama dia. Semoga aja Jo bisa terima. Lagipula perasaanku gak
terlalu dalam sama dia”, sahutnya lirih
“Wah, orang stress
nih. Gak cinta kok jadian?”, tanya Nuna kesal
“Yah, sebenarnya
waktu itu aku iseng. Satu sisi aku senang dapat perhatian lebih dari Jo,
sementara sisi lainnya dia bukan tipe gadis yang aku suka. Tiba-tiba dia nembak
aku di depan teman-teman kita. Antara senang dan kasihan kalau cintanya aku
tolak makanya kami jadian aja”
Kalimat terakhir
benar-benar membuat Nuna sesak nafas. Ya, Tuhan ternyata Prabu bisa
bersandiwara juga.
OMG!
Siang itu Nuna
melihat Jovita menangis tersedu-sedu di toilet perempuan. Matanya sembab dan
tisu bertebaran dimana-mana.
“Jo…kamu kenapa?”,
tanya Nuna pelan
“Na! aku putus sama
Prabu!”, katanya dengan suara parau
“Putus? Emang kapan
mutusinnya?”
“tadi waktu
istirahat. Jo gak bisa terima alasan Prabu mutusin dia”, jelas Nisna sambil
menepuk pundak Jovita
“Na, bantu aku untuk
balikan lagi sama dia dong. Aku gak keberatan kalau dia mau ke Ausy. Aku juga
gak keberatan hubungan jarak jauh. Aku gak mau putus sama dia. Tolongin aku,
Na”, pintanya
Nuna terdiam dan
bingung harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk dan mengusap punggung tangan
Jovita pelan.
Waduh?!
Waktu berlalu begitu
cepat. Nuna tidak berhasil membuat Prabu mengubah keputusannya. Tampaknya
Jovita pun terpaksa menerima PHK akan cintanya. Tepat hari Sabtu Prabu meminta
Nuna dan beberapa temannya untuk mengantar ke bandara. Hari itu Prabu akan
terbang ke Ausy dan menetap di sana selama beberapa tahun. Sebelum masuk
boarding pass Peabu menitipkan surat untuknya dan meminta Nuna membacanya
setelah pesawat lepas landas. Ah sinetron banget!
Satu persatu Prabu
menjabat tangan dan berpelukan dengan Eko, Triyan, Idham, Juna dan Yuke. Saat
dengan Nuna, Prabu hanya mengusap rambut dan memegang tangan gadis itu erat
seakan enggan untuk dilepas.
“Aku pergi dulu, Na.
Baik-baik ya selama aku gak ada. Ehm, balas emailku gak pake lama!” katanya
sebelum berlalu.
Nuna tersenyum dan
sekuat tenaga menahan butiran air yang menggenang di matanya.
“Selamat jalan, teman! Hati-hati di negeri orang.
Semoga kamu selalu sehat dan sukses selalu”
“Thanks Na!”
Hah…kenapa jadi
mellow gini yah suasananya.
Prabu masuk boarding
pass dan melambaikan tangan.
Nuna membaca surat
Prabu setibanya di rumah. Isi surat yang tidak terlalu panjang namun membekas
dalam hati.
Dear Nuna,
Aku berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu dalam suasana yang
lain.
Aku bermimpi kita bisa lebih dari sekedar teman dekat.
Karena kamu selalu membuat hari-hariku biru
Namun aku takut untuk memulainya.
Aku takut kehilangan kamu saat ada kerikil atau ombak menghadang
Aku takut kebersamaan kita menjadi dingin dan beku seperti es jika itu
terjadi
Aku hanya mau melihat kamu bahagia saat kita bersama
Jika boleh berharap aku mau kamu mengisi semua hari dalam hidupku
Tapi aku juga tidak mau membuat harapan semu
Tetaplah menjadi Nuna yang kukenal
Semoga kamu selalu bahagia dan jangan lupakan aku, ya! Awas!
Temanmu,
Prabu
Hua…hua…
Dua bulan berlalu
tanpa Prabu. Nuna mengatur irama hidupnya agar tetap semangat dan ceria seperti
dulu. Ada kebiasaan baru yang Nuna lakukan saat ini, yaitu menciptakan lagu
romantis.
Tidak ada yang tahu
lagu itu ditujukan untuk siapa atau alasan tertentu. Misterius…
Tiada waktu berlalu
tanpa gitar di pangkuan Nuna.
“Na, pinjam gitarnya
lah”, kata Eko tiba-tiba
“Wuidih, sejak kapan
kamu bisa main gitar Ko?”, tanya Nuna heran
“semenjak gadisku
ditinggal pujaan hatinya”, jawab Eko santai
“gadisku? Gadis yang
mana?”
“gadis yang ada di
depanku, masa kamu gak kenal?”
“hah, Nuna
maksudnya?” teriak Juna dari luar kelas
Eko tersenyum tipis
sambil terus memainkan gitar
“Hei brow, jangan
makan tulang kawan dong. kamu harus tanding main gitar dulu sama aku. Siapa
yang terbaik dan dipilih Nuna barulah menjadi cowoknya, iya gak Na?”, kata Juna
lagi
“Wah, kalian udah
takabur nih. Gile brow, kamu gak takut Nisna cemburu?”, kata Nuna bercanda
Eko manyun dan
menggelengkan kepala.
“Ha…ha…dasar playboy
cap kadal! Ayo ah cabut ke kantin”, ajak Juna lagi
Nuna mulai terbiasa
dengan candaan Juna dan Eko yang sering menggodanya. Menurut isu yang beredar
salah satu dari mereka menaruh hati padanya. Tapi untuk saat ini Nuna hanya
berkata whatever!
Sembari menuruni tangga Nuna menyanyikan lagu
I am single and very happy J
THE END
tes, ini bukan buatan admin muti ya :D
Labels: ekoo, juna, love, nuna, prabu, story