Megan Fox? Eh ▲
Hi My name is Mutiarasyaa! Im going to sixteen and SHS too. This is my project blog, so i put my 'absurd' stuff here.
Im a digi-art-work-er and stud-ent. Secuil of Precious Femind Blogger Community
hey, GUE INI GUE. ▲
social media? ask me by my twitter!
Basketball in Love
Thursday, March 7, 2013 | 6:42 PM | 0 letters


5 Februari
Waktu sudah menunjukkan pukul 16:30, aku segera bergegas memasuki ruangan osis untuk acara rapat mingguan. Sudah dua minggu aku tidak berkutat dengan buku catatan keacaraanku. Dan dua minggu yang lalu sudah, posisiku digantikan oleh seorang calon anggota osis.
                Bulan kedua di tahun baru, banyak dari teman-temanku yang sudah membicarakan soal hari valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari. Cokelat, bunga, boneka, dan kencan telah mereka rencanakan.
                "Pol, lu ngga rencana buat bagi-bagi coklat?" tanya Vanya, salah satu teman karibku.
                Aku menggeleng, "Rasanya sih nggak ada acara gitu di agenda gue.." Vanya langsung menatapku lekat.
                "Apa?! lo masih waras kan?" Vanya mulai mengguncang-guncangkan badanku.
                "Lah, orang gue lagi ga suka-sukaan, masa harus maksa bagi-bagi sih? Lagipula dompet lagi kering nih!"
                "Minimal kasih sama ketua mu tuuh.. itu dateng orangnya!" Vanya mulai menyenggol-nyenggolku.
                Harry, ketua osis kami. ia memiliki wajah yang bisa dikatakan 'ganteng' dibandingkan anggota osis cowok lainnya. karena hal itu dan juga posisinya Harry pasti dielu-elukan oleh anak cewek satu sekolah, kecuali aku.
Sifatnya sangat-sangat buruk di mataku. Tatapan dingin, tawa sinis, dan keegoisannya terasa sangat menyala-nyala di mataku. Wajah tampan itu tidak membuatku melupakan kejadian saat aku kelas 7.

                Hari itu aku mau menemui pak Jafar di ruangannya. kebetulan kalau mau kesana harus menyebrangi lapangan. Aku membawa netbook serta setumpuk buku paket milik teman-teman yang tadi dikumpulkan. ketika melewati lapangan, terlihat banyak anak laki-laki yang asik main basket. Di bagian punggir geng CECE alias cewe centil lagi rapat sekaligus nontonin anak cowok yang lagi main basket.
                Karena waktu aku mempercepat langkah ketika melewati lapangan yang ramai dengan cowok-cowok yang main basket.
                Ketika aku mempercepat langkah tak kusadari ada bola basket yang mengarah ke wajahku, dan mengenai wajahku, aku lantas menjatuhkan bukuku. terdengar ada beberapa anak tertawa. Aku langsung memunguti buku secepatnya, namun kepalaku sngat pusing, sehingga rasa berputar-putar menjalari kepalaku.
Aku melakukannya secepat yang aku bisa, buku paket terlihat acak kadut di tanganku. Terlihat seorang cowok berseragam tim basket berjaan ke arahku. Aku yakin bahwa orang ituah yang membuat wajahku menerima tamparan dari bola basket. Aku berfikir bahwa cowok itu akan meminta maaf, setidaknya meminta maaf. Dan ternyata, "kena ya?" ia tersenyum aneh. Ketika melihat cairan merah keluar dari hidungku, tawanya tidak dapat ia tahan, dan ia menunjuk hidungku sambil berkata dengan kerasnya "yah gitu aja mimisan?!" dan ia kembali dengan tim basketnya, tanpa meminta maaf dariku. Meberapa anak tertawa kecil melihat betapa memalukannya diriku ini.
               
Yup, cowok itu adalah
Harry, ketos sekaligus musuhku. Vanya yang kebetulan ada di TKP memberitahuku bahwa memang Harry-lah yang melempar bola basket tak berdosa itu ke arah wajahku.

                Semenjak itu aku tidak pernah menyukai satupun hal dari dirinya. Cakep, iya, cuma  aku ga suka. Dua tahun sudah kejadian itu berlalu, namun Harry tidak pernaah mengingat bahwa ia mempunyai kesaahan padaku.
*
Minggu depan, lebih tepatnya tanggal 12 Februari ini, sekolah akan mengadakan pensi. masing-masing kelas diharuskan mengirimkan dua jenis penampilan seni. Ini merupakan pensi terakhirku di SMP. Ya, aku, Vanya, dan “kau tahulah siapa dia” sudah duduk di kelas 9. Beberapa bulan lagi, UN menanti kami.

"Ya teman-teman, kalan udah pada tau ada pensi minggu depan?" tanya Gilda, ketua kelas kami. "Ini merupakan pensi terakhir kita di SMP, so, siapa yang bakal ngewakilin?"
Hening... "Gimana kalo nyanyi plus musik, ya gitar gitu daah!" suara Eva memecah keheningan. beberapa anak mengangguk-angguk, sedangkan yang lainasih sibuk berpikir.

"Oke ditampung dulu, kalo buat jenis lain?" Gilda mengoper tatapan ke seluruh murid.
"Drama cinta......" Vanya berguam.
Sejenak hening, "IDE BAGUS!!!!" 70% murid menerima gumamn Vanya.
"Jadi pensinya vocal instrumental dan drama? Fix! Sekarang siapa yang mau jadi penulis naskah drama? Hm?" gilda melirik ke arah Dafa, anak kesayangan guru Bahasa Indonesia kami.
"Duh janan gue dong..." Dafa memasang wajah memelas.
"Ayolah, temaya cinta, tp jangan cinta banget, bisa-bisa panitia marah Daf! oke?"
"I need somebody else, to help me." jawabnya singkat.
"Gimana kaloo, Donna aja? Dia kan lagi bunga-bunga diterima Farhan..." Celetuk Eva dari belakang.
"Serah deh!" Donna tersenyum pasrah.
"Okay!  Deadline naskahnya mau kapan Daf? Don?"
"Lusa bisa deh.." jawab Dafa enteng.
"Whaat? lusa? lo gila daf?" Donna menggebrak meja.
"Kan gue yang nulis Don, lo cuma ngasih jalan ceritaa~" Donna pun terdiam.
“Eh bentar, kalo yang drama mereka berdua, yang music siapa dong?” Tanya Raldine dari bangku sebelah.
“Gitar ya?” Vanya mengoper tatapan, dan tatapannya berhenti ketika aku ada di bola matanya. “Pol, lu aja ya? Kan elo jago main gitar!”
“Eh Panye, ngapalin chordsnya susah breh!” Aku mengeluarkan alasan-alasan yang nggak penting. “Lagipula gitar gue ga ada colokan buat ke speaker..”
“Kan nontonnya juga LIVE POLY!!” Semuanya bersorak ‘’huu’’ kepadaku.
“Oke, elo yang main gitar. Yang nyanyi siapa?” Gilda duduk di kursi guru, layaknya memang dia yang menjadi wali kelas.
“Sepasang menjadi vokalis, Poly yang mengiringi. Pasangan itu, mmm.. Raldine dan Egan, gimana?”
Semua mengangguk setuju. “Vanya, kamu maunya lagu apa?” ucap Raldine.
“Yang ngebeat? Atau mau yang romantis? Gue sih terserah aja..” Ujarku.
“Katanya susah ngafalin chordsnyaa…” goda Vanya. Aku hanya tersenyum kecut.
“Dua lagu? Gimana? Kalian kuat ga?” Tanya Gilda.
“Boleh..” aku, Raldine dan Egan saling bertukar pandang.
“Lagu Haven’t Met You Yet, cocok tuh!” Ujar Donna.
“Good choice Don! Yang satu lagi, More Than Words ya?” Aku memohon.
“Ya deh, aku juga udah hafal dikit dari lagu itu.” Gumam Egan.
*
9 Februari
Tiga hari sebelum PenSi, aku, Raldine dan Egan menggelar latihan kedua. Lagu Haven’t Met You Yet kami tempatkan di penampilan pertama. Disusul dengan penampilan drama, dan ditutup dengan lagu More Than Words. Kebetulan aku sudah cukup familiar dengan kedua lagu itu, jadi, chordsnya-pun mudah kuingat.

“One two three, go!”
….
Latihan drama, kisah Little Red Riding Hood telah Dafa susun ulang dengan menyelipkan kisah cinta sang gadis dengan seorang tukang kayu dekat rumah neneknya. Kehadiran Donna benar-benar membuat Dafa lancar menyusun ulang cerita dongeng itu. Entah apa yang terjadi dengan mereka berdua. He…

“Mm.. Gan, lo bisa jagain gitar gue bentar ga? Gue mau ke kamar mandi dulu ya.” Aku menaruh gitarku di meja Egan. Dan pergi melangkah ke kamar mandi. Aku kembali ke kelas dan menemukan semuanya masih melakukan latihan drama. Aku duduk kembali di bangku, menonton aksi Vanya sebagai sang gadis bertudung merah.

*
11 Februari
Besok adalah hari yang paling kami tunggu. Kostum sudah disiapkan, para aktor dan aktris sudah menghafal teks dan melakukan improvisasi yang luar biasa. Aku, Raldine dan Egan pun dipuji habis-habisan oleh-teman-teman. Rasanya penampilan kami bakal tidak ada apa-apanya ketika Egan dan Raldine tidak mengeluarkan suara emas mereka.

Bu Ratna datang untuk menonton gladibersih kami, ia merupakan wali kelas tersayang kami. Sebenarnya kami tidak ingin mempertontonkan penampilan di depannya sekarang, seharusnya ini menjadi surprise di esok hari.
Tapi apa daya…
…..
12 Februari

Hari ini PenSI akan dilaksanakan di panggung aula sekolah. Aku membawa gitarku kemanapun aku pergi, aku tidak ingin kehilangannya. Nomor Egan dan Raldine terpampang besar di layar handphoneku. Satu persatu kelas telah menyelesaikan pentasnya, sorakan dan tepuk tangan tak ada habis-habisnya siang itu. Penampilan kelas kami ditentukan ada di jam terakhir, ya, karena kami anak kelas 9.

Dua pentas sebelum pentas kami, satu pentas, dan yeah, Its Our Time!

Aku bersiap dengan gitarku, dan mengetes suranya agar pas dengan suara Raldine dan Egan. “One two thee go!”

Aku memetik senar gitarku dengan percaya diri. Raldine dan Egan tampil dengan sempurna, mereka bernyanyi layaknya sepasang kekasih yang sedang menyimpan cinta. Eah.. Aku jadi iri..

Penampilan pertamaku sudah selesai, aku menunggu di backstage sambil mendengarkan suara Vanya yang beradu dengan para aktor dan aktris lainnya. Drama berlangsung selama 20 menit, dan penampilan terakhirku akan dimulai lima menit lagi. Otomatis aku mencari Raldine,
“Gan, liat si Raldine ngga?” Aku menepuk pundak Egan, dan ia menggeleng.
“Perasaan tadi ada di sebelah gue, trus ngilang deh!”
Mampus! Ujarku dalam hati. “Hei! Si Raldine Pingsan!” Teriak salahsatu anggota tim backstage. Aku langsun menghampiri Raldine yang terduduk di kursi lipat, aku menepuk pipinya. “Dine, lo gapapa?”
Raldine menggeleng lemas, “Kepalaku pusing, aku nggak yakin bisa nyanyi depan banyak orang.” Ia mengjela napas panjang, “Bisakah kau menggantikan posisiku?”
Aku menenteng gitarku naik ke panggung. Egan sudah bersiap dengan mic-nya, dan Raldine duduk di kursi lipat tersenyum memandangku. Kami bertiga siap untuk tampil, para aktor da aktris sudah berdiri di belakang kami. Penonton bertepuk tangan ketika aku memetik gitarku, dan diantara mereka ada “kau tahulah siapa dia” yang tersenyum ke arahku, aku tidak memperdulikannya. One two go!

Saying I love you,
Is not the words,
I want to hear from you,
It's not that I want you,
Not to say but if you only knew,
How easy,
it would be to show me how you feel,

More than words,
is all you have to do,
to make it real,
Then you wouldn't have to say,
that you love me,
Cause I'd already know

Entah mengapa pandanganku tertuju ke arah seorang cowok berjas di kursi ujung, Harry. Aku segera mengalihkan pandanganku ke guru-guru dan adik-adik kelasku.
“What would you do,
if my heart was torn in two,
More than words to show you feel,
That your love for me is real,”

Lagi-lagi pandanganku tertuju kea rah Harry, ia tersenyum kepadaku, dan bodohnya aku langsung lupa chords. Untung saja Raldine dan Egan menutupi kesalahanku itu, teman-teman di belakangku juga berbuat heboh, jadi tidak ada yang akan menyadari aku melupakan satu bar chords. Hehe

“What would you say,
if I took those words away,

Then you couldn't make things new,
Just by saying I love you,”

Akhirnya penampilan kami berakhir. Penonton bertepuk tangan dengan meriah, kami semua memberikan penghormatan terakhir kepada penonton, dan kemudian turun panggung. Vanya, Raldine, Dafa, Donna, Mamat dan Gilda menangis terharu seusai pertunjukkan. Aku tidak kuasa menahan rasa bahagia, aku memeluk Vanya yang masih berurai air mata.

Aku mengemas gitar serta partitur dan bersiap pulang. Tiba-tiba ‘kau tahulah siapa dia’ datang menghampiriku dan berkata, “Selamat ya, penampilanmu sangat menakjubkan!” Aku hanya tersenyum sinis terhadapnya. Ia mengulurkan tangan untuk menjabat tanganku, tapi aku menghiraukannya dan pergi melangkah ke luar kelas.

*
13 Februari

H-1 menuju hari Valentine. Ya, jujur saja aku tidak menyiapkan apapun untuk hari esok. Berbanding terbalik denganku, Vanya sudah sibuk membuat list orang-orang yang akan ia beri cokelat.

“Pol, menurut lo siapa aja yang harus gue kasih?” Vanya menggenggam buku catatannya sambil memutar pulpennya.
“Hmm.. Semua anak di kelas, apalagi si Dafa, dia kan udah banyak bantu di Pensi kemaren.” Ujarku.
“Hmm.. Boleh deh semuanya, yang lebih spesifik lagi orangnya, siapa ya?”
“Berilah cokelat kepada Harry-mu.. Hehe..” Aku terkikik pelan, Vanya langsung memukul bahuku.
“Harry itu buatmu, bukan buat aku wew!”
“Apaan sih?! Kenal aja ngga sama orangnya!” aku berbohong.
“Halah, bohong kau ini! Eh tau ngga, dari tadi pagi ya, setiap kamu ngelewatin si Harry, dia ngeliatin kamu loh!”
“Hah masa sih? Tapi EGP ah!”
“Heh jangan gitu, ntar bisa-bisa kamu suka dia lo!”
“IMPOSSIBLE!” Beberapa menit dari kejadian itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan ‘kau tahulah siapa dia’.
*
14 Februari

Vanya berkeliling kelas, memberikan cokelat pada masing-masing anggota kelas. Ia menarikku untuk mengantarkan cokelat kepada salah satu cowok di kelas sebelah yang ia sukai, Rony.

Melihat Vanya yang malu-malu kucing saat memberikan cokelat kepada Rony membuatku sedikit geli. Kok cewek-cewek mau-maunya sih ngasih cokelat segede gaban ke cowok yang ngga ngasih harapan samasekali, ujarku dalam hati.

Hingga akhir sekolah, tak ada yang aneh.
*
17 Februari

Bel istirahat telah berbunyi, siswa langsung menghambur ke luar kelas. Vanya menarik bajuku menuju lapangan basket, alasannya untuk melihat Rony yang mau tanding lawan adik kelas. Ya, aku ikut aja, daripada di kelas nggak ada pekerjaan. Kubawa buku sketsaku serta pensil dan penghapus.

Siang itu cukup panas untuk bermain basket, namun para anak laki-laki tetap bermain basket tanpa mempedulikan keringat mereka yang bercucuran. Aku duduk di sebelah Vanya yang asyik menonton Rony bermain basket. Karena panas yang begitu menyengat aku tidak bisa memfokuskan diri untuk menggambar, tiba-tiba seseorang berdiri didepanku, menghalangi cahaya. Harry.

“Ada apa lo ke sini?” Tanyaku sinis.
“Hmm..” Ia mesem-mesem sendiri. Beberapa anak perempuan berkasak-kusuk di ujung lapangan. Harry menyodorkan sebuah bunga kepadaku, “Sudah lama aku menyimpan perasaan ini kepadamu. Rasa ini tumbuh lebih besar ketika kau selalu menatapku saat PenSi kemarin, hingga kau kehilangan control gitar..”

Mampus, kok dia ngeh sih! Aku menggerutu dalam hati, ku lirik Vanya yang menatapku geli.

“Walaupun hari kasih sayang sudah lewat, aku yakin hari apapun merupakan hari kasih sayang. Will you be my valentine?”
*
Rasanya ada petir menyambar kepalaku. , Apa yang harus aku lakukan?! Kalo nerima, gak banget, kalo nolak juga pasti bakal jadi kasak-kusuk.. Aku terdiam sejenak, “Gue bakal mempertimbangkan hal itu, asal dengan satu syarat.”
“Apapun itu..”
“Tolong bawain bola basket. Itu aja.”
Harry pergi ke mengambil bola basket dan memberikannya kepadaku. Harry menatapku penuh harap, aku berjalan mundur, mengangkat bola basket dan melemparkannya ke arah Harry.
Duk!
“Kena ya?”


 The end. 
Maaf ceritanya gaje, dan kayak ngegimanain sosok cowok. Inti ceritanya, si Polly ini balas dendam :)

Labels: ,


Older Post | Newer Post